Tradisi Partai Politik

Oleh: Surwandono

Sekarang ini Kementerian Hukum dan HAM telah menerima berkas 37 organisasi politik yang memiliki harapan untuk dapat disahkan menjadi peserta Pemilu 2009. Tiga partai baru yang muncul adalah PKNU sebuah partai PKB versi Chairul Anam, Partai Matahari Bangsa (PMB), dan Partai Negara Kesatuan Republik Indonesia (PNKRI) yang diketuai Sys NS.

Namun, di sisi lain terdapat keinginan dari partai politik yang sudah mapan di parlemen untuk menghambat partisipasi partai politik baru dan gurem dalam proses politik karena justru dianggap membuat pemborosan dan merecoki pemerintah yang sedang menjalankan programnya melalui peningkatan electoral treshold 4–10%.

Terlalu banyaknya partai politik dianggap sebagai ”biang kerok” tidak efektifnya sistem pemerintahan karena terlampau sulit mendapatkan suara mayoritas agar bisa tegas mengambil sebuah keputusan. Apalagi partai politik senantiasa meminta konsesi-konsesi tertentu atas kebijakan pemerintah.

Tradisi Partai Politik

Dalam perbincangan partai politik, ada dua mainstream besar yang dipergunakan oleh para ilmuan politik untuk mengategorisasi partai politik. Tradisi partai politik kuat dan tradisi partai politik lemah. Dalam tradisi partai politik kuat, partai politik merupakan cerminan aspirasi dan ideologi masyarakat yang teramat mendalam.

Partai akan senantiasa diidentikkan dengan kultur tertentu sehingga platform partai politik relatif sudah mapan dan tidak dipersoalkan lagi oleh para konstituennya. Program-program yang diusung oleh partai politik senantiasa sebagai hasil breakdown dari aspirasi dan ideologi partai sehingga tidak mudah tergoda oleh isu sesaat bahkan temporer.

Sedangkan dalam tradisi partai politik lemah ada kecenderungan ideologisasi partai hanyalah sebagai sebuah strategi mendapatkan perhatian dari konstituen. Partai bukanlah satu-satunya jalan untuk memperjuangan aspirasi politik secara absolut, bahkan cenderung tidak dipercayai lagi dalam memperjuangkan kepentingan sehingga partai politik cenderung memiliki platform politik pelangi.

Ibarat sebuah ruang, jika luas akan bisa menampung banyak pihak. Tradisi ini memiliki korelasi yang kuat dengan sistem pemilihan dalam proses politik. Tradisi partai politik kuat cenderung akan mempergunakan sistem distrik secara murni. Partai politik akan bersaing sehat dalam proses politik, bahkan para kandidat harus berupaya maksimal mempresentasikan diri agar diterima konstituen.

Barang siapa tidak memiliki dan merepresentasikan keunikan atas kandidat yang lain, jangan harap akan mendapatkan suara. Tradisi ini berkembang marak di Amerika Serikat dan Eropa Utara. Sedangkan tradisi partai lemah cenderung mempergunakan sistem pemilihan proporsional, di mana faktor koneksitas organisatoris lebih dominan dibandingkan dengan keterdekatan dengan konstituen.

Seorang yang tidak populer di masyarakat bisa saja terpilih jika ia mendapatkan posisi nomor kecil dibandingkan dengan kandidat yang popular, tapi memiliki nomor urut besar. Dalam tradisi partai kuat, ada kecenderungan menghasilkan formasi partai politik yang terbatas, hanya bergerak dari dua-tiga partai. Namun, dalam tradisi partai lemah, jumlah partai politik bisa sangat banyak.

Bagaimana dengan Indonesia? Warna tradisi partai politik di Indonesia dalam kacamata Herbeith Faith dan Lance Castle sebenarnya memiliki potensi dengan tradisi partai kuat. Dia mengatakan, ada lima politik aliran kuat di Indonesia; nasionalis, Islam, sosialisme demokrat, tradisionalisme Jawa, dan komunisme. Politik aliran ini sedemikian kuat tecermin dalam pemilu 1955.

Namun, dalam proses politik pada masa Orde Baru, proses membangun tradisi partai politik kuat cenderung mempergunakan cara-cara kekuasaan yang akhirnya justru menghilangkan banyak tradisi politik aliran. Apakah PPP, Golkar dan PDI merupakan cerminan alamiah dari warna aliran politik? Apakah tujuh partai politik terbesar dalam kontes politik 2005 juga cerminan politik aliran? Karena itu, instrumen electoral treshold sebagai sebuah sarana menuju tradisi partai kuat, kesemuanya masih debatable.

Tradisi partai politik dalam dua pemilu terakhir belum menunjukkan arah yang kuat terciptanya tradisi partai politik yang kuat. Platform partai politik yang sangat cair sehingga mudah mengedepankan pragmatisme politik dibandingkan upaya perawatan ideologisasi. Maka, tidak salah kiranya terdapat suara mengambang, cair dan berpindah-pindah dari para konstituen.

Sebagai indikator bahwa proses pembangunan politik terhadap massa tidak berjalan baik. Fenomena munculnya partai politik sempalan yang menghinggapi partai-partai besar seperti PDIP, PKB, dan Demokrat akhir-akhir ini menunjukkan bahwa partai politik belum menjalankan tradisi politik dengan baik. Proses membangun tradisi partai politik kuat adalah tidak sederhana.

Pemaksaan melalui UU secara prematur justru akan melahirkan tradisi partai politik jalanan. Partai politik bukan lagi sebagai sarana penyelesaian politik melalui lembaga politik dan bermartabat, namun justru menjadi ruang baru bagi kelompok politik untuk membuat kericuhan yang lebih sulit dikendalikan karena tidak tertampung dalam lembaga politik.

Artinya, pembuatan angka ET secara sepihak justru akan membuat perangkap bagi munculnya konflik politik yang tidak produktif. Pemaksaan ET dalam derajat yang tinggi tanpa diiringi pembangunan tradisi politik secara komprehensif hanya akan menghasilkan kemudaratan daripada kemaslahatan.

Di sisi lain, menyerahkan urusan politik parlemen kepada partai politik yang cenderung tidak memiliki platform yang koheren dengan programnya justru akan memberikan kesempatan bagi partai politik untuk menjalankan politik secara serampangan dan tidak terukur. Partai-partai politik besar cenderung juga sedang melakukan proses ideologisasi politik di tengah iklim politik yang ditawarkan republik ini yang cenderung menyukai tradisi politik pelangi daripada tradisi politik yang lugas serta ideologis.

Artinya, dalam partai-partai besar di Indonesia pun sedang dipertanyakan tradisi politik yang sedang dijalankannya. Maka, agenda utama dari UU Partai Politik dan Pemilu lebih kepada penciptaan iklim untuk membangun tradisi partai politik kuat, yang pada akhirnya akan memberikan solusi terbaik bagi masyarakat untuk memilih partai politik yang mengembangkan tradisi politik yang cerdas. Wallahu a’lam.

SURWANDONO
Dosen Fisipol UMY dan
Mahasiswa Doktoral Ilmu Politik UGM

http://www.unisosdem.org/ekopol_detail.php?aid=7031&coid=3&caid=3