Kehidupan Beragama
Mencermati Aliran Salah Kaprah

Oleh: Surwandono

Sebulan terakhir, terkuak beragam aliran baru Islam, seperti Al-Qiyadah al-Islamiyyah, Al-Quran Suci, Hidup di Balik Hidup, dan Bahaisme. Sebelumnya, kita sempat digegerkan oleh Komunitas Eden yang dipimpin oleh Lia Eden. Sedemikian marak aliran keberagamaan yang “salah” ini di masa-masa pascareformasi. Selama ini ada penjelasan besar bahwa kemunculan sekte-sekte agama baru tidak bisa dilepaskan dari kebebasan berpendapat dan memeluk keyakinan. Menteri Agama Maftuh Basyuni cenderung menggunakan pendekatan ini untuk melihat kelahiran ajaran-ajaran tersebut.

Namun, ada nalar lain yang sejatinya belum mendapat perhatian yang serius dari pemerintah. Nalar tersebut adalah adanya relasi antara krisis sosial yang terjadi di Indonesia dan deret kelahiran sekte tersebut. Artinya, jika dengan menggunakan nalar ini, selama krisis sosial di Indonesia belum menemukan titik ekuilibrium, potensi lahirnya sekte-sekte keberagamaan tidaklah akan berhenti.

Sekte dan krisis

Dalam studi yang dilakukan seorang orientalis, Shireen T. Hunter, kemunculan sekte-sekte keberagamaan sejatinya merupakan upaya kontemplasi seorang tokoh dalam memahami perubahan-perubahan lingkungan yang dalam kacamatanya tidak mampu direspons dan diselesaikan oleh nalar sistem yang selama ini ada: apakah nalar sistem politik, ekonomi, budaya, atau bahkan agama. Kegagalan nalar-nalar tersebut kemudian direspons oleh sang tokoh dengan memunculkan nalar baru yang sangat genuine dan solutif untuk mengatasi masalah yang ada di masyarakat.

Sebagaimana dalam sejarah panjang Islam, ada kecenderungan terdapat korelasi antara lahirnya seorang mujtahid dan timbulnya krisis sosial yang sedang berlangsung di masyarakat. Lahirnya mujtahid besar, seperti Imam Ghazali, Ibnu Taimiyyah, ataupun Shalahudin al-Ayyubi pada zamannya, masing-masing tidak bisa dilepaskan dari persoalan akut di masyarakat Islam. Demikian pula di Indonesia, lahirnya mujtahid, seperti Ahmad Dahlan, Hasyim Asy’ari, dan Ahmad Surkati, juga tidak bisa dilepaskan dari problem serius dalam masyarakat.

Yang membedakan antara Ahmad Mossadek, Lia Eden, dan para mujtahid Islam tersebut adalah persoalan artikulasi dan arah proses ijtihadnya. Setelah melakukan kontemplasi secara komprehensif terhadap persoalan masyarakat, ada kecenderungan para mujtahid Islam semakin meneguhkan semangat untuk ber-Islam secara kafah atau sempurna. Akhirnya, lahirlah karya monumental seorang Ghazali, Ihya’ Ulumuddin, ataupun dari Ibnu Taimiyyah dengan Minhaj as-Sunnah. Demikian pula dengan kontemplasi Ahmad Dahlan yang melahirkan sebuah peneguhan mendasar untuk kembali pada Al-Quran dan sunah (ruju’ ila qur’an wa sunnah) ataupun Hasyim Asy’ari dengan memperkuat mazhab Ahlul Sunnah Wa al-Jama’ah. Namun, Lia Eden, Mirza Ghulam Ahmad, atau Ahmad Mossadekh justru membuat sebuah cabang atau bahkan mendirikan agama baru dengan melakukan sinkretisasi antarkeyakinan.

Krisis di Indonesia telah menyentuh titik azimut. Bagaimana tidak, Indonesia merupakan representasi negara yang sedang mengalami sakit amat parah: sakit lahir dan batin. Mulai konflik dan kekerasan antaretnik, pengeboman, teror, kemiskinan yang mendera, korupsi, dan mental-mental pemimpin yang tidak amanah, sampai perilaku malas anak bangsa sehingga nilai kompetisi dan daya saing bangsa ini rendah merupakan cerminan kasatmata bahwa Indonesia sedang mengalami krisis yang amat serius.

Nalar-nalar konstitusi, agama, politik, ekonomi, dan budaya yang selama ini menjadi pilar tegaknya negara dianggap sekelompok masyarakat yang resah telah gagal menjalankan perannya. Akibatnya, kelompok tersebut menawarkan sebuah nalar baru yang simpel dan memberikan ruang bersama. Nalar komunitas Eden cenderung menempatkan agamanya sebagai sarana untuk mengurangi konflik antarumat beragama, terutama Islam dan Nasrani, sebagai sebuah kontemplasi maraknya konflik etnik Islam dan Nasrani di Indonesia. Nalar Al-Qidayah al-Islamiyah menawarkan nalar hidup yang simpel dengan memangkas berbagai rukun agama, seperti salat, puasa, dan haji, yang dianggap mempersulit hidup dengan menggantinya dengan amalan yang sederhana. Nalar-nalar simpel dianggap komunitas sekte “salah kaprah” ini sebagai nalar yang solutif bagi bangsa Indonesia untuk bisa keluar dari krisis yang berkepanjangan.

Menyelesaikan krisis

Dengan mencermati struktur kelahiran sekte dan ijtihad besar yang berkaitan dengan krisis, diperlukan langkah-langkah serius agar krisis yang sedang berlangsung tidak menyebabkan kemunduran nalar anak bangsa Indonesia. Pertama, seluruh anak bangsa Indonesia harus melakukan ikhtiar secara serius untuk melahirkan ijtihad yang benar guna menyelesaikan krisis bangsa ini. Krisis tidak bisa disikapi dengan hanya berpikir dengan nalar sederhana dan jangka pendek. Para elite harus bisa menjadi contoh bagi rakyatnya dan bukannya rakyat yang menjadi contoh, tapi antara elite dan rakyat harus berbagi contoh yang hasanah.

Kedua, melakukan revitalisasi dan restrukturisasi terhadap nalar-nalar pembangun bangsa ini secara serius dan komprehensif, seperti nalar demokrasi, pembangunan, kehidupan beragama, dan pengelolaan negara, sehingga akan ditemukan suatu nalar baru yang solutif-visible bagi penyelesaian krisis bangsa ini dengan tidak meninggalkan nilai fundamental dari nalar-nalar dasarnya. Revitalisasi ini diharapkan akan menghasilkan sebuah semangat baru untuk kembali bangkit menjadi bangsa yang bermartabat dan tidak berkubang pada masalah-masalah klasik.

Ketiga, negara harus melakukan pengelolaan terhadap bangsa ini secara serius dan hati-hati dalam menghadapi kontraksi masalah sehingga tidak terpeleset lagi ke dalam lingkaran setan krisis yang tidak berujung-pangkal. Sebagaimana diketahui bersama, krisis ekonomi 1997 tidak bisa dilepaskan dari sikap over confidence rezim Soeharto dalam merespons krisis moneter yang sedang melanda Asia-Pasifik. Demikian pula sekarang ini, dalam badai masalah melambungnya harga minyak dunia dan kontraksi saham internasional, munculnya aliran-aliran “salah kaprah” hendaknya tidak dianggap remeh. Sayangnya, dalam menyikapi masalah-masalah terakhir ini, rezim Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla cenderung menganggapnya sebagai masalah remeh dan mudah diselesaikan. Sudah sepatutnya, rezim Yudhoyono-Kalla mengembangkan sikap profesional dalam menghadapi beragam masalah, sehingga bangsa ini tidak kembali jatuh ke dalam lubang krisis, yang kemudian akan menjadi stimulan lahirnya nalar-nalar nyleneh yang melelahkan pikiran dan perasaan.

Surwandono
DOSEN FISIPOL UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA DAN KANDIDAT DOKTOR ILMU POLITIK UNIVERSITAS GADJAH MADA, YOGYAKARTA
http://news.okezone.com/index.php/ReadStory/2007/09/28/58/50178/memaknai-aksi-biksu