Agresi Israel terhadap wilayah Arab sebenarnya telah dilakukan Theodore Herzl terhadap Kasultanan Turki Utsmani 1906 setelah mengalami tanda-tanda kebangkrutan dengan cara menyuap Sultan Hamid II untuk memberikan akses bagi penduduk Yahudi yang terdiaspora, dengan cara mengusir etnis Arab di Palestina. Langkah ini dilakukan Herzl sebagai cara membangun ruang baru bagi masyarakat Yahudi agar bisa kembali ke tanah leluhur yang dijanjikan (Kanaan). Upaya ini ternyata ditolak oleh Sultan Hamid II, sehingga scenario yang kemudian dilakukan oleh Zionisme Internasional melalui kekuatan politik dan militer.

Tulisan ini akan menganalisis pola agresi Israel di Timur Tengah, dan masa depan Palestina . Apakah Palestina akan segera tercerabut dalam peta bumi secara de facto setelah tercerabut dalam beberapa dokumen atlas dunia akibat serangan massif Israel ke jalur Gaza dan Lebanon.

Agenda 10 Tahunan

Dalam peta analisis yang dilakukan oleh Ziaudin Jafar dalam buku Palestina Nasibmu Kini, terdapat agenda rutin 10 tahunan agresi Israel ke Timur Tengah. Agresi ini dimulai semenjak Zionisme Politik berdiri di 1886, kemudian mengadakan konferensi Zionisme di 1896 yang menghasilkan Protocol Zionisme Internasional, serta agenda besar untuk kembali ke Palestina atau bukit Zion. Langkah ini kemudian disusul dengan upaya suap Herzl di 1906, dan akibat ditolaknya proposal suap tersebut maka Zionisme bekerja sama dengan PM. Balfour untuk mendapatkan jaminan akses untuk bisa tinggal di Palestina. Lobi ini berhasil sehingga ketika Inggris sempat memberikan ruang bagi Yahudi di Uganda, kemudian merestui kembalinya masyarakat Yahudi ke Palestina setelah Palestina berada dalam protektorat Inggris dengan lahirnya Balfour Declaration.

Dekade 3 agresi yang dilakukan oleh Israel di 1927, muncul konsep kolonialisme demografis, meminjam istilah dari Roger Geraudy yang bermakna sebagai bentuk penguasaan wilayah dengan cara menambah populasi Yahudi secara massif, baik dengan menggunakan jalur kelahiran ataupun migrasi. Hasilnya sangat kentara tatkala di 1937, yang dikenal dengan program pendudukan Yahudi maka populasi penduduk Yahudi telah melebihi populasi etnis Arab di Palestina. Sehingga dalam decade ke 4 di 1947, Yahudi telah siap dengan agenda pemerdekaan.

Memasuki decade ke 5, Israel telah merubah haluan tidak hanya sekedar inward looking saja, namun mulai melakukan operasi Kanaan yakni mengembalikan wilayah Kanaan ke dalam otoritas Yahudi Internasional. Tindakan inilah yang kemudian selama 2 dekade terjadi perang secara massif, yakni di tahun 1957 dan 1967. Dalam perangĀ  Arab Israel inilah posisi Israel semakin mapan, baik dari dukungan dari AS ataupun Negara sekutunya, sehingga beberapa Negara Arab seperti Mesir, Suriah, Jordania kehilangan beberapa wilayahnya.

Sedemikian powerfulnya Israel atas bangsa Arab, membuat sikap para petinggi Arab mulai melunak terhadap Israel, bahkan Mesir sebagai salah satu Negara pemimpin Arab justru melakukan upaya negosiasi dengan Israel yang kemudian melahirkan perjanjian Camp David 1977. Upaya ini kemudian diikuti oleh beberapa Negara Arab yang mulai mengurangi ketegangan kepada Israel, sekaligus mengurangi konflik dengan Israel terkait posisi Palestina.

Akibatnya di decade 1980-an, praktis masyarakat Palestina berjuang dengan kaki dan tangan mereka sendiri. Dunia Arab masih disibukkan dengan posisi perang Iran Iraq yang berjalan hamper 8 tahun. Sehingga di 1982, tatkala aksi brutal Israel di Sabra dan Satilla tidak mendapatkan perhatian masyarakat internasional, maka faksi perlawanan di Palestina melakukan gerakan intifadhah di 1988. Sebuah aksi sipil yang massif untuk melakukan perlawanan kepada Israel dengan peralatan seadanya, atau kemudian dikenal dengan pertempuran tidak seimbang; batu melawan moncong senjata.

Tahun 1996 merupakan tahun yang banyak dinantikan oleh masyarakat dunia, bahwa Palestina akan menjadi Negara yang utuh, dan bukan lagi menjadi wilayah otonom sebagai implikasi perundingan Oslo. Namun upaya ini kandas setelah dalam perjanjian Camp David II, justru menegaskan bahwa eksistensi Palestina semakin kabur setelah Israel justru mendapatkan hak eksklusif untuk kota suci Yerusalem, dan bukan lagi sebagai kota internasional.

Pasca perjanjian Camp David II inilah kekerasan demi kekerasan berjalan dengan sangat massif. Tindakan Ariel Sharon yang masuk ke Palestina di 2002 secara brutal dan kemudian diiringi dengan pembuatan tembok pembatas di 2005. Akibatnya adalah para tokoh pejuang Palestina dari faksi Fatah, Jihad Islam dan Hamas berguguran, tidak kurang Yasser Arafat, Ahmad Yassin, Aziz Rantisi dan Ahmad Syaqiqi telah menjadi korban.

Akhir Atau Awal Palestina

Deraan dan serangan massif Israel terhadap Palestina, dan Lebanon telah menimbulkan kecemasan yang luar biasa. Apalagi dengan pilihan Israel untuk melakukan serangan udara bukan dengan konfrontasi langsung membuat tingkat kerusakan Israel relative lebih sedikit dibandingkan dengan Palestina dan Lebanon. Semakin banyaknya kota di Palestina yang jatuh ke tangan Israel dan tidak pedulinya masyarakat internasional untuk membangun collective security untuk menghentikan aksi Israel memunculkan pesimisme bahwa tahun 2006 adalah tahun penghabisan bagi Palestina dalam peta bumi dunia.

Namun bagi kalangan perlawanan dan pejuang kemerdekaan justru ini menjadi awal bagi terbentuknya Negara Palestina secara utuh dan tidak berada dibawah bayang-bayang kekuasaan Israel. Gerakan perlawanan yang mengandalkan perang gerilya ternyata tidak bisa dilumpuhkan dengan mudah. Akibatnya adalah Israel akan semakin gelap mata dalam melakukan perburuan terhadap kelompok perlawanan. Hasilnya bisa diperkirakan dua hal.

Pertama; secara internal masyarakat Israel akan lelah dengan konflik yang tidak berujung pangkal sehingga akan melahirkan gerakan anti perang justru dari Israel sendiri. Fenomena ini sudah mulai berkembang dengan pesat di komunitas Yahudi di Eropa, meskipun belum banyak berkembang di AS. Jika gerakan ini membesar maka kemungkinan terciptanya Palestina yang berdaulat akan diamini oleh masyarakat Israel, dan menutup semua dendam dan luka lama.

Kedua, secara eksternal tingkat kesabaran masyarakat internasional terhadap rasisme Israel akan semakin menggumpal karena aksi di luar batas kewajaran perang seperti yang termaktub dalam konvensi Wina. Akibatnya adalah Israel akan semakin terkucilkan dalam pergaulan internasional dan akan menjadi musuh bersama bangsa di dunia. Aksi boikot terhadap Israel dalam segenap bidang akan menyebabkan frustasi besar bagi masyarakat Israel. Dari sinilah justru masyarakat Israel akan semakin mengetahui indahnya kebersamaan dan tidak bermaknanya konflik yang berkepanjangan.