Perspektif   kesejarahan   politik   Umat   Islam Indonesia  mempunyai makna penting bagi umat Islam  dalam keterlibatannya   di   pemerintahan.   Dengan    landasan mayoritas  Umat  Islam mempunyai justifikasi  yang  besar untuk  mendapatkan peran yang proporsional.  Akan  tetapi dalam  lintasan sejarah Indonesia Pasca Kemerdekaan,  hal seperti ini tampaknya masih diperdebatkan  lebih jauh. Salah satu  sebab yang  signifikant  dari  tidak proporsionalnya  umat  Islam,  adalah  disebabkan  karena sejarah  itu  sendiri. Sejarah  Islam  Indonesia   tidak selamanya   ditampilkan dalam  etos   kejuangan   bangsa Indonesia,  bahkan  sering juga ditampilkan  dengan  etos pemberontakan,    secara   fisik maupun    menggoyang konstitusi.[1]

Dalam pandangan Ahmad  Mansur  Suryanegara, fenomena  ini tidak bisa dilepaskan dari adanya  distorsi sejarah yang secara sengaja di munculkan oleh regim untuk menghalangi tuntutan umat Islam.

Karena persoalan sejarah pulalah, hubungan antara umat  Islam Indonesia dengan pemerintah mengalami  pasang surut.  Ada  kecenderungan, Umat Islam  akan  ditempatkan dalam garda yang penting manakala regim mengalami  krisis legitimasi,  maka pada saat itulah jumlah mayoritas  umat Islam  dijadikan  buffer.  Akan  tetapi  ketika,  terjadi ledakan partisipasi  (booming participation) dari  umat Islam  maka ada kecenderungan image  regim  kepada  umat Islam  akan negatif.[2]

Image ini kemudian dikiaskan  dalam sebuah  konsep yang khas  dengan  Islamo-phobia.  Dengan kondisi   ini, maka akan  kecenderungan   regime   akan mengatur,  membatasi bahkan  melarang  partisipasi  umat Islam dalam rangka menjaga legitimasi.

KONVERGENSI UMAT ISLAM DALAM ORDE LAMA

Dalam  periode  Orde Lama, tampaknya  peran  umat Islam terpilahkan dalam 3 aspirasi besar: pertama,  peran umat  Islam  yang  bersikap  kritis  kepada  negara  yang diwakili  oleh  Masyumi,  kedua, peran  umat  Islam  yang bersikap akomodatif kepada negara yang diwakili oleh  NU, ketiga, peran umat Islam yang bersebelahan pemikiran  (di luar pagar sampai memberontak) yang diwakili oleh gerakan DI/TII.

Sehingga  dalam  posisi  ini  Douglas   Ramage, memberikan  makna  yang  khas,  bahwa  Umat  Islam  lebih disosokkan  sebagai  ancaman. Dalam  pandangannya,  Islam pernah ditempatkan sebagai kekuatan terlarang sebagaimana kekuatan komunis.[3]

Meski   masih  bisa  diperdebatkan  lebih   jauh, statemen Ramage setidaknya berangkat dari kebijakan Orde Baru, yang berusaha antisipatif terhadap partisipasi umat Islam.  Setidaknya  dalam  pandangan  Kuntowijoyo,  Islam mempunyai    kekuatan   sebagai   idiologi   yang    bisa dieksplorasi   sedemikian  rupa  untuk   menandingi   dan bersaing  dengan  idiologi  Pancasila.  Kuntowijoyo  juga menyatakan, jika Islam diangkat dalam diskusrus idiologi, maka dipastikan Islam akan menjadi ancaman, dan mengangguhubungan dengan pemerintah.[4]

Apalagi Islam mempunyai cara perjuangan  yang khas yang terkonsepkan dalam  Jihad,  di mana dalam masa perjuangan kemerdekaan mempunyai kekuatan tersendiri dalam menggerakan masa Islam. Sejarah  umat Islam yang bermain  dalam  panggung politik  nasional, yang diwakili oleh Masyumi  setidaknya dipertanyakan  tentang loyalitas pada konstitusi  negara yakni  UUD 1945. Hal ini terbukti dalam polemik besar  di paruh  dekade  1950-an,  yang  ingin memapankan  kembali Piagam  Jakarta,  sebagai  bentuk pencerminan  keinginan Islam  ditempatkan secara proporsional. M.  Natsir  dalam kapasitasnya   sebagai  ketua Masyumi,   telah   memilah golongan  terbesar  dalam panggung politik  pada  masanya dalam: golongan nasionalis Islam dan nasionalis sekuler.[5]

Nasionalis   Islam  adalah  golongan   yang menghendaki diterapkannya  syari’ah  Islam dengan  dukungan aparatur negara.  Sedangkan  dalam polemik ini,  ternyata menemui jalan   buntu  dengan  dead-locknya  konstituante, yang kemudian  melahirkan Dekrit Presiden di  mana menetapkan kembali  ide nasionalis-sekuler dengan Pancasilanya.  Hal ini  setidaknya kemudian menjadi latar belakang  tuduhan regim Sukarno akan keterlibatan M. Natsir dalam peristiwa pemberontakan  PRRI, yang mengilhami regim SUkarno  untuk membubarkan  Masyumi. Natsir setidaknya lebih  mendahului daripada  didahului  dengan membubarkan  telebih  dahulu Masyumi sebelum dibubarkan, dan dilarang. NU  sebagai  organisasi  mayarakat  Islam  dengan basis  tradisionalis-kulturalis  dalam  panggung  politik Orde  Lama lebih menitikberatkan politik Akomodatif,  hal ini  setidaknya dengan dukungan NU untuk  terlibat  dalam gerakan  NASAKOM.  Dalam kapasitas ini, posisi  NU  ingin menempatkan  umat  Islam bukanlah umat  yang  tidak  bisa diajak  kompromi.[6]

Hilangnya  peran  umat  Islam   dalam panggung politik,   maka   akan   sangat   mempengaruhi kemaslakhatan  umat  Islam. Dalam  pandangan  NU,  dengan menggunakan qaidah fiqih, “Jika tidak diperoleh semuanya, maka sedikitpun bisa diterima”.[7]

KONVERGENSI ISLAM DALAM ORDE BARU

Dalam perjalanan sejarah Orde Baru, peranan  umat Islam dalam pendirian regim ini sangat signifikan sekali. Hal ini tercermin dalam gerakan pemberantasan PKI  secara besar-besaran yang dikoordinir oleh dua organisasi  besar NU maupun   Muhammadiyah.   Dalam   kapasitas   sebagai organisasi  massa  Muhammadiyah  membuat  KOKAM (Komando Keamanan  Muhammadiyah)  dan NU membuat BANSER  (Barisan Serbu)  yang mempunyai makna tersendiri dalam  penegakkan Orde Baru. Akan tetapi, kecenderungan agresivitas Umat Islam membuat  kecurigaan besar regim Orde Baru dengan  gerakan militerisasi, yang bisa dikemas sedemikian rupa, di  mana potensial sebagai ancaman baru. Umat  Islam  dalam periode  ini,  tampaknya  juga mengalami polemik  yang maha  dahsyat  berkaitan  dengan langkah modernisasi yang dilakukan pemerintah Orde  Baru, demi membangun basis legitimasi.

Setidaknya  umat  Islam dalam pandangan Dawam Rahardjo,[8] dalam era awal Orde Baru tidak  mempunyai kesiapan yang  memadai  untuk  merespon jargon  utama pembangunan  dari Orde  Baru.  Umat  Islam berkecenderungan menarik diri bahkan sampai memperoalkan konsep modernisasi dan pembangunan. Pada  era  inilah, tidak akseptabilitasnya  umat Islam  membuat pemerintah  mulai melirik kepada  kelompok Nasrani dan Etnis China, bersama dengan militer membangun basis  penggodok strategi nasional dalam lembaga  CSIS.[9]

Ada  sebagian  orang Islam yang  masuk  bahkan membidani kelahirkan  CSIS  ini,  yakni  Ali  Murtopo,  yang lebih dikenal  dengan aliran Islam Abangan. Ketidaksiapan umat Islam  ini kemudian menjadi preseden  tersingkirnya umat Islam dalam panggung ekonomi nasional. Akan  tetapi dalam akses politik,  peranan  umat Islam  tidak  bisa dipandang remeh.  Sehingga  pemerintah merasa perlu untuk menata bahkan mengkooptasi umat Islam, dalam   sebuah komunitas  politik   yang   lebih   bisa dikendalikan oleh pemerintah.[10]

Issue ini dilempar  dalam bentuk fusi partai yang dilakukan dalam dua tahap,  yakni tahun  1971,  dan menjadi satu  partai  yang  berafiliasi dengan asas Islam pada PPP di 1976. Fusi partai  ternyata sangat mengecewakan umat Islam, sehingga potensi  booming participation  yang akan menjurus kepada gerakan  radikal menjadi sebuah kemestian. Timbulnya kasus Tanjung  Priok, letupan  kelompok DI/TII, Komando Jihad (Konji)  ternyata  mengharuskan  pemerintah untuk memotong  akarnya,  dengan menetapkan asas tunggal dalam UU Keorgamasan. Dinamika  terjadi  dalam  tubuh  keormasan Islam dalam  merespon  satu-satunya asas. Organisasi  besar NU merupakan   organisasi  yang  pertama   kali  menyatakan kesediaannya,   baru  kemudian   Muhammadiyah   menjelang muktamar  Muhammadiyah  di  Solo.  Sedangkan  di  tingkat organisasi ekstra, terjadi polemik dengan pembubaran diri PII (Pelajar Islam Indonesia) dan pecahnya  HMI  menjadi MPO dan DIPO. Artinya kesiapan umat Islam untuk  merespon sistem   politik  dalam  dua  dekade  Orde   Baru   masih menunjukkan polemik di sana sini.

Baru  dalam dekade 1980-an akhir,  dan  menjelang dekade  1990-an  awal, respon umat  Islam  menjadi  lebih padu. Kelahiran ICMI di 8 Desember 1990, merupakan embrio besar kesiapan umat Islam dalam merepon pemerintah. Dalam pandangan  Dawam  Raharjo,[11] ICMI  mampu  mengangkat dan mengajak  pemerintah  untuk  mengapresiasi  umat Islam. Bahwasannya  ajaran  dan  umat  Islam  dapat   memberikan kontribusi   yang   positif  dalam   pembangunan.   Peran kelembagaan ICMI, pada akhirnya mampu membuat umat Islam melakukan  proses survival, renewal dan reprogramming,[12] yang  artinya  umat  Islam  dapat  memapankan   kedudukan dihadapan negara, umat Islam dapat melakukan  pembaharuan makna  dalam  bernegara dan umat  Islam  dapat  melakukan penjadwalan program-program yang lebih antisipatif. Berseiring   dengan  maraknya gerakan   teologi pembebasan  Amerika  Latin, New Left, Populist  Trend  di India,  Gerakan  Hijau  di  Barat  yang menuntut   upaya pemberdayaan masyarakat dalam menghadapi perilaku negara, terutama yang dipelopori gerakan  YLBHI, WALHI, YLKI yang kritis  kepada perilaku pemerintah.[13]

Sedangkan saat  ini hubungan Islam dengan negara dalam kondisi yang harmonis. Banyak  sekali  lontaran-lontaran  yang  menilai   bahkan menyudutkan  posisi  ajaran Islam  yang  beku   terhadap tanggungjawab  sosial.  Islam tidak kritis  pada  kondisi jaman.

Sedangkan  di masyarakat Iran, ternyata  kekuatan Islam dalam dimodifikasi sedemikian rupa untuk  melakukan daya  kritis  bahkan mampu  menggulingkan  rezim  Pahlevi 1979.  Tulisan  Ali Syari’ati,  sebagai  idiolog  gerakan Syi’ah Iran  mendapat  perhatian  yang  memadai,  bahkan diterjemahkan   dalam  bahasa  Indonesia  dan   di   kata Pengantari oleh Amin Rais. Amin Rais semakin memposisikan dirinya  sebagai  seorang penjamin,  bahwa  ajaran  Islam pantas   diangkat  lebih  jauh  dalam  panggung   politik nasional.  Buku  karya John  Esposito,  seorang  pengamat moderat  dunia  Islam, juga ia  kata  pengantari,  bahkan tulisan   dari  tokoh  fundamentalisme  Islam   ia   kata pengantari, bahkan memberikan apresiasi yang lebih. Dalam wacana ini, terdapat gejala baru dari  umat Islam untuk mulai bersifat kritis dengan menawarkan  ide-ide Islam, untuk mewarnai sistem negara dan  pembangunan. Meski  upaya  ini mendapatkan tantangan yang  cukup  kuat dari  kalangan kulturalis, yang di bawah komando NU.  Gus Dur  dalam era berdirinya ICMI sangat  mencurigai,  bahwa ICMI  tidaklah lebih kendaraan politik dari bentuk  Islam Politik  (Political Islam) dan  Politik  Islam  (Islamical Politic),[14] yang mengharuskannya membuat terobosan  baru dengan menghilangkan  sekat-sekat  agama.   Usaha   ini diwujudkan dengan  partisipasi Gus Dur  sebagai  pendiri Forum Demokrasi, sebagai lembaga kritis kepada  kebijakan ICMI dan Pemerintah.

Dalam   pandangan  Afan  Gaffar,  fenomena ICMI merupakan  fenomena politik yang mengkondisikan hubungan yang  tidak  konfrontatif antara Islam  dengan birokrasi Orde Baru. Di mana berbeda dengan  pandangan Jalaluddin Rahkmat, melihat ICMI sebagai bentuk take and give. Take di sini  memberikan  makna  bahwa  Islam  akan mendapat perlakuan  yang  semestinya, di  mana memungkinkan  ICMI menjadi  gerakan  pengangkatan harkat dan  martabat  Umat Islam.   Sedangkan  dalam  batas  tertentu   ICMI   telah memerankan  lebih jauh dalam kerangka  mendapatkan  akses kekuasaan, inilah yang kemudian disebutnya sebagai  Islam Politik,   yang   akan menjadikan  ICMI   akan   semakin kehilangan dukungan akar rumput. Hal senada juga difahami oleh Gus Dur.[15]

Dinamika untuk melangkahkah umat  Islam  menjadi lebih  kritis, tampaknya masih berkutat kepada  diskursus  peran   Islam  dalam  mempengaruhi  sistem,   yang   akan menempatkan  umat  Islam sebagai umat yang  dekat  dengan pemerintah.  Dalam kapasitas ini, ada kecenderungan  jual beli antara Islam dengan pemerintah, di mana  pemerintah lebih memanfaatkan dukungan umat Islam kepada regim  Orde Baru dan  umat Islam  mengharapkan  dukungan  pemerintah dalam program-program keislaman. Dalam  batasan  inilah, umat Islam difahami telah terjebak dalam ritme kekuasaan, yang membenarkan   kekakuan    regim,    menomorduakan demokratisasi  politik  guna mewujudkan  tatanan  politik yang  lebih adil. Sehingga keperwakilan Islam dalam  ICMI lebih sebagai kooptasi negara.

TAUHID SOSIAL DAN AMAR MA’RUF NAHI MUNKAR: AKAR REFORMASI

Keterbekuan  harmonisasi Islam dengan  pemerintah menjadikan  umat Islam kurang kritis. Sebab  jika  kritis akan menganggu harmonisasi Islam dengan pemerintah.  Amin Rais dalam  kapasitasnya sebagai Dewan  Penasehat  ICMI, melihat posisi  ini kurang menguntungkan ICMI  dan  umat Islam. ICMI harus kritis dalam usaha  implementasi  jiwa keislamannya.  Dalam  pada itu, Amin  Rais  merasa  perlu untuk melemparkan issue tentang Tauhid Sosial,[16] sebagai bentuk  keyakinan baru dalam bertauhid. Gagasan Amin  ini mendapatkan  dukungan yang luas, di mana dalam  kapasitas ini Amin ingin menempatkan Islam sebagai ajaran  rahmatan lil ‘alamin. Bergeraknya   issue  Tauhid  Sosial,  maka   Amin melontarkan  pemahaman  lagi tentang konsep  amar  ma’ruf nahi  munkar. Hal ini diambil dalam Surah Ali Imron Ayat 104

Konsep  yang  merupakan  semboyan  dasar Muhammadiyah,  yang  selama  ini  tampaknya   ditempatkan dengan sangat hati-hati. Gagasan ini dugulirkannya  dalam wacana  yang  kuat dalam berbagai media,  yang  mempunyai momentum pada kasus Busang. Bahkan bergulir terus  dengan issue  suksesi  dan  berbagai kritik  pedas  dan  terbuka  kepada  pemerintah.  Dalam batasan  ini,  Dawam  Rahardjo menyatakan  bahwa Islam telah ditempatkan sebagai  sarana kritis kepada negara.

Gerakan  amar ma’ruf nahi munkar  menjadi  sebuah slogan yang operasional, bukan hanya normatif. Yang mampu dilaksanakan  dalam segenap lapisan  masyarakat.  Gerakan Amar Ma’ruf Nahi Munkar, tampak menjadi milik umat  Islam tatkala  gerakan-gerakan kritis yang berbasiskan  teologi pembebasan,  new-left mengalami represi  kelembagaan  dan personal  dengan peristiwa 27 Juli 1996, kasus  Salatiga, kasus Pijar, dan kasus lainnya. Hal ini setidaknya dengan kebijakan  dan  komitmen bersama di tingkat  ASEAN  untuk mewaspadai  bahkan menekan bentuk oposisi yang  dilakukan oleh  gerakan  teologi pembebasan,  new-left[17] Momentum inilah yang mengilhami desakan kalangan sosialis di YLBHI untuk  menantang Amin Rais sebagai Presiden dalam  Pemilu 1997.

FORMAT REFORMASI DALAM ISLAM

Secara  normatif, Islam meletakkan  dua  kerangka dalam dalam rangka melakukan perubahan dalam masyarakat. Yang  pertama adalah Ishlah, yakni  melakukan  perbaikan-perbaikan yang berarti dari sendi-sendi masyarakat, dalam kerangka  menjadikan kehidupan masyarakat  menjadi  lebih baik.  Pola  ini mengedepankan hubungan  yang  gradualis-adaptis[18] di  mana berwatak gerakan  evolusionis.  Dalam cerminan yang lebih kongkrit, reformasi dengan melandasan bil  hikmah wa ma’u’idatil hasanah.  Yang  berarti memberikan  peringatan  dengan  ilmu  dan kebijaksanaan

Yang  kedua  adalah Inqilabiah, yakni dalam upaya melakukan perbaikan  dengan melakukan   reformasi  total, bahkan  sampai   melakukan revolusi  dan  penentangan secara masif.  Dalam  cerminan yang  lebih  kongkrit  dalam formula,  reformasi  dengan melandaskan kepada asy-syida’ ala kuffar. Artinya  bersikap keras kepada  orang-orang  yang     kafir zalim dan tidak benar. Dalam  teorema  klasik, Imam Ghazali  memberikan kerangka tahapan dari pelaksanaan reformasi dalam bendera amar ma’ruf nahi munkar yang dikaitkan dengan teori  asy-asy-syaukah.  Reformasi  dalam bentuk  amar  ma’ruf  nahi munkar  merupakan  kewajiban agama dan  rohani.  Di  mana hancur  dan tegakknya umat sangat tergantung  kepada  ada tidaknya  amar  ma’ruf nahi munkar. Dalam  kaitan  dengan amar   ma’ruf   kepada kekuasaan   yang   dzalim,   maka perhitungan  antar kekuatan demi maslakhatan  umat.  Jika dengan  inqilabiah tidak didukung dengan  kekuatan  yang memadai  dan akan menjadikan kehancuran umat  Islam maka inqilabiah    harus dihindari.  Sedangkan  jika   dengan kekuatan   yang  memadai dan  dipastikan   umat   Islam memenangkannya maka Inqilabiah menjadi keharusan.[19]

Guliran  Amin  Rais,  dengan  program   reformasi ternyata  mendapatkan  dukungan dan  kekhawatiran.  Tokoh Muhammadiyah generasi tua, tampaknya menaruh kekhawatiran yang mendasar atas perilaku Amin Rais. Selama perjalanan Muhammadiyah,   banyak   tokoh  Muhammadiyah melakukan perbaikan  melalui pola Ishlah an-sich,  sehingga ketika pergantian   kepemimpinan  Muhammadiyah  dari  M. Azhar Basyir, kalangan Muhammadiyah menunjuk Amin Rais sebagai pengganti   bahkan   kemudian   terpilih   di muktamarMuhammadiyah  di Banda Aceh, mereka berharap Amin  lebih menonjolkan  sosok  kyai daripada politisi.  Akan tetapi Ishlah yang digulirkan Amin Rais, telah difahami melewati ambang  batas kewajaran Muhammadiyah,  yang mencerminkan politisi daripada kyai.

Dalam   batas  inilah,  Amin   Rais   mendapatkan dukungan  yang  masif dari Ahmad  Syafi’i  Ma’arif,  yang memberikan  pemaknaan-pemaknaan  akan langkah  Amin Rais dalam kerangka menjawab kekhawatiran generasi tua. Bahkan dalam satu seminar di UMY, Syafi’i Ma’arif dan Amin Rais siap  diadili  dalam  Muktamar  jika  perilaku   keduanya menyimpang dari khittah Muhammadiyah. Lebih jauh, gerakan ini mendapatkan simpati yang mendalam dari kalangan  muda Muhammadiyah dan kalangan luas terutama dari Mahasiswa.

Sedangkan   gejala   reformasi   dari    kalangan kulturalis,  yang  diwakili oleh NU  menunjukkan  kinerja yang  sebaliknya.  NU yang dulunya sangat  kritis  dengan pemerintah,  menjelang Pemilu 1997 menunjukkan pola  yang harmonis dengan peristiwa di bersalamannya Gus Dur dengan Pak  Harto di Jawa Timur. Sehingga dalam situasi  krisis, di awal  1998, kalangan NU sangat  mengedepankan  konsep Ishlah an-sich, dan tidak mau melewati jauh ke depan.

CRAFTING: FORMULASI REFORMASI ISLAM

Gejala dominannya kekuatan Islam dalam  reformasi dalam  bulan Maret sampai Mei 1998,  setidaknya  terdapat dukungan  dari  segala penjuru. Amin Rais  sebagai  tokoh reformasi,  tampaknya ingin  menyelamatkan Muhammadiyah, umat Islam, ataupun tidak ingin menjebakkan Muhammadiyah dan  Islam sebagai aktor tunggal dalam reformasi.  Sebab ini sangat  berbahaya, sehingga  dalam  batas  tertentu, fenomena ini  sebenarnya  merupakan  bentuk   formulasi aliansi  antar komponen bangsa. Yang mana  jika  terjadi mal-kalkulasi umat  Islam tidak  akan  menjadi  tertuduh besar. Setidaknya Amin Rais dengan Muhammmadiyahnya tidak ingin mengalami pil pahit yang diterima  Hasan  Al-Banna dengan Ikhwanul Musliminnya.[20]

Gejala  reformasi  yang  kemudian  difahami   dan dimaklumi oleh ABRI, ternyata memberikan gaung yang lebih besar  untuk  diteruskan. Artinya  kemungkinan  bentrokan bersenjata  dan kekerasan politik dapat  dieliminir,  dan menjadikan pola inqilabiah menjadi tidak relevan. Langkah yang lebih relevan dan populer adalah dengan Ishlah  plus dukungan segenap komponen bangsa. Kemahiran menata komponen bangsa ini, dicerminkan oleh perilaku Amin yang lebih mengedepankan MAR  (Majelis Amanat  Rakyat) dari pada nama Muhammadiyah dalam  setiap orasinya  menjelang saat-saat  suksesi.  MAR  melibatkan segenap  komponen bangsa, baik dari nasionalis,  Islamis, Sosialis,  yang  tidak dibatasi sekat-sekat  ras,  etnik, agama  dan  kepentingan.              Gerakan  dari  MAR  ini   lebih menunjukkan   gerakan    kulturalis    dalam    kerangka memperjuangkan kepentingan  politik   bersama,   sangat berlainan  dengan pola  gerakan ICMI  yang  dalam  batas tertentu ingin kulturalis, tetapi lebih dimaknai  gerakan politis.

Demikian  pula,  langkah Gus Dur  yang  tampaknya dengan  Megawati tidak ingin dalam satu kubu dengan  Amin Rais  dalam  MAR merupakan  bentuk  differensiasi  kerja. Tidak  mau  berdiri  dalam  satu  kubu  memang  menyimpan berbagai  pertanyaan besar. Yang jelas visi Gus  Dur  dan Amin  Rais  dalam  melaksanakan  dan  mengisi  Indonesia, memang berbeda, yang mana keduanya mempunyai kualifikasi yang spesifik dengan legitimasi dan justifikasinya.[21]

Dari  sini terlihat, bahwa kemampuan  mengulirkan reformasi dengan format Islam yang keindonesian, di  mana tanpa menghilangkan komponen bangsa yang lain, menjadikan reformasi menemui jalan yang relatif dinamis dan lancar. Dengan  penataan  dan anyaman yang  baik,  reformasi ini mampu  diterima segenap kalangan dan  membangun kekuatan bargaining  baru  yang melebihi kemampuan DPR/MPR  dalam membagi  kekuasaan  secara  adil.  Sehingga keberhasilan reformasi  yang  melibatkan Umat  Islam  secara inheren, tidak bisa dilepaskan kemampuan crafting yang cantik dari tokoh-tokoh umat Islam.


[1] Lihat dalam Ahmad Mansur Suryanegara,  Distorsi  Sejarah Islam Indonesia, Bandung, Remaja Rosda Karya, 1992

[2]Lihat pasang surut ini dalam Sudirman Tebba, Islam  Orde Baru:  Perubahan  Politik dan Keagamaan, Yogyakarta,  Tiara Wacana, 1993

[3] Lihat dalam Douglas E. Ramage, Democracy, Islam and  The Ideology of Tolerance, London, Routledge, 1995

[4] Lihat dalam Jurnal Ilmu Politik, Tahun 1992

[5] Lihat dalam Douglas Ramage, op.cit.

[6]Lihat  dalam  Kacung Maridjan, Qua  Vadis  NU,  Jakarta, Gramedia, 1992

[7]Sudirman Tebba, op.cit.,

[8]ihat  artikel Dawam Rahardjo, “Islam  dan  Pembangunan: Agenda Penelitian Sosial di Indonesia”, dalam Saiful  Muzani (ed.),  Pembangunan dan Kebangkitan Islam di Asia  Tenggara, Jakarta, LP3ES, 1995

[9]Lihat Doulas E. Ramage, op.cit.

[10]lihat dalam M. Syafi’i Anwar, Pemikiran dan  Aksi  Islam Indonesia: Sebuah Kajian Politik Tentang Cendikiawan  Muslim Orde Baru,Jakarta, Paramadina, 1995

[11]lihat Saiful Muzani, op.cit.,

[12] lihat   pemaknaan   institusionalisasi   dalam   Samuel Huntington, Political Order in Changing Societes, New Haven, Yale University Press, 1968

[13]lihat dalam Saiful Muzani, op.cit.,

[14]lihat dalam M. Syafi’i Anwar, op.cit.,

[15] ibid.,

[16]lihat  lebih jauh dalam kumpulan makalah  dalam  Seminar Tauhid  Sosial di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta,  yang akan dibukukan

[17] lihat dalam Kevin Hewison and Garry Rodan, “The Ebb  and Flow  of Civil Society and the Decline ofthe Left  in  South East Asia”.

[18]Lihat dalam Shireen Hunter (ed.), The Politics of Islamic Revivalism:   Unity  and  Diversity,  Bloomington,   Indiana University, 1988.

[19] Lihat dalam Zainal Abidin Akhmad, Negara Bermoral  Dalam Pandangan Ghazali, Jakarta, Bulan Bintang, 1980

[20]Bandingkan dengan kecelakaan sejarah yang  dialami  umat Islam  dalam  melakukan reformasi di Mesir  1952  dalam  Ali Rahmenea  (ed.), Para Perintis Jalan Baru  Islam, Bandung, Mizan, 1995

[21]lihat dalam kumpulan tulisan yang  dikumpulkan  wartawan Jawa Pos, Dialog Atas Bawah: Amin Rais dan Gus Dur, 1997

Mau belajar lebih jauh dan lengkap klik

http://surwandono.staff.umy.ac.id/files/2010/06/Model-Resolusi-Konflik-di-Asia-Selatan.doc

http://surwandono.staff.umy.ac.id/files/2010/06/SUMBER-PEMIKIRAN-ISLAM-POLITIK-ISLAM.doc

http://surwandono.staff.umy.ac.id/files/2010/06/PEMIKIRAN-KEKHILAFAHAN-AL-gHAZALI.-DAN-IBNU-TAIMIYYAH.doc

http://surwandono.staff.umy.ac.id/files/2010/06/KEPEMIMPINAN-WANITA-DALAM-ISLAM.doc

http://surwandono.staff.umy.ac.id/files/2010/06/ALIRAN-POLITIK-DAN-AQIDAH.doc

http://surwandono.staff.umy.ac.id/files/2010/06/SEJARAH-POLITIK-UMAT-ISLAM-INDONESIA.doc

http://surwandono.staff.umy.ac.id/files/2010/06/POLITIK-SEBAGAI-PENGANTAR.doc

http://surwandono.staff.umy.ac.id/files/2010/06/PEMIKIRAN-POLITIK-ISLAM.doc

http://surwandono.staff.umy.ac.id/files/2010/06/METODE-PEMIKIRAN-POLITIK-ISLAM.doc

http://surwandono.staff.umy.ac.id/files/2010/06/DISKURSUS-PARTAI-POLITIK-DALAM-ISLAM.doc

http://surwandono.staff.umy.ac.id/files/2010/06/TRANSFORMASI-PEMIKIRAN-POLITIK-ISLAM-KLASIK.doc

http://surwandono.staff.umy.ac.id/files/2010/06/PEMIKIRAN-KEKHILAFAHAN-AL-gHAZALI.doc

http://surwandono.staff.umy.ac.id/files/2010/06/HUBUNGAN-DEMOGRAFIS-DENGAN-KONFLIK.doc