Wacana  perbincangan tentang partai  politik  dalam euphoria Reformasi sangat menonjol. Banjir partai politik meminjam  istilah  Pak  Amin  sangat mewarnai   panggung politik. Ini menunjukkan bahwasannya representasi  ketiga peserta  Pemilu  selama  kurang lebih  32  adalah  sebuah manipulasi belaka. Banyak kalangan yang tidak tercakup di dalamnya,  sehingga begitu dibuka kran  pendirian  Partai Politik,  bak  air  dari  bah  meluncur  dengan  derasnya manakala bendungan telah bobol.

Hal inilah yang pernah menjadi sorotan pertama dari orang  pertama dari negara utama demokrasi  yakni  George Washington. Ia memandang bahwasannya partai politik hanya akan  menjadi preseden keterpecahan  kepentingan  bangsa. Setiap  individu,  dan komunitas memiliki  aspirasi  yang khas yang tidak bisa digeneralisir sedemikian rupa  dalam sebuah wahana kelembagaan  tertentu   semisal   partai politik.  Jika setiap aspirasi tersebut harus  tertampung maka  adalah kemestian terjadi  sebuah  banjir   partai politik. Jika  partai politik diibaratkan air,  maka  jumlah kuantitas yang melebihi batas dari wadah yang  disediakan adalah   potensi  yang sangat  besar  untuk   melahirkan bencana.  Sedikit  saja wadah  (kelembagaan)   mengalami kebocoran akan berakibat fatal sekali.

Tidak  tersedianya managemen yang memadai, hanya akan menjadikan air menjadi bencana  daripada  sebuah manfaat. Inilah  gambaran  yang pernah ditenggarai George Washington dalam menilai partai politik secara pesimistik.

Pandangan  yang lebih optimistik tercermin  dalam tulisan  Samuel  E.  Huntington  yang  meletakkan  partai politik  dalam ritme pertumbuhan, dari  tahap  faksional, polarisasi,  perluasan  dan  kelembagaan.  Pandangan  ini setidaknya  melihat  bahwasannya kinerja  partai  politik akan memberikan manfaat, jika antara wadah dan isi saling memahami  satu sama lain. Partai politik sebagai air  mau ditata dalam rule of game telah disepakati sebagai bentuk wadah.  Dan  rule  of  game sebagai  wadah   memberikan kesempatan  partisipasi dan kompetisi yang  bebas,  adil, jujur dan bertanggungjawab.

Dengan pandangan ini,  partai politik  akan memberikan  manfaatkan  yang  besar   bagi pertumbuhan energi  atau partisipasi  yang  memungkinkan sistem kenegaraan dapat berjalan dengan baik.  Dari   dua  pandangan tersebut  setidaknya   untuk mencermati posisi umat Islam, yang dalam tataran normatif ditempatkan  sebagai ummatan wasatha (umat  pertengahan). Di  mana  dalam umat Islam sendiri juga  timbul  berbagai bentuk  aspirasi baik atas nama organisasi  dan  individu yang  mempunyai political  will untuk  mendirikan   dan terlibat   langsung  dalam  percaturan partai   politik nasional.

Memang dalam periode Orde Baru ,  representasi umat Islam  sedikit  banyak  tercakup  dalam  PPP   yang sebelumnya  memang berasas Islam, akan tetapi apakah  PPP mewakili umat Islam masih bisa diperdebatkan lebih  jauh. Keinginan  untuk  mendirikan partai politik  baru  dengan komponen   utama   umat  Islam   adalah   fenomena   yang mengugurkan  thesis bahwasannya PPP  adalah  representasi umat Islam.

Partai Politik dan Umat Islam

Keterlibatan  umat  Islam dalam  urusan  kenegaraan dalam  pandangan  Syaikhul Islam  Ibnu  Taimiyyah  adalah tugas rohani yang tak terpisahkan dari ibadah umat  Islam dalam  percaturan kenegaraan. Keterlibatnya  akan  sangat menentukan  nasib  umat  Islam  –baik  bagi  kepentingan komunitas  Islam  dan masyarakat pada  umumnya–  melalui penentuan  arah  kebijaksanaan negara  menuju  masyarakat “baldatun  thoyyibatun wa rabbun ghafur”. Hujjatul  Islam Al-Ghazali  juga menekankan pentingnya  partisipasi  umat Islam dalam  amar  ma’ruf nahi dari  umat  Islam  kepada masyarakatnya.  Ketidakpedulian umat Islam kepada urusan politik bangsa akan menjadikan salah satu sebab runtuhnya sebuah bangsa, sekaligus umat Islam itu sendiri.

Pandangan  kenegaraan Ibnu Taimiyah dan  Al-Ghazali ini   menempatkan   dan   mengajak   umat   Islam   untuk berpartisipasi,  mengevaluasi  dan  mengkritisi   praktek kenegaraan, sebagai bagian tak terpisahkan dari organisme kenegaraan. Pandangan ini dipertegas oleh Dr. Muh.  Kurdi dalam kitabnya Aqwaluna Wa Af’aluna dengan pernyataan “Wa hajatul umami ila as-siyasati kahaajatihaa ila al-mai  wa al-hawai (kebutuhan manusia/bangsa kepada politik seperti kebutuhan manusia kepada air dan udara). Hal ini kemudian mengilhami  banyaknya  orang Islam untuk  terlibat  dalam kehidupan politik.

Akan tetapi ketika wacana tersebut digulirkan dalam sebuah  sistem politik yang cenderung  menempatkan  agama dalam  pojok-pojok kehidupan politik –bukan  pusat-pusat kehidupan politik– bermainnya umat Islam melalui  partai politik   Islam   seperti  halnya  memegang   bara   api.

Setidaknya  pandangan ini tercermin dalam sikap Pak Amin dengan Muhammadiyahnya, untuk tidak tergesa-gesa meng-up-grade Muhammadiyah menjadi mesin partai politik.  Dengan alasan   bahwa  ritme  kehidupan  Partai  Politik  pasti mengalami  pasang  surut,  dari  jaya,  terhempas  bahkan dilarang. Muhammadiyah dalam batas tertentu telah belajar dari   sejarah  baik  dari  sejarahnya   sendiri   maupun organisasi  lain,  bahwa pembelokan haluan  dari  gerakan sosial   (social   movement) menjadi   partai   politik (political Party)  menyimpan  bahaya  yang  lebih  besar daripada maslakhat.

Akan tetapi  pandangan  Muhammadiyah ini bukan sebuah kartu mati bagi para  anggotanya  untuk terlibat  dalam   politik.  Secara   spesifik   kemudian digulirkan  konsep High Politics‘ atau  politik  tingkat tinggi   atau   adiluhung yang  dijalankan   para   elit Muhammadiyah   dalam panggung   politik   yang   memang menunjukkan keberhasilannya.

Akan  sangat berlainan dengan organisasi  NU,   dalam panggung  sejarah Indonesia telah  menjadi  Partai Politik yang mandiri, pisah dari Masyumi. Jika  Gus  Dur sekarang  ini hendak mengadakan aliansi dengan  Megawati, setidaknya dalam   pandangan  Herbeith   Feith   inilah perpaduan  tiga aliran: Islam, Tradisionalisme  Jawa  dan Nasionalis.  NU bisa bersikap demikian juga belajar  dari sejarah, jika ia tidak masuk dalam partai politik  secara independen,  maka jutaan warga NU hanya  dijadikan  massa pendukung  saja yang tidak mendapatkan  political-profit yang  memadai.

Sehingga  teramat wajar  jika  NU  sering menggunakan manuver “Penggembosan” dan “Penggelem-bungan” dalam  masa-masa  pesta  demokrasi.  NU sebagai gerakan sosial,  siap  untuk melakukan “politik buka baju”, dan “politik pakai baju” sesuai dengan kondisi sistemik yang ada. NU lebih siap untuk memegang Bara Api dengan segala resikonya dibandingkan dengan Muhammadiyah.

Partai Islam: Eskperimen Yang Gagal

Pentas  partai politik dengan label  Islam  an-sich dalam sistem politik yang sekuler, ternyata  mendapatkan tanggapan yang cukup serius. Setidaknya terdapat beberapa catatan untuk ini: pertama, di dalam umat Islam  terdapat bervariasi  mazhab ibadah, muamallah, siyasah  (politik), di  mana  satu sama lain sulit diwadahi  secara  sempurna dalam   satu   wadah. Kalaupun  dipaksakan   maka   akan melahirkan partai politik Islam yang semu.

Kedua,  sistem politik  sekuler  kurang dewasa  dalam merespon  partai politik  Islam.  Trauma masa lalu dan keterkakutan  pada Islam  (Islamo-phobia) menjadikan  sistem memperlakukan partai  politik   Islam  dengan  diskriminatif. Hal  ini etidaknya  tercermin  dari FIS dan Nahdah  di  Aljazair, atau   Partai  Refah  yang diperlakukan  dengan   sangat diskriminatif.

Ketiga, ada kecenderungan tidak  matangnya partai politik Islam dalam merespon sistem politik  yang diskriminatif tersebut. Kekurangsabaran  untuk  merespon sistem menjadikan partai Islam berubah  menjadi  gerakan kekerasan daripada  gerakan  politik.  Sehingga  menjadi salah  satu sebab kurang disukainya bahkan  diberangusnya partai politik Islam dalam panggung politik sekuler.

Eksperimen  partisipasi  elit Islam  dalam  saluran partai politik Islam dari beberapa negara tampaknya lebih menunjukkan kegagalan daripada keberhasilan. Sekali gagal eksperimen   tersebut  membuat  trauma  tersendiri   bagi pendirian partai politik sejenis pada khususnya dan  umatIslam pada umumnya. Eksperimen yang cukup berhasil adalah Partai Islam dari Hasan At-Turabi (NIF) di  Sudan,  yang berhasil melenggang  ke Parlemen tanpa  melalui  gerakan kekerasan.      Hal ini setidaknya dengan  hadirnya  variabel berupa kerjasama  dengan  militer,  Umar  Basyir.  Kasus Turki, Aljazair, Mesir, di mana militer tidak terlibat di dalamnya menunjukkan kegagalan tersendiri. Eksperimen  di Indonesia tampaknya  juga tidak jauh  berbeda,  sehingga Nurcholis Madjid memperkenalkan tema, Partai  Islam  No, Islam Yes.

Dalam    konteks   perpolitikan    di    Indonesia, partisipasi   politik  umat  Islam  adalah   tidak   bisa dihilangkan. Sejelek dan seburuk apapun kondisi Islam  di Indonesia, umat Islam berupaya untuk menyalurkan aspirasi dan  partisipasinya.  Dalam pandangan M.  Syafi’i  Anwar, aspirasi  dan partisipasi umat Islam setidaknya  terpilah dalam ua  golongan  besar; yakni  aliran  formalis  dan substansialis. Aliran  formalis  berkecenderungan  untuk menempatkan keterlibatan umat Islam secara lebih  lengkap dari  isi  sampai  kulit, dari  semangat  sampai  simbol. Sedangkan  kalangan substansialis  lebih   mengedepankan semangat ethic dari pada simbolisme di tengah  pluralisme agama, etnik, kepentingan.

Bagi  kalangan  formalis,  jika  ingin   mendirikan partai  politik  Islam, maka jalan  yang  harus  ditempuh adalah  dengan meningkatkan pematangan diri  dalam  tubuh partai  sehingga  tidak terjebak  dalam  merespon  sistem politik  yang  masih  traumatik.  Yang  juga  tak   kalah pentingnya  adalah  menyusun program yang  visible,  yang tidak  menonjolkan  semangat  simbolisme  semata   tetapi semangat  jaman  seperti Partai  Islam  Turabi  (National Islamic  Front/NIF).  Sehingga  mampu  memperoleh   kursi mayoritas  di  Parlemen dan   dapat  menjalankan  program dengan  baik.  Untuk itu  kalangan  formalis,  setidaknya harus bisa   mengajak   peran   serta   dari   kalangan substansialis untuk  memberikan wacana  pencerahan  dari simbolisme Islam yang bersifat tekstual dan  skriptualis kepada  simbol Islam  yang  kontekstual  dan   modernis.

Bersatunya    langkah   komponen   umat   Islam, dalam partisipasinya  politik kenegaraan diharapkan akan dapat menoreh  sejarah baru umat Islam, bukan  sebagai sesuatu yang  ditakuti  tetapi  sebagai  sesuatu  yang  dihormati dengan karyanya. Semoga.