Persoalan politik Islam merupakan sebuah  istilah baru,   yang mana seringkali difahami sama dengan  istilah Islam Politik. Politik Islam lebih merujuk kepada  bentuk perjuangan mendapatkan  sumber-sumber  kekuasaan   yang terbatas, dan menempatkan Islam sebagai  sebuah  driven. Artinya  dalam politik  Islam  lebih  difahami   sebagai perjuangan kelompok Islam untuk menjadikan Islam  sebagai sebuah  sistem  hidup terelaborasi dalam  masyarakat.  Di mana  sangat  berlainan dengan  Islam  Politik  di  mana difahami  sebuah  upaya untuk  menjadikan  Islam  sebagai sarana  memperoleh sumber kekuasaan yang terbatas.

Dalam pandangan   ini,  Islam  politik  lebih  sebagai  bentuk politisasi Islam oleh sekelompok orang untuk mendapatkan akses  kekuasaan demi kelompok tersebut. Islam cenderung difahami sebagai komoditas politik, bukan sebagai tujuan politik. Dalam pandangan Qardhawy, Islam politik difahami sebagai  sebuah cara melumpuhkan Islam secara istilahan.

Upaya  ini menurut Qardhawy dianggap sebagai upaya untuk memparsialkan  Islam  yang  syumul,  dan  dalam tataran tertentu malah akan menyudutkan Islam itu sendiri[1]. Hal kedua yang menarik dari Politik Islam  adalah adanya sifat keberlangsungan dan perubahan  Islam  dalam mensikapi dinamika  politik  dalam  masyarakat.  Artinya bagaimana Islam  mempunyai kontribusi baik  secara  ide, landasan,  dan prospek dalam sebuah  masyarakat.[2]

Dari pemahaman ini, politik Islam sebagai usaha dari komunitas Islam   untuk  melakukan  aktulisasi  dan reaktualisasi terhadap   kondisi  zaman  dan  tempat   dalam kerangka pengeksistensian  nilai-nilai Islam.   Bentuk perjuangan ini pada akhirnya akan membicarakan apakah Islam  sebagai sebuah political-driven,  akan memberikan nuansa  yang menyenangkan  (rahmat)  atau  yang menakutkan  (phobia). Politik  Islam  yang  membawa rahmat,  adalah  kemampuan akomodasi dan spill-over dari komunitas masyarakat  dalam membangun order dan harmoni.

Sedangkan politik Islam yang membawa  phobia, adalah  bentuk  perjuangan  Islam  yang ditempatkan sebagai kelompok oposan yang menganggu  order dan  harmoni. Islam difahami sebagai  ancaman  potensial bagi regim dalam mempertahankan status-quo.

Pembicaraan  tentang politik Islam  di  Indonesia sebenarnya sudah berlangsung lama, Partai Masyumi di  era 1950-an  merupakan format perjuangan politik  Islam  umat Indonesia, untuk menempatkan Islam sebagai rule of  game. Politik  Islam  Masyumi sangat tercermin  dalam  sikapnya untuk   melakukan   redefinisi   terhadap   UUD,   dengan pemunculan   kembali  untuk  mengangkat  Piagam   Jakarta sebagai  UUD  yang mengantikan UUD  1945  ketika  terjadi krisis   konstitusi.  Bahkan   sinyalemen   dibubarkannya Masyumi  oleh regim Orde Lama, sebagai salah satu  akibat politik Islam Masyumi yang berusaha menggoyang status-quo regim.

Dalam  tataran yang lebih radikal  Gerakan  Darul Islam, bisa kita kategorikan dalam politik Islam. Gerakan DI/TII   seringkali   difahami  sebagai   gerakan   untuk memperjuangkan konsep dan nilai Islam yang difahami telah tereduksi  perannya oleh sejarah. Reduksi  ini  dilakukan secara sengaja oleh regim, sehingga gerakan ini memformat Indonesia  baru dengan formula negara Islam. Akan  tetapi dalam  penjelasan lain, banyak analis politik  mengatakan gerakan Darul Islam dan variannya tidak lepas dari konsep Islam Politik.[3]

Artinya    ketidaksetujuan    masyarakat    Islam Indonesia pada umumnya kepada gerakan Darul Islam sebagai bukti bahwa DI/TII lebih sebagai gerakan kelompok politik yang  kecewa  atas  pemerintah  pusat  yang  tidak  adil. Sebagai sarana menarik simpati dan memperteguh  militansi maka menggunakan konsep dan atribut Islam untuk  kekuatan bargain  dengan pemerintah. Dengan kondisi  seperti  ini, Darul Islam tak bisa dikategorikan sebagai bentuk politik Islam.
Politik  Islam yang sangat cermat dan  sistematis dalam  masa kini, terutama di penghujung masa  Orde  Baru adalah tampilnya  ICMI ke  permukaan  panggung  politik. Tarikan ICMI dalam panggung politik nasonal sangat  kuat nuansanya sebagai  bentuk perjuangan  umat  Islam  untuk mendapatkan akses  dari  negara.  ICMI  tampaknya   juga diformat  sebagai politik Islam yang  santun  dan  tidak mengancam  status-quo regim.

Bahkan analis  lain  seperti Hefner  lebih  melihat bahwa ICMI  lebih  sebagai  produk regim yang mulai mencari legitimasi baru dari umat  Islam yang mayoritas. Sementara orang  lain  mensinyalir  bahwa   ICMI adalah  kekuatan Politik Islam dari kalangan  cendikiawan Muslim  untuk mencoba  menawarkan  Islam  secara   lebih terlembaga tanpa  harus  melakukan  bentuk  oposisi  dan mempertentangkan  dengan asas kenegaraan.

Fenomena  ICMI menjadi  sangat  transparan sebagai media  politik Islam ketika SU MPR 1993 –dua tahun setelah ICMI dibentuk– dimana  ICMI  dianggap mampu  memberikan kontribusi  dalam mendekatkan hubungan dengan negara, sekaligus menempatkan posisi pribadi-pribadi muslim dalam lembaga strategis.

Akan  tetapi dalam perjalanan sejarah ICMI,  pada tahun  1995  tampaknya terjadi pergeseran  makna  tentang pola   ini,  ICMI  difahami  sebagai  kendaraan   politik (menjadi  Islam Politik) dari pribadi-pribadi yang  ingin menduduki  kekuasaan.  Hal  ini  pulalah  yang   kemudian memancing   kontroversial  tentang  kinerja  ICMI,   yang kemudian  ICMI  semakin  tersudutkan  dalam  titik  nadir dengan  menempatkan ICMI sebagai sebuah media  korporatis negara   untuk   mengkooptasi  kekuatan   Islam.   Bahkan sinyalemen  ini semakin menguat dengan tampilnya  Habibie sebagai Wakil Presiden, dan akhirnya menjadi presiden, di mana susunan kabinet Reformasi Pembangunan lebih diwarnai sosok ICMI dibandingkan ormas yang lain.

Dalam kampanye Pemilu 1997 kemarin, politik Islam menjadi  dominan.  Bahkan sampai  terjadi  istilah  Islam Power dalam  bentuk People Power,  dengan  semangat  dan nuansa   Mega-Bintang”.   Banyak   kalangan    memberikan penilaian yang berbeda tentang fenomena naiknya perolehan kursi PPP dalam lembaga legistatif dalam setiap  tingkat. Penilaian yang pertama menyatakan, politik Islam tersebut hanya  semu dan tak lebih dari pemanfaatan  momen  ketika massa  PDI  kecewa.  Artinya itu  bukan  real-power  dari politik Islam. Atau malah menelaah lebih jauh, apakah PPP tetap  menyuarakan  aspirasi Islam sedang  asasnya  bukan Islam.

Yang  kedua  menilai,  PPP  tetap  dalam   pagar kepentingan   politik  Islam   seberapun   prosentasenya, sehingga  fenomena di atas difahami  sebagai  aktualisasi politik Islam melalui PPP. Fenomena  yang tak kalah menariknya,  GOLKAR  dan PDI  juga  siap  menyalurkan aspirasi  umat  Islam  guna mendongkrak  dan mendekatkan hubungan dengan umat  Islam. Apakah di dalam dua partai tersebut akan mewakili politik Islam, ini juga pertanyaan yang pantas untuk diajukan  ke permukaan.  Dalam  pengangkatan  dan  pelantikan  anggota DPR/MPR,  terdapat  nuansa  yang cukup mengesankan  perjuangan  politik Islam.  Pidato sambutan dari  Harmoko mengutip pernyataan salah seorang Shahabat Rasul; Abu Bakar Ash-Shidiq, “Bahwa Saya Diangkat Menjadi Pemimpin  Bukanlah Karena Saya yang Terbaik”. Apakah  ini juga  fenomena  politik Islam ?  Dalam  komposisi utusan golongan, tampaknya mengalami titik nadir, di mana tokoh-tokoh  organisasi keagamaan terbesar  tidak terlibatkan.

Namun Amin Rais malah lebih suka jika ia tidak diangkat, yang  difahami  akan mengurangi kinerja  kontrol sosial. Sedangkan dari sisi utusan daerah, tampaknya tidak banyak memberikan kontribusi yang nyata apakah terdapat politik Islam atau tidak. Sedangkan   dalam  masa-masa reformasi   setelah kejatuhan  regim  Orde  Baru,  bermunculan  partai-partai politik  aliran  termasuk  partai Islam  secara  kental. Partai Persatuan Pembangunan kembali memantapkan  asasnya kembali  ke  Islam,  dan  disusul dengan   partai-partai seperti  PBB  (Partai Bulan Bintang),  PUI  (Partai  Umat Islam),  PK (Partai Keadilan) dan partai Islam  lainnya.

Dari  perspktif politik Islam, munculnya  partai  politik ini  juag  difahami sebagai  bentuk  perjuangan  kelompok Islam  untuk memantapkan nilai Islam. AKan  tetapi  dalam pandangan  lain,  penggunaan asas Islam  bukanlah  bentuk politik  Islam,  malah bisa jadi sebagai  Islam  Politik, yang menempatkan  Islam  sebagai   sarana   mendapatkan dukungan  dan  suara.  Islam  lebih  sebagai  alat  massa daripada   sebagai  bentuk  perjuangan.  Hal  ini   lebih dipertegas   dengan  kinerja  Partai  Islam  yang   tidak konsisten dengan akhlak Islam.

Konstelasi Elit-Massa Islam

Tercapai  kepentingan  dalam  sebuah   perjuangan politik  negara  pada  dasarnya  sangat  tergantung  oleh kemampuan   memanage  potensi.  Umat   Islam   sebenarnya memiliki  keunggulan komparatif baik dari sisi  historis, budaya, sosial dan politik baik secara kualitatif  maupun kuantitatif  untuk mendapatkan akses kekuasaan.  Hal  ini tidak   bisa   dipungkiri  bahwa   Islam   di   Indonesia seberapapun   lemahnya  lemahnya  aspirasi  Islam   dalam politik, pasti tetap diperhitungkan keberadaannya.[4]

Persoalan  yang mengedepan sekarang  ini  adalah ketika  posisi politik Islam  dalam  ambiguous-condition, antara maju kena dan mundur kena. Posisi yang mengambang menjadi  aktualisasi  antara Elit-Massa  tidak  seimbang, sistem Pemilu  yang  proporsional  tampaknya   mempunyai kontribusi besar dalam membuat pola ini.

Akan tetapi dalam masa pemilu dengan sistem  semi distrik  dan  proporsional,  tampaknya  umat  Islam  juga menghadapi  ambigu pilihan. Banyak partai yang  mengklaim sebagai  wakil aspirasi Islam, dan  dalam  aktualisasinya partai Islam  juga menunjukkan  variasinya  yang  sangat berarti. Sehingga  floating  mass sekarang  ini   lahir sebagai  bentuk adaptasi alamiah bukan rekayasa  struktur regim. Mengambangnya massa ini menjadikan hubungan  elit massa Islam juga mengalami friksi yang berarti.

Tampil dan duduknya pribadi Muslim dalam lembaga politik-kenegaraan  pada masa Orde Baru  tampaknya  masih sebagai bentuk “panorama keindahan”, tetapi belum kentara dalam menghasilkan aksentuasi kepentingan politik  Islam. Akan  tetapi  dalam masa reformasi tampaknya  ada  sebuah perubahan  besar,  bahwa  tampilnya  elit  politik  Islam dengan segala variasinya lebih sebagai bentuk  perjuangan kekuasaan  daripada  mempertahankan  kekuasaan.

Apalagi dalam  kompetisi Pemilu 1999 nanti, peranan elit  politik Islam lebih sebagai kemampuan riil politik Islam daripada sebagai bentuk keindahan politik. Hal  yang mengedepan pula dalam masa  Orde  Baru, mengapa persoalan ini terjadi adalah ketika para pemimpin kenegaraan adalah orang yang langsung terjun dalam  dunia politik   (masuk   ke partai  politik)   tidak   melalui organisasi   pengkaderan  yang membuat  mereka   menjadi populis  dengan kepentingan Politik Islam.

Ataupun  bisa jadi  lembaga  pengkaderan  mengalami degradasi   peran, hingga para pemimpin politis menjalankan peran politiknya hanya  mengikuti  bakat dan insting saja tetapi  membawa peran  tertentu.  Hal yang juga menarik tentang  kondisi ini, adalah munculnya elit yang langsung mengelit  karena ascribed-elite.

Keterputusan   hubungan   inilah    yang menyebabkan posisi hubungan elit-massa menjadi  timpang, dan  sangat riskan  Politik  Islam  akan  menjadi  Islam Politik  yang malah  akan merugikan  Politik  Islam  itu sendiri.

Akan  tetapi dalam masa reformasi ini,  tampilnya elit politik Islam dalam panggung politik lebih  dewasa. Terdapat aturan-aturan yang relatif ketat dalam  partai-partai  berbasis Islam dalam mengorbitkan  elit  politik tertentu. Di mana dengan kondisi ini pertarungan  politik yang ketat diharapkan akan mendapatkan elit politik  yang memadai,  yang  tidak hanya menjual  Islam  hanya  untuk memperoleh   keuntungan  sepihak.

Meski  tidak   menutup kemungkinan  pula bahwa terjadi lagi Islam Politik,  jika dikaitkan  dengan  kondisi  krisis ekonomi-politik  yang berkepanjangan     terdapat   kelompok-kelompok     yang memanfaatkan kondisi lemahnya ekonomi umat Islam.

Legitimasi Umat Terhadap Status-Quo

Berbicara  legitimasi  adalah  berbicara  tentang tingkat penerimaan  terhadap  sebuah  sistem  kekuasaan. Legitimasi juga  bisa difahami  sebagai  bentuk  kontrak sosial kepentingan.  Artinya  seberapa  jauh   pemenuhan kepentingan  didapat  oleh suatu komunitas  dan  seberapa jauh  dukungan yang harus diberikan kepada  suatu  sistem atau  regim. Dari peta ini, legitimasi di  sini  akhirnya berbicara  dukungan  secara penuh  (fully  support) atau dukungan secara parsial (partially support).

Dan  ketika berbicara ummat Islam dalam  khasanah pemikiran   politik  Islam,  tampaknya  secara   historis diketemukan  varian-varian  dari  umat  Islam.   Terdapat kondisi   bahwasannya  komunitas  Islam,  lebih   merujuk perpecahan   dibandingkan  dengan  kesatuan  fikrah   dan kepentingan.  Umat Islam di Indonesia dalam bahasan  ini, sebenarnya  tidak  tersatukan  dalam  satu  wadah.   Yang artinya sulit untuk menggeneralisasikan apakah umat Islam memberikan legitimasi atau tidak kepada suatu regim dalam sebuah masa.

Teramat  jelas,  jika umat  Islam  sebagai  basis legitimasi  regim Orde Lama dan Orde Baru,  harusnya  tak akan  ada  peminggiran posisi umat Islam.  Juga  tak  ada Islamo-phobia.   Artinya  umat  Islam  telah   memberikan kepercayaan  harusnya  regim juga memberikan reward yang berarti  bagi  umat  Islam. Ternyata  kondisi  ini  sulit bahkan tidak terjadi. Akan tetapi di sisi orang juga bisa menganalisis bahwasannya  Islam  memang  dijadikan   alat legitimasi pemerintah  dalam  saat  tertentu,  sekaligus regim mengingkari di saat lain.

Hal ini dilakukan  dengan melakukan  kooptasi  regim kepada  lembaga-lembaga  Islam tertentu  agar  memberikan dukungan, meski  harus  diakui bahwa  lembaga Islam tertentu tidak selalu bisa  mewakili umat   Islam   secara umum.  Tetapi   regim   senantiasa memberikan  propaganda bahwa regim  mendapatkan  dukungan dari umat Islam yang telah dipolitisir. Dalam tataran yang lebih praktis, legitimasi umat Islam    atas   status-quo,  merupakan   persoalan   fiqh aulawiyat (fiqh prioritas).

Dalam dekade 1990-an,  memang ada  persoalan  yang cukup pelik dalam  diri  umat  Islam  (kaitan  secara  umum). Di satu sisi umat  Islam  semakin terakomodasi  kepentingan maka  wajar  jika   memberikan legitimasi  status-quo,  akan tetapi  bercak  dan  percik masalah sosial-ekonomi dan politik ternyata  terakumulasi di umat Islam, artinya umat Islam memberikan upaya  anti-legitimasi. Meski kemudian persoalan yang sempat  mencuat tersebut tidak dikatakan tidak memenuhi representasi umat Islam.  Upaya ini sebagai katup, agar umat  Islam  jangan dipojokkan  atau dianggap tidak nasional kepada  republik ini.

Jika  kita  sepakat  bahwa  ini  merupakan   fiqh aulawiyat, maka yang harus difahami bersama adalah sebuah langkah   untuk  untuk  memberikan  prioritas  apa   yang seharusnya  diprioritaskan  berdasarkan  ukuran   hukuman Islam  yang benar dan didasarkan atas cahaya wahyu  serta akal,  dan “cahaya di atas cahaya” (An-Nur:35)[5]

Kondisi umat  Islam  di  akhir Orde  Baru  yang ditandai  dengan dekatnya   pemerintah   dengan  umat   Islam, tampaknya memberikan   pilihan  untuk  mendukung legitimasi   bagi Republik  ini.  Sebab jika tidak  maka kepentingan  umat Islam   akan  terganggu  ditengah  jalan. Akan   tetapi celakanya,  dukungan dan legitimasi umat Islam di  akhir 1997,  tampak  menjadi  bumerang  yang  sangat berarti. Hubungan  dekatnya  umat Islam dengan  regim, berseiring dengan runtuhnya regim Orde Baru itu sendiri.

Setidaknya  tarik-menarik  untuk  memberikan  dan tidak  memberikan  legitimasi  berdasarkan   pertimbangan berikut:

1) Dalam  banyak  hal  aspirasi umat  Islam  masih  tetap merupakan   main-stream  yang   diperhitungkan   untuk diagendakan.

2) Bentuk akomodatif-dinamis lebih menguntungkan daripada bentuk kontradiksi-oposisi, di mana harus diakui  umat Islam   masih   menduduki  posisi   mayoritas.   Salah bertindak sedikit maka akan menyebabkan pukulan  balik bagi umat Islam.[6]

3) Masih  belum  terselesaikannya  formulasi  kelembagaan aspirasi  umat  Islam, di mana tahapan  fiqh  ikhtilaf belum mencapai kematangan. Belum  adanya  kesepakatan secara tegas  antar  golongan  memungkinkan  wihdatul ummah sulit terwujud.

Tiga  pilihan  tersebut  tampaknya  pantas  untuk diajukan bagi umat Islam ketika berinteraksi dengan  regim-regim.

Nasib Umat Islam Indonesia

Pergumulan umat Islam selama ini berkutat  kepada persoalan  keterbelakangan dalam ekonomi, pendidikan  dan kesempatan.   Kesempatan  tampaknya  menjadi   hal   yang memungkinkan  pendidikan  bisa terangkat,  demikian  pula jika  kesempatan  terbuka maka  persoalan  ekonomi  dapat teratasi.

Hal  kedua  yang  cukup   signifikan   adalah persoalan redistribusi hasil pembangunan dari kepada umat Islam secara luas. Kesempatan dan re-distribusi merupakan sesuatu  yang harus diperjuangan. Dan  dengan  keberanian memberikan legitimasi,   dapat  dijadikan   kue   takar (bargain) untuk mendapatkan kesempatan dan redistribusi.

Faktor kesempatan, secara real-politic  merupakan sesuatu yang langka, yang harus dibina, dipupuk  sehingga mampu  teraktualkan dengan baik. Kesempatan  juga  sangat terkait  dengan persepsi masa lalu. Ganjalan  yang  cukup mengedepan  jika kita bicara kesempatan  adalah  persepsi terkadap  progresifitas Islam dalam  menata  kelembagaan. Gejala  Islam politik tampaknya masih memberikan  mental-barrier bagi negara untuk memberikan kepercayaan  secara penuh.

Sedangkan   persoalan  re-distribusi,   merupakan sesuatu  yang  bersifat pasif, dan akan  berubah  menjadi aktif manakala  terdapat  tekanan   yang   memungkinkan perhatian  tersendiri. Gejala akhir-akhir ini dengan  isu kesenjangan sosial dan ekonomi, yang kemudian  diaktorkan oleh  sebagian  besar  orang  Islam,  dari  awam   sampai terpelajar, dari radikal sampai moderat bahkan pragmatis, menjadikan center of problems from the state.

Umat  Islam setidaknya  dalam  batasan tertentu merasa  terkecewakan seberapun  kecilnya  dalam  hal  re-distribusi,  sehingga gejolak  menjadi  muncul.  Akan  tetapi kemampuan  untuk menjadikan gejolak tidak meledak memungkinkan sikap  dari pemerintah akan cenderung akomodatif bukan  konfrontatif. Yang  pada akhirnya akan menggiring akan pemenuhan  hajat dan aspirasi umat Islam.

Redistribusi akan semakin menjelas manakala dalam pasca  SU  MPR nanti mampu memberikan  patokan kebijakan baru yang memberikan kelonggaran baik secara kuantitatif seperti   terakomodasinya  kepentingan   keumatan dalam pendidikan,  ekonomi, sosial dan budaya. Dan kelonggaran kualitatif  adalah bentuk-bentuk perubahan persepsi  dari phobia menjadi apresiatif.

Sehingga   antara   manajemen   legitimasi   akan menentukan  nasib  umat Islam Indonesia.  KH.  Ali  Yafie akhir-akhir  malah  mengatakan seharus  pemerintah  sudah melangkah  jauh  untuk  melegitimasi  umat  Islam.[7]

Jika keadaan  memang  sudah demikian,  akhirnya  akan  terjadi reciprocity-legitimation. Akan  tetapi  menjadi menarik  wacana  ini  jika dikaitkan  dengan era reformasi ini yang jauh  memberikan peluang  bagi umat Islam untuk mengformat Indonesia  Baru dan  Muslim  Baru Indonesia. Kesempatan jauh  lebih  luas bahkan  sangat ditentukan oleh umat Islam  sendiri.  Jika bisa  membangun dan memanfaatkan kesempatan dengan  baik, umat Islam malah menjadi faktor yang dominan, akan tetapi jika umat Islam terjebak dengan Islam politik lagi,  maka jelas ini sangat menganggu kesatuan umat Islam yang  amat dibutuhkan untuk memenangkan pembuatan rule of game yang lebih  adil dan berkemanusiaan dalam menyambut  Indonesia baru.


[1] Lihat  dalam  Yusuf  Qardhawy,  Fiqh  Daulah:   Dalam Perspektf  Al-Qur’an  dan  Sunnah,  Jakarta, Pustaka  Al-Kautsar, 1997

[2]Lihat John Obert Voll, Politik Islam:  Keberlangsungan dan  Perubahan di Dunia Modern, Yogyakarta:  Titian  Ilahi Press, 1997

[3]Lihat dalam disertasi Anhar Gonggong, Abdul Qahhar Mudzakkar: Dari Patriotik Hingga Pemberontak, Jakarta: Gramedia, 1992

[4]Lihat dalam David Godblatt  (et.al),  Democratitation,New York, 1997.

[5]lihat dalam Yusuf Qardhawy, Fiqh Prioritas: Urutan  Amal Yang  Terpenting Dari Yang Penting, Jakarta,  Gema  Insani Press,1996.

[6]lihat lebih jauh tentang teori Asy-Syaukah dari Imam Al-Ghazali dalam Zainal Abidin Ahmad, Konsepsi Negara Bermoral Menurut Imam Al-Ghazali, Jakarta, Bulan Bintang, 1975

[7]Lihat majalah Ummat edisi terakhir Oktober 1997