Siapakah Sesungguhnya Yang Sakit: Bangsa Atau Regime
Tanggapan Terhadap Opini Taufiq Effendi
Surwandono
Dosen Fisipol UMY dan mahasiswa Doktoral Ilmu Politik UGM
Taufiq Effendi (TE) menulis sebuah tulisan yang cukup menggugah kritik, “Bangsa Yang Sakit”, Sindo 28 Februari 2007. Dalam tulisan tersebut mengambarkan bahwa ada terdapat sikap akumulatif keburukan sebuah bangsa, yang berasal dari perilaku yang “tidak terpuji “ anggota masyarakat. Akibat keburukan perilaku tersebut, kemudian alam Indonesia tidak ramah lagi kepada bangsa Indonesia, dengan hadirnya berbagai ragam bencana menghampiri republik ini secara bertubi-tubi.
Dari bencana alam, banjir, tanah longsor, kelaparan akibat membumbungnya harga beras, sampai bencana transportasi, baik laut, darat dan udara terdapat kesan disebabkan oleh kecerobohan dan ketidakpekaan masyarakat terhadap masyarakat lain dan lingkungan. Sedemikian lugasnya tulisan tersebut menyebut nama-nama inisial, yang khas nama rakyat dan bukan nama para elit. Namun tulisan sang Menteri PAN ini tidak menyebut secara eksplisit ataupun implisit yang menyoal perilaku tidak terpuji dari birokrasi regim yang senantiasa dihadiahi oleh TII dengan kado Pahit sebagai pelaku Korupsi dan Penerima Suap terbesar terbesar di bangsa Indonesia.(Sindo, 28 Februari 2007).

Siapakah Yang Sakit ?
Kalimat retoris ini menjadi ending tulisan TE, “bangsa yang sakit ataukah karena aku sedang sakit”. Penulis tidak sepakat dengan beberapa narasi dan eufhisme yang ditawarkan TE yang cenderung melihat “bangsa” ini sedang sakit bukan regime-nya yang sakit. Sebagai bagian tak terpisahkan dari inner circle kekuasaan, Pak TE tampaknya lupa melakukan kontemplasi atas keburukan perilaku regime, seperti yang sudah ditenggarai oleh TII, yang sebenarnya justru jauh lebih sakit
Dalam sejarah kita menemukan istilah yang khas yang merujuk kepada “the sick”. Sebut saja istilah “the sick man” sebuah atribut yang pernah dilabelkan kepada regime Turki Utsmani, sebuah regim yang sangat kuat di abad 19, yang mampu mengkontrol kekuasaan Eropa. Namun di awal abad 20, regim Turki Ustmani, negara great power state kalah perang dengan negara small power, Yunani, tatkala memperebutkan Cyprus. The Great power ini juga menangguk hutang yang sangat besar, yang akan segera oleh sebuah LSM, Zionisme Internasional, asal masyarakat Yahudi mendapatkan hak eksklusif di Palestina. Siapakah yang sebenarnya ambruk dan terkulai lemas, bangsa Turki ataukah Regime Turki Ustmani ?
Kiasan Turki Utsmani, para sejarawan pernah tidak melihat kesalahan Turki berada di tingkat “nations”. Dalam kasus Turki Ustamani, yang sakit adalah regime Turki Utsmani bukan bangsa Turki Utsmani. Bangsa Turki masih sehat sehingga lahirlah gerakan reformasi yang dipelopori oleh Mustafa Kamal Pasha yang menggulingkan dan membekukan kelembagaan Khilafah Islamiyah bersama dengan kekuatan Eropa yang selama ini menjadi kompetitornya.
Jatuh bangunnya peradaban bangsa dalam lintasan sejarah senantiasa tidak diawali oleh “nations” yang sakit namun justru senantiasa diawali oleh “regimes” yang sakit. Seorang Joseph Nye dalam bukunya Leading World (1992) menganalisis tentang jatuh dan terpuruknya bangsa justru berawal dari ketidakpekaan regime dalam merespon dan mengantisipasi sesuatu. Hal ini dipertegas dalam sinyal Lord Acton tentang sakitnya regime senantiasa ditenggarai oleh kebiasaan buruk regim untuk melakukan penyimpangan atas kekuasaan yang diembannya. Regime-lah yang senantiasa menjadi primus interpares, dari kejatuhan bangsa karena melakukan syahwat kekuasaan, Power tends to corrupt.
Sebagaimana pepatah bijak, “Guru Kencing Berdiri, Murid Kencing Berlari”. Guru menjadi determinan faktor bagi rusaknya akhlaq si Murid, dan bukan Murid sebagai determinan faktor rusaknya akhlak guru. “Rusaknya satu orang pemimpin jauh lebih berbahaya dari rusaknya 1000 orang yang dipimpin”. Pemimpin jauh lebih memiliki efek bola salju dalam menciptakan kerusakan daripada masyarakat. Bahkan dalam konteks budaya agraris di mana tradisi patron klien sangat kuat, seorang al-Ghazali pernah berfatwa bahwa “baik buruknya dunia dan akherat tergantung kepada baik buruknya pemimpin atau khalifah.” Hal serupa juga bisa ditemui dalam pepatah Jawa “ Ing Ngarso Sung Tuladha”, keteladan harus menjadi citra dari pemimpin, dan menjadi kebiasaan absolut jika hendak jadi pemimpin, sehingga masyarakat yang akan mengikuti jejak pemimpin. Namun apa lacur, kita sering menemukan bahwa para pemimpin justru harus belajar dari yang dipimpin. Apakah jagat ini mulai sudah terbolak-balik ?
Bagaimana Indonesia ?
Indonesia layak seperti sebuah keluarga. Jika dalam suatu keluarga terdapat masalah yang berkaitan dengan perilaku anak yang tidak baik, maka sebagai orang tua yang baik tidak akan langsung menyalahkan anak, akan tetapi justru menyalahkan diri dulu mengapa tidak bisa mengasuh dan membimbing anak dengan pemberian yang terbaik. Jika anak sakit karena berperilaku tidak bersih dan hygiens maka sebenarnya orang tua turut berkontribusi terhadap lahirnya perilaku anak yang tidak menghargai prinsip hidup sehat.
Demikian halnya dengan kasus di Indonesia, para pemimpin bangsa ini menyalahkan diri mereka sendiri sebelum melakukan koreksi dan tuduhan pada fihak lain. Mengapa para pemimpin yang mendapat mandat dan diberikan beraneka ragam kekuasaan bahkan kekuasaan berlebih tidak mampu mengkontrol perilaku masyarakat guna mencapai cita-cita pendirian bangsa ini. Mengapa masih banyak rakyat Indonesia masih melakukan tindakan tidak terpuji, indeks kesejahteraan masih rendah, prestasi olah raga kembang kempis. Apa gunanya kekuasaan yang diberikan rakyat kepada regim yang berkuasa, jika regim tersebut tak bisa mengentaskan problem dasar bangsa ini.
Para pemimpin bangsa ini tampaknya terjangkiti sindrom, gadjah dan semut. Kesalahan dan kekurangan diri meskipun sebesar gadjah dan berada di dekat pelupuk mata sendiri, tidak akan terlihat. Namun jika ada kesalahan sekecil semut dan jauh, yang dilakukan oleh rakyatnya maka akan terlihat dengan sangat jelas. Jika demikian halnya, para pemimpin Republik ini jangan-jangan menderita “rabun dekat”, jika melihat di kejauhan sangat kritis namun jika melihat diri sendiri selalu penuh dengan kekaguman dan bersih dari dosa dan aib.
Pak TE, bangsa ini jelas tidak sakit, bangsa ini masih bergairah untuk tumbuh berkembang secara mandiri. Bangsa ini masih memiliki nalar kritis, dan moral yang beradab, bangsa ini juga memiliki jejak kegemilangan di masa lampau. Bangsa ini hanya ingin kepada para pemangku regim di Republik ini untuk memberikan pengabdian terbaiknya guna mewujudkan negara yang Gemah Ripah Lohjinawi, Tata Titi Tentrem Karto Rahardjo. Amin.

http://www.4shared.com/document/gIi7jrPn/Regime_Tanpa_Wibawa.html