POTRET EKONOMI DAN POLITIK INTERNASIONAL 2005
Analisis Kontribusi Dunia Islam: Renungan Akhir Tahun
Surwandono

Tahun 2005 akan segera berlalu, semua peristiwa yang telah terjadi akan menjadi sebuah bekal dan evaluasi untuk mengkreasinya di tahun yang akan datang. Tahun 2005 dalam bingkai dunia Islam menunjukkan berbagai fenomena yang menarik. Dari persoalan klasik stigma terhadap terorisme, reposisi dan restrukturisasi Dewan Keamanan PBB, persoalan kemiskinan, menguatnya issue nuklir, serta issue tentang penarikan mundur tentara Israel dari Jalur Gaza.
Dalam batas tertentu pertumbuhan ekonomi dan politik internasional juga tidak menunjukan perubahan yang berarti. Tidak ada pertumbuhan ekonomi yang merata, bahkan negara industri maju juga mengalami stagnasi. Demikian pula dalam tata politik internasional, konflik antar negara, idiologi, dan nuklir sedemikian menggejala. Sehingga dalam batas tertentu, penulis bisa katakan tahun 2005 merupakan tahun stagnasi, baik di dunia Islam maupun masyarakat internasional pada umumnya.

Kontribusi Dunia Islam
Menarik sebuah karya yang dibuat oleh intelektual muslim asal India pada abad 20, Abdul Hasan Ali An-Nadwi, dalam karyanya “Kerugian Dunia Akibat Kemunduran Dunia Islam”. Buku ini memberikan sinyal positif bagaimana pentingnya dunia Islam dalam abad 20 ataupun abad-abad ke depan. Atau jangan-jangan berbagai kemunduran moral politik internasional dalam 1 abad terakhir karena ketidakmauan komunitas internasional untuk mengapresiasi dunia Islam, sehingga jika masyarakat internasional berekspektasi terhadap kemajuan dalam tata hubungan internasional, apresiasi terhadap dunia Islam adalah sebuah variabel deterministik, variabel yang sangat menentukan.
Hal ini berangkat dari berbagai asumsi yang teramat penting yang mewarnai tata kebijakan internasional kepada dunia Islam; pertama, dunia Islam diyakini sebagai dunia problem, komunitas yang selalu bermasalah baik dari persoalan ekonomi, politik, sosial, militer. Konstruksi ini kemudian memberikan prasaran bahwa dunia Islam masih belum bisa menyelesaikan masalahnya sendiri. Bagaimana mungkin dunia Islam akan mampu memberikan kontribusi politik dalam sistem hubungan internasional. Namun asumsi yang pertama ini kemudian cenderung dinafikan dengan munculnya asumsi kedua, yakni dunia Islam harus dijadikan dan dikontruksi sebagai dunia yang selalu bermasalah. Bahkan jika sudah ada tanda-tanda proses recovery dalam berbagai bidang, proses tersebut harus dihambat bahkan ditenang.
Dalam satu dekade terakhir, tampak sekali asumsi yang kedua lebih dominan dibandingkan dengan asumsi pertama. Ada suatu upaya sistematis dari regim internasional untuk menjadikan dunia Islam sebagai masyarakat yang harus bermasalah. Kasus pemberangusan terhadap gerakan Islam yang memenangkan proses politik secara demokratis, baik di Aljazair, Turki ataupun terakhir di Mesir menunjukkan tanda yang jelas bagi regim internasional tidak menghendaki regim politik Islam menjadi aktor negara dalam sistem internasional.
Demikian pula upaya dunia Islam untuk mendapatkan kursi dalam struktur Dewan Keamanan Tetap PBB juga tidak digubris sebagai bentuk representasi idiologi dalam tata hubungan internasional. Bahkan Jepang sebagai sebuah entitas etnik yang kecil mendapatkan apresiasi yang sangat mencolok.
Berbagai ragam kebijakan regim di dunia Islam untuk meng-introdusir kembalinya sistem dinar dirham sebagai alat tukar mata uang dunia Islam juga mendapatkan tantangan yang sangat berarti dengan statement yang cenderung memojokan, “kembali ke eksklusivisme adalah bentuk kemunduran”. Sedangkan jika difahami secara komprehensif, sistem dinar dirham bukanlah sistem yang eksklusif, sebuah sistem yang inklusif seperti halnya dalam sistem yang dibangun dalam Bretton Woods yang menggunakan asumsi standar emas.
Upaya rekonsialiasi yang mulai terbangun diberbagai wilayah konflik seperti di Iraq, Afghanistan, Palestina, Pakistan kemudian direcoki oleh sistem internasional sehingg kemudian menciptakan ketegangan baru atau bahkan konflik yang lebih dramatis. Konflik di Iraq sekarang ini jelas lebih memakan korban dan merusak sistem politik dan ekonomi. Berbagai ragam kekerasan di Iraq sekarang ini telah menyamai indeks kekerasan di Palestina-Israel. Demikian pula konflik di Afghanistan pasca serangan AS dan sekutunya juga telah memunculkan konflik etnis yang lebih dahsyat.
Demikian pula kemajuan teknologi yang diserap oleh dunia ketiga, seperti yang dikembangkan Iran dipersoalkan dengan sangat masif. Nuklir di Iran sangat berbeda dengan nuklir di Korea Utara, namun regim internasonal melakukan politik generalisasi untuk menghambat perkembangan nuklir di dunia Islam.
Pemborosan Energi Dunia
Menarik apa yang ditulis oleh seorang Steven Covey dalam bukunya Principle Centered Leadership, yang menganalisis tentang perilaku perubahan organisasi dari force field model, modal interaksi antara kekuatan pendorong dan penghambat perubahan. Covey memberikan ilustrasi yang sangat menarik model ini dengan sebuah contoh seseorang yang mengendarai mobil, yang kemudian menjalan dua tuas sekaligus yakni tuas pedal gas dan rem. Maka akan bisa dibayangkan bahwa laju mobil akan lambat, bensin jelas akan sangat boros, mesin menjadi panas, dan alat rem akan segera aus. Model ini sangat cocok untuk menggambarkan bagaimana regim internasional telah melakukan kesalahan manajemen yang sangat fatal. Sangat besar kemungkinan kesalahan manajemen yang tidak berprinsip ini akan mengubur masyarakat internasional dalam kuburan yang sangat dalam dan meyakitkan.
Berapa alokasi dana yang telah tertumpang sia-sia dengan agenda perang terhadap Afhanistan dan Iraq yang bukan termasuk just war (perang yang adil) yang direkomendasikan oleh perjanjian Wina. Milyaran dollar kemudian tertumpah kembali atas nama perang terhadap terorisme, sebagai akibat mis-kalkulasi yang dilakukan regim internasional. Bukan hanya kerugian ekonomi belaka, perang ini telah menyebabkan temperamen masyarakat internasional menjadi panas, sehingga mudah terbakar oleh issue yang emosional.
Berapa milyar dollars pula yang tertumpang akibat regim intenasional menghambat kemenangan kelompok politik Islam yang telah memenangkan pemilu. Konflik di Aljazair, Turki ataupun di Iraq sekarang ini yang mulai ditandai dimenangkan oleh kelompok Syiah yang cenderung berseberangan dengan regim internasional. Politik islamophobia jelas merupakan politik yang menguras energi yang sia-sia, politik yang tidak menimbulkan kedewasaan berfikir secara matang.
Berapa milyar dollars pula yang tertumpang, dengan membiarkan konflik di Palestina-Israel dengan menempatkan politik untuk menempatkan Israel sebagai fihak yang harus dilindungi dari keterkucilannya dalam politik Arab. Akibat kebijakan ini konflik di Israel, Palestina senantiasa tidak memiliki masa depan ke arah Resolusi.
Berapa milyars dollars yang tertumpah untuk melakukan politik propaganda bahwa kekuatan Islam dan fundamentalisme pararel dengan kekuatan regim terorisme yang akan merusak tata pergaulan internasional. Dari pembiayaan berbagai seminar, konferensi sampai fasilitasi pembuatan UU anti Fundamentalisme dan terorisme serta berbagai pelatihan militer untuk menumpas kekuatan fundamentalisme dan terorisme.
Jika saja regim internasional, membaca dengan sangat emhatik terhadap tulisan Ali Hasan An-Nadwy satu abad yang lalu, atau kemudian sekarang ini membaca tulisan Covey juga dengan emphatik, maka regim internasional akan sangat berkontribusi untuk menciptakan masa depan yang lebih baik dari masyarakat internasonal. Asumsi yang harus dirubah adalah “komunitas islam” dengan segala bentuk derivatnya adalah “source of solutions” dan bukan sebagai “source of problems”. Sebab dengan menempatkan komunitas Islam sebagai “source of problems” justru akan mengguras energi dunia dalam urusan yang tidak substantif atau bahkan mengada-ada. Komunitas internasional harusnya segera belajar kepada pengalaman 1 abad terakhir, tata hubungan internasional yang timpang hanya akan menciptakan kemajuan yang timpang, serta akan menularkan berbagai fenomena patologis yang sulit disembuhkan. Atau dengan mensitir nasehat Covey, gunakan pegas Rem dalam hal-hal yang sangat substantif. Dan gunakan pedal Gas untuk memacu kemajuan juga secara bijaksana. Menancap gas di medan yang tidak pantas juga akan menyebabkan kerusakan mesin di satu sisi juga akan menyebabkan destruksi kepada lingkungan . Kiamat ekonomi dan politk sangat mungkin lebih disebabkan oleh paradigma menekan pedal gas secara sembarangan dan tidak bijaksana, seperti yang telah tersurat dalam Protokol Kyoto. Semoga Bermanfaat. Wallohu A’lam.

http://www.4shared.com/document/fcOjh5mn/POTRET_DUNIA_ISLAM_PADA_2005.html