Resolusi Konflik Islam I

RESOLUSI KONFLIK

Konflik merupakan fenomena sosial yang telah seusia dengan peradaban manusia. Hal ini bisa disaksikan bagaimana pengalaman manusia pertama di muka bumi Adam, yang harus menyaksikan tragedy konflik antar anaknya; Habil dan Qabil. Bahkan penciptaan Adam juga telah memancing konflik antar makhluk Alloh yang sudah diciptakan lebih dulu, yakni Iblis, Malaikat. Bagi Malaikat dan Iblis penciptaan Adam, bisa difahami sebagai kompetitor dalam mengabdi pada sang Khalik. Dengan penciptaan Adam ini pada akhirnya akan menempatkan salah satu makhluk Alloh yang pertama yakni Iblis tidak bisa menerima ujian ini. Iblis akhirnya terpelanting dalam sebuah kesombongan dan tidak menerima resolusi konflik dengan ungkapan yang sangat arogan; Ya Alloh, sungguh saya adalah makhluk terbaik karena Engkau ciptakan aku dari “Api” sedang Engkau ciptakan si Adam hanya dengan tanah. Pernyataan ini yang kemudian menyebabkan hubungan manusia dan Iblis senantiasa bersitegang, bahkan Iblis telah berjanji untuk senantiasa menjerumuskan manusia sampai akhir zaman. Ketidaksediaan Iblis untuk melakukan kompromi, menjadikan konflik antara Adam dan Iblis menjadi konflik idiologis yang kekal sepanjang masa.

Dari kenyataan asasi seperti tersebut di atas, tak dapat kita pungkiri bahwa gerak makhluk memang harus siap menghadapi gejala ini. Adalah bukan mahkluk hidup yang mulia, manakala manusia yang dikaruniai dengan kemampuan berfikir dan berkembang harus lari dari kenyataan konflik. Bahkan meniru perilaku Iblis yang akan menjadikan wajah di dunia penuh dengan ketegangan, sedangkan manusia diutus ke muka bumi bukan untuk membuat ketegangan, terror, tetapi membangun kemakmuran bersama.

Banyak sekali fakta sejarah kemanusian telah menunjukkan banyak fihak tidak siap menghadapi konflik yang kemudian berakibat konflik menjadi salah satu sebab hancurnya masyarakat. Sehingga teramat wajar sekali bahwa banyak fihak menilai konflik sebagai gejala yang traumatis, dan kalau bisa dihilangkan. Pernyataan seperti ini tidak lebih dari ungkapan keputusasaan sebelum melakukan aktivitas pengelolaan lebih jauh. Konflik sebagai hal yang asasi sangatlah mungkin diolah sedemikian rupa sehingga wajah konflik tidak senantiasa beraroma busuk tetapi Bagaimana tidak, sebelum Indonesia hampir tidak terjadi konflik yang sifatnya manifest, meski di sana sini sudah terdapat konflik yang akut tetapi sifatnya latent. Tatkala konflik yang sifatnya latent tersebut berubah menjadi manifest, seiring dengan dibukanya aspirasi masyarakat pasca reformasi maka terjadilah ledakan konflik di mana-mana. Dari tingkat yang paling kecil sampai ke tingkat yang paling besar, dari issue politik, ekonomi, bahkan sampai ke issue agama. Ketidakmampuan Indonesia mengelola konflik tersebut menjadikan Indonesia seakan menjadi korban konflik. Sedangkan konflik merupakan sebuah sunnah kauniyyah yang tidak bisa dihindari, bahkan sangat mungkin dibalik konflik yang ada terdapat rahmah yang tersembunyi. (Blessing indisguise)

Pertanyaan besar dari fenomena ini adalah mengapa manusia yang   sebenarnya telah menyadari bahwa konflik sebagai realitas sosial yang telah seusia dengan peradaban manusia terjadi kompetisi yang tidak fair antara laju kompleksitas konflik dengan tehnologi resolusi konflik?. Pertanyaan lebih besar lagi akan muncul, bahkan hampir menjadi kepercayaan publik, untuk apa menerapkan manajemen demokrasi kalau malah memberikan ruang konflik yang sangat besar, lebih baik manajemen regim otoriter yang malah menciptakan ketentraman di masyarakat? Pertanyaan putus asa ini semakin lama semakin banyak, dan jika tidak dikelola sedemikian besar, maka akan mengubur secara dini ide-ide demokrasi sebagai ide transformatif.

Jawaban atas pertanyaan di atas, lebih pada persoalan banyak fihak termasuk pengelola masyarakat yang menempatkan konflik sebagai barang haram yang tidak boleh disentuh. Mereka menafikan bahwa kondisi kepentingan manusia yang tidak terbatas yang harus berhadapan dengan sumber daya untuk memenuhi kebutuhan yang sangat terbatas, memang secara alamiah telah melahirkan bibit konflik. Akibatnya tatkala  konflik hadir sebagai akibat ketidakpuasan terhadap ekspekatasi yang diharapkan dengan realitas yang diterima maka banyak kalangan menjadi kalang kabut.

Celakanya lagi, banyak konflik yang sebenarnya bersifat non-idiologis akan tetapi tidak diselesaikan dengan cara-cara yang baik dan fair menyebabkan konflik tersebut mengalami akselerasi ke arah konflik yang sifatnya idiologis. Yang jelas, konflik idiologis seringkali lebih kompleks, dan cenderung sulit diselesaikan dibandingkan dengan konflik yang sifatnya non-idiologis.

Konflik merupakan konsep sosial yang sering dimaknai secara berbeda, bahkan pluralitas makna konflik ini membuatnya menjadi ambigu. Setidaknya pandangan seperti ini diwakili oleh dua perspektif perubahan sosial. Pertama, persepektif struktural fungsional cenderung memandang konflik sebagai gejala patologi sosial yang disebabkan oleh ketidakharmonisan dari sub sistem dalam proses adaptasi menuju perubahan. Dari pandangan ini menyatakan bahwa sumber konflik terjadi karena salah satu sub-sistem tidak berfungsi. Sehingga pandangan ini cenderung menilai konflik sebagai penghambat perubahan sosial, karena hanya cenderung menghabiskan energi. Dan akhirnya perspektif struktural fungsional memandang konflik sebagai gejala yang traumatik dan perlu dihindari.[1]

Kedua, perspektif kelas cenderung memandang konflik sebagai gejala yang sehat dalam masyarakat, bahkan menunjukkan berjalannya fungsi dari sub sistem masyarakat. Sehingga konflik bukan sebagai gejala patologi, bahkan sebagai gejala dinamika dalam proses perubahan. Energi konflik inilah yang dianggap sebagai embrio perubahan, bahkan jika konflik tidak ada dalam masyarakat justru ini yang merupakan masyarakat yang tidak sehat.

Dalam literasi hubungan internasional konflik menurut John Spanier[2] bisa dipilah dalam beberapa hal: Pertama, konflik dalam area high-politics. Jenis konflik ini terjadi lebih berlandaskan pada issue-issue keamanan, idiologi dan gejala persaingan antar negara yang bersifat prestise-politik baik yang bersifat global, regional maupun nasional, bahkan sub nasional. Ada kecenderungan konflik semacam ini akan menghasilkan pola penyelesaian zero-sum-game. Yakni permainan yang akan menghasilkan aktor yang menanng mutlak dan kalah mutlak, sehingga dalam tataran issue ini merupakan gejala either and or.

Kedua, konflik dalam area low politics.[3] Konflik ini terjadi lebih didasarkan pada issu-issue ekonomi, sosial, budaya, teknologi, lingkungan, dan gejala persaingan antar negara cenderung bersifat pragmatisme politik, sehingga dalam batas tertentu ini merupakan perpanjangan gejala merkantilisme pada masa klasik. Ada kecenderungan konflik semacam ini akan  menghasilkan pola penyelesaian non-zero-sum game. Yakni permainan yang memungkinkan terjadi tawar-menawar, sehingga akan tercipta formula kompromi antara fihak yang bersengketa. Kompromi inilah yang kemudian akan menjadi resolusinya, sehingga Charles Tilly menyatakan konflik semacam ini merupakan gejala issue more and less.

Studi yang mencoba mengeksplanasi tentang penyebab timbulnya kekerasan dan konflik telah dilakukan secara akumulatif, baik oleh Ted Gurr[4] dengan teori deprivasi relatifnya, maupun Smelser[5] dengan aspek yang mendukung terciptanya konflik. Teori yang lebih mutakhir mencoba menjelaskan konflik dari sisi inherensi dan kontigensinya. Teori ini dikemukakan oleh Henry Eickstein[6] yang menyatakan terdapat sejumlah konflik yang terjadi lebih didasarkan karena terdapatnya persoalan internal yang kemudian ditansformasikan ke luar.

Hal serupa juga telah disampaikan oleh Wolter S. Jones yang dinyatakan dalam bentuk lain dengan penciptaan integrasi bersama melalui penciptaan musuh bersama. Dari sisi kontigensi lebih disebabkan karena terciptanya milieu atau lingkungan yang akan membentuk konflik. Jadi konflik lebih disebabkan oleh persoalan ekternal yang dalam batas tertentu sebagai hasil rekayasa dari fihak lain, atau dikondusifkan secara struktural oleh lingkungan. Smelser maupun Jones tampaknya juga telah mengidentifikasinya dalam literasi sebelumnya.

Literasi yang mencoba menformulasikan resolusi konflik pernah dibangun oleh  Coob dan Elder[7] yang memetakan konflik dari 1) Luasnya konflik, yakni semakin luas konflik maka harus didekati dari banyak sisi. 2) Intensitas konflik, yakni semakin intens konflik maka harus didekati dengan resolusi yang juga intens. 3) Ketampakan konflik, semakin ketampakan tinggi juga harus didekati dengan formmulasi penyelesaian yang lebih jelas atau manifest.

Studi ini kemudian dikembangkan oleh William Ury[8] yang mencoba menciptakan resolusi konflik dengan memberikan barrier agar ekskalasi konflik berjalan dengan lambat sehingga mudah diselesaikan. Setidak terdapat 3 langkah yang bisa dijalankan: 1) Secara proaktif melakukan aktivitas resolusi konflik untuk menyalurkan ketegangan yang bersifat laten. 2) Segera menyelesaikan konflik yang muncul dipermukaan 3) Upaya pembendungan terhadap segala macam kekuatan perrtahanan yang potensial menyebabkan konflik.

Bagaimana dengan tehnologi konflik dalam Islam, apakah klaim Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin bisa dibuktikan ? Memang sekarang ini umat Islam menghadapi sebuah kendala akut yang menyebabkan Islam identik dengan konflik dan kekerasan. Nuansa konfliknya pun sangat beragam, dari persoalan antar umat Islam sendiri, atau umat islam dengan komunitas lain. Rupa-rupa konflik yang dialami umat Islam cenderung senantiasa bertahan bahkan semakin parah, pola-pola rekonsialiasi sedemikian sulit untuk dikembangkan. Bahkan umat Islam tidak mampu menyelesaikan permasalahannya sendiri. Hal inilah yang kemudian memancing fihak di luar Islam, suka tidak suka terlibat dalam persoalan konflik, apakah semakin keruh atau semakin terurai, proses sejarahlah yang telah dan akan menunjukkan.

Deretan konflik yang dialami umat Islam sudah sedemikian panjang, bahkan mengalami ekskalasi tingkat konflik, dari yang sederhana menjadi kompleks, dari non idiologis menjadi idiologis, dari ruang lingkup sempit menjadi luas. Berapa banyak energi yang dimiliki umat Islam terbuang sia-sia dalam ragam peperangan yang melelahkan. Dan belum terkuak apakah konflik yang dialami umat Islam sekarang ini nantinya akan menjadi penyubur persemaian Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin. Wallohu A’lam jawabnya. Namun sebagai seorang yang memiliki kesadaran sejarah, konflik yang berlarut-larut cenderung menjadi sebuah penyakit social daripada sebuah panasea masa depan. Kepedulian untuk menggali sumber asasi Islam tampaknya menjadi langkah yang paling monumental untuk keluar dari berbagai krisis yang dialami umat Islam.

Terlebih gejala kekerasan dan konflik di umat Islam diprovokasi lebih jauh untuk membenarkan bahwa Islam adalah ajaran kekerasan, dan teroris. Pernyataan pendeta AS yang sangat menyakitkan dengan menyatakan bahwa Muhammad SAW adalah embrio dari terorisme dunia sedemikian menyakitkan perasaan dan harga diri orang islam. Sinyalemen opini dunia yang sudah sekian massive memerlukan kepedulian semua fihak untuk membuka ulang sejarah, apakah tuduhan-tuduhan murahan tersebut dapat dibuktikan, atau malah sejarah akan membuka mata dunia bahwa sang Al-Amin adalah seorang “resolution maker” yang telah memberikan sumbangan sangat berharga bagi tumbuhnya masyarakat yang dinamis dan beradab.


[1] Lihat dalam uraian menarik tentang pendekatan-pendekatan ini dalam Nasikun, Mohtar Mas’oed, Sosiologi Politik, Yogyakarta, PAU UGM, 1995

[2] John Spanier, Games Nations Playing, New York, 1992

[3] Ibid.,

[4] Ted Gurr, Why Men Rebel, New Jersey, princenton Unicersity Press, 1970, hal. 24

[5] Lihat dalam Neil Smelser, Theory of Collective Behaviour, New York. The Free Press, 1971, hal. 79

[6] Lihat dalam Harry Eickstein, Internal War Problems and Approaches, London, The Free Press of Glencoe Collier Macmillan, 1964, hal. 142

[7]Lihat Roger Cobb dan Charles Elder, Participation in American Politics: The Dynamics of Agenda-Building, Allyn and Bacon, Boston, 1972

[8] William Ury,  Getting to Peace: Transforming Conflict at Home, at Work and in the World, New York, 1999

Tags: