MEREKONSTRUKSI JIHAD

Jihad merupakan konsep yang sangat substantif dalam ajaran Islam. Sebuah konsep yang akan menggerakan aktivitas muslim dalam rangka menggapai keridhaan Alloh. Namun akhir-akhir ini jihad mengalami makna peyoratif, makna yang semakin memburukan makna sesungguhnya. Jihad telah menjadi konsep yang sangat menggerikan dan destruktif bagi kemanusiaan.
Upaya untuk merekontruski jihad telah meluncur dari berbagai kalangan, baik dari MUI, Depag, ataupun kalangan pesantren sebagai bagian dari tanggung jawab sosial untuk meluruskan makna jihad dalam arti yang proporsional dan maslakhat. Tulisan ini akan memberikan sumbangan pemikiran dalam proses merekonstruksi jihad.

Makna Dasar
Azyumardi Azra pernah memberikan analisis tentang makna jihad dalam bukunya Pergolakan Pemikiran Politik Dalam Islam (1998) dalam makna tamsil yang sangat menarik, yakni bagaimana seseorang melakukan aktivitas menanam sesuatu pohon yang bermanfaat di atas batu yang tandus. Secara harafiah adalah sangat sulit tanaman di atas batu, karena biasanya batu hanya bisa ditanami dengan tanaman-tanaman yang kecil seperti jamur ataupun lumut. Jelas pesan tamsil tersebut memerlukan pemahaman yang sangat mendalam. Sehingga para mufasir kemudian memberikan makna jihad dalam bentuk “bersungguh-sungguh” dalam melakukan sesuatu. Sebab hukum baku dalam fiqh Islam tentang “syaik” (sesuatu) adalah mungkin atau bisa dilaksanakan. Sehingga menanam pohon di atas batu dan tumbuhan tersebut akan tumbuh dengan subur dan menghasilkan adalah sesuatu yang mungkin.
Dalam melakukan upaya pendefinisian, biasanya sangat ditentukan oleh dua unsur yakni genus (makna dasar) dan diferentia (makna ikutan) sesuai dengan ruang dan waktu. Dalam konteks genus makna dasar dari jihad adalah bersungguh-sungguh dalam melakukan sesuatu (amal saleh) baik yang berdimensikan hubungan kepada Alloh (hablumminalloh) ataupun kepada kemanusiaan (hablumminnas). Selama ini jihad yang bersungguh-sungguh cenderung berat sebelah ke hubungan kepada Alloh. Artinya melakukan aktivitas ibadah maghdhah harus lebih bersungguh-sungguh dibandingkan dengan ibadah ghairu maghdah. Hubungan kepada Alloh lebih diyakini bisa mensucikan kualitas iman dan taqwa seseorang. Akibatnya ada kecenderungan seseorang yang telah melakukan dosa kepada Alloh dan kemanusiaan cenderung hanya melakukan aktivitas taubat dalam bentuk lisan mengucapkan istighfar tetapi menjadi lambat untuk menutupi kesalahan sebelumnya dengan memproduksi amal salih kepada fihak lain.

http://www.4shared.com/document/xZ1NBCec/Rekonstruksi_Jihad.html