BEHAVIORALISME DAN STATISTIK

Pendekatan tradisionalis yang selama ini membangun ilmu politik banyak mengalami kendala dalam proses produksi teori Hal ini disebabkan oleh prasyarakat keterlibatan pembuat teori dalam proses yang ia teliti, dan pengalaman historis membuat teori hanya bisa diproduksi di lapangan saja. Dalam paradigma idialis hubungan internasional, seorang yang akan menduduki posisi politik haruslah memiliki sejumlah pengalaman, yang memungkinkan ia bisa menjalankan dengan baik.

Demikian pula dalam proses memproduksiĀ  teori, pendekatan tradisional yang banyak bercorak kualitatif menuntut hal yang serupa. Seorang peneliti harus terlibat secara intens dalam proses pembuatan teori, yang bisa jadi untuk mendapatkan generalisasi akan memerlukan waktu dan ruang yang sangat panjang. Sehingga tidak berlebihan kiranya jika proses produksi teori menjadi teramat sulit.

Pada akhirnya teori dianggap akan sahih manakala lahir secara alamiah dan tidak mendapatkan perlakuan khusus dari peneliti. Pendekatan kualitatif memang mampu menghasilkan teori-teori yang monumental akan tetapi tidak siap menyediakan penjelasan yang cepat terhadap gejala sosial.

Dari sinilah kemudian mazhab behavioralis mencoba memberikan alternatif bagi proses pembentukan teori-teori melalui penggunaan pendekatan kuantitatif. Pendekatan kuantitatif dalam batas tertentu sangat dekat, bahkan menggunakan alat utamanya adalah statistik. Para peneliti memungkinkan melakukan pengujian dengan membuat parameter di laboratorium masing-masing, baru kemudian diujikan di lapangan. Atau para peneliti bisa mencari data di lapangan baru kemudian diuji di laboratorium. Tradisi berfikir kuantitatif ini sangatlah mirip dengan tradisi berfikir ilmuan eksakta, dan memang para pengagas mazhab ini mengadopsi tradisi ilmiah eksakta untuk membangun teorisasi dalam ilmu sosial.

Mau belajar lebih jauh klik

http://www.4shared.com/document/bcoJu1rq/BEHAVIORALISME_DAN_STATISTIK.html