RAKYAT DIBAWAH BAYANGAN REGIM TRIALS AND ERRORS
Surwandonoi
Tulisan beranjak dari kegelisahan penulis terhadap managemen regim Indonesia dalam Orde Reformasi yang cenderung menunjukan pola trials and errors (coba-gagal). Sebuah manegemen yang cenderung menggunakan paradigma MBA yakni management by accident. Jika ini memang kenyataannya maka pantas seorang Iwan Fals dengan sangat satire-nya dalam album Manusia ½ Dewa menuntut agar Presiden yang baru untuk tidak menjadikan rakyat sebagai “mainan dan hiburan.”
Fakta
Rentetan fakta dari regim trials and errors adalah; pertama, pengelolaan pemerintahan cenderung diwarnai politik dagang sapi yang teramat mencolok. Siapa yang berjasa terhadap kemenangan politik harus diakomodasi, dan kemudian untuk menghindari makna peyoratif dari dagang sapi diambilah sebuah bahasa yang penuh eufisme, politik pelangi. Politik keberagaman yang akan membawa panorama yang indah, menjanjikan dan produktif.
Hasil dari politik pelangi ternyata hanya lebih menguntungkan elit politik daripada rakyat. Tontonan pelangi politik ternyata justru menunjukan managemen pemerintahan yang tidak professional dan berfihak kepada rakyat. Pelangi menjadi pemandangan yang tidak lagi sedap dipandang mata, fatamorgana yang menipu.
Kedua, otonomi daerah yang selama ini didengungkan sebagai proses desentralisasi untuk mensejahterakan rakyat ternyata lebih banyak menguntungkan elit politik local. Masyarakat kemudian justru terbebani oleh pajak ataupun retribusi untuk menaikkan pendapatan asli daerah. Munculnya elit local dalam era otonomi daerah justru memunculkan raja-raja kecil. Jika kalah dalam persaingan menjadi raja kecil, regim trials and errors masih punya resep dengan konsep pemekaran wilayah menjadi propinsi baru ataupun kabupaten/kota yang baru. Lagi-lagi rakyat yang terugikan karena pemekaran malah lebih banyak menghasilkan konflik daripada mendapatkan kesejahteraan. Sehingga rakyat kemudian banyak menolak upaya pemekaran wilayah yang didasarkan pada trials and errors.
Ketiga, proses pembuatan UU sebagai mekanisme regulasi masyarakat untuk mendinamisasi masyarakat secara progresif dan sehat serta implementasinya juga cenderung diwarnai dengan trials and errors. Contoh yang sangat jelas adalah RUU-APP yang terkesan sebagai produk kebijakan trials and errors . Akibat proses pembuatan yang tidak komprehensif justru menyebabkan debat dan konflik di tingkat grass-roots sangat massif. Berapa banyak energi masyarakat yang terkuras mubazir akibat regim trial and errors ini. Belum lagi dengan manajemen bencana regim trials and errors justru semakin menyakitkan masyarakat yang telah menjadi korban bencana. Bagaimana perih dan sakit korban bencana, akibat kebijakan dan implementasi kebijakan pemerintah yang plin-plan.
Kita bisa bertanya kepada rakyat Aceh, Jogja, Jateng, Pangandaran ataupun Sidoarjo yang menjadi korban bencana alam, yang justru mendapatkan kepahitan lebih dari bencana itu sendiri karena kebijakan plin-plan tersebut. Masyarakat Porong Sidoarjo merasakan betul nasibnya sekarang ini ditentukan oleh kebijakan trials and errors, penuh ketidakpastian sehingga beramai-ramai ingin melego rumahnya sebagai tempat untuk berteduhnya.
Keempat, reshuffle cabinet sebagai elemen yang penting untuk mengukur regim trials-errors. Pergantian menterri sering disebut sebagai upaya evaluatif terhadap kinerja menteri secara fairness demi pertanggungjawaban kepada rakyat. Hampir setiap tahun senantiasa didera oleh issue reshuffle yang sangat tidak menyenangkan bagi rakyat. Yang mendapatkan untung hanyalah elit politik lagi yang mendapatkan kursi baru dan empuk. Pertanyaannya adalah apakah seorang presiden ketika memilih pembantunya telah dilakukan secara sungguh-sungguh ataukah masih dengan managemen trials and errors. Pergantian menteri yang rutin per tahun bisa dimaknai sebagai manajemen tambal sulam yang seharusnya tidak pantas lagi dilakukan oleh pemerintah yang mengikhtiarkan kemakmuran dan kesejahteraan.
Apakah layak mengelola Indonesia Raya yang berpenduduk lebih dari 250 juta, dipenuhi dengan kumpulan pulau, etnis, bahasa, agama dan keanekaragaman ini diperlakukan secara trials and errors. Apa jadinya republic ini jika regim trials and errors masih terus menjadi paradigma.
Kelima, yang juga menyakitkan ternyata data kemiskinan yang dilaunching oleh pemerintah adalah data trials and errors. Data memang sesuatu yang bisa memberikan keyakinan dan sekaligus menjadikan keraguan. Karena data sebenarnya adalah kumpulan fakta yang kasat mata oleh masyarakat. Jika proses agregatisasi fakta tersebut tidak hati-hati justru data akan tidak mewakili realitas yang dipotretnya, alias data tersebut asli tapi palsu. Sedemikian parahnya regim ini sampai menyampaikan data saja kepada rakyat adalah data trials and errors. Apa jadinya republic ini jika data yang dikoleksi pemerintah adalah data trials and errors.
Kontemplasi
Dalam konteks penelitian dan proses keilmuan, memang dikenal salah satu proses mencari sebuah kebenaran dilakukan dengan trails and errors methods. Sebuah metode untuk melacak derajat regularitas kemunculan sebuah fenomena, yang kemudian akan diyakini sebagai sebuah kebenaran. Namun yang harus difahami bahwa proses trials and errors tersebut hanya melibatkan sample yang terbatas, sehingga efek dari proses trials and errors tersebut bisa dilokalisir oleh seorang peneliti.
Meminjam seorang Stephen Covey dalam mengklasifikasi jenjang manajerial, seorang top manajer seharusnya harus mengembangkan cara berfikir yang kontemplatif bukan lagi yang teknis. Sebuah proses berfikir yang mendalam, terpadu, terarah, mengasah nurani dan akal, untuk menghasilkan sebuah kebenaran yang mantap, dan berproyeksi masa depan. Namun yang sering terjadi banyak elit politik di regim reformasi ini tidak menyadari posisi diri sebagai top manajer atau memang tidak layak menjadi top manager.
Republik ini menghendaki pengelolaan Negara secara professional sehingga nasib rakyat yang telah menyerahkan mandate pengelolaan Negara ini kepada pemerintah harus dijalankan dengan amanah dan penuh tanggungjawab. Mengutip syair Iwan Fals yang menyatakan, “meskipun hidup ini adalah permainan, dan hiburan, namun jangan mempermainkan dan menjadikan rakyat sebagai hiburan”.
Mengelola Republik yang penuh dengan keragaman membutuhkan kemampuan kontemplatif seorang pemimpin. Sudah selayak semua elit politik dan pengelola republik ini untuk mengembangkan proses berfikir yang kontemplatif, guna mengurangi dampak sistem pengelolaan negara yang bernuansakan trials and errors.

http://www.4shared.com/document/CM9MDoKI/Regim_Trials_and_Errors.html