Nama Timur Tengah merupakan nama yang relatif baru, nama ini mulai diperkenalkan oleh para sarjana Eropa  semisal Mohan yang mencoba mengidentifikasi suatu wilayah yang menghubungkan antara benua Eropa dengan Asia. Benua Eropa seringkali dirujukkan dengan istilah Barat sedangkan Asia sering diistilahkan dengan Timur. Karenanya untuk menyebut wilayah tersebut Mohan menyebutnya dengan Timur Tengah.[1]

Sedangkan secara umum, wilayah ini lebih dulu dikenal dengan istilah kerajaan ataupun pemerintahan yang telah maju sebelumnya. Banyak sekali peradaban besar tumbuh dan berkembang di wilayah ini, dari peradaban Mesir Kuno (Fir’aunisme), Iraq (Hamurabi-Eufrat-Tigris), Suriah (Asyiria), ataupun Peradaban Romawi Timur (di Suriah sekarang) serta peradaban Islam.[2] Dengan banyaknya pertumbuhan masyarakat ini wilayah Timur Tengah inilah di era politik modern kompetisi untuk membangun kembali peradaban masa lalu ke dalam masyarakat kini menjadi sangat masif.

Cakupan Wilayah

Terdapat banyak ragam penulis yang mendefinisikan wilayah Timur Tengah; Pertama mendefinisikan wilayah Timur Tengah dengan berbasis etnis dan bahasa yang digunakan dalam wilayah tersebut. Jika menggunakan batasan ini, Timur Tengah terbentang dari Selatan mulai dari Mesir, Sudan, beberapa negara Maghribi lainnya yang secara geografis masuk benua Afrika. Dari sebelah Barat mulai terbentang dari wilayah Turki, yang sebagian wilayah Turki sendiri masuk benua Eropa (daerah/kota Konstantinopel). Dari sebelah Timur dibatasi oleh Laut Hindia, sebelah selatan oleh laut Merah dan sebelah Utara sampai Laut Mati. Dengan menggunakan batasan ini maka kita akan mendapati sekitar 12 yakni: Arab Saudi, Yaman, Oman, Emirat Arab, Qatar, Kuwait, Iraq, Yordania, Suriah, Israel, Palestina, dan ditambah dua negara Afrika yakni Mesir dan Sudan .

Kedua, mendefinisikan dengan berbasis wilayah saja. Dari konteks ini maka cenderung dipergunakan dengan basis benua. Jika diasumsikan Timur Tengah adalah wilayah antara Benua Eropa dan Asia, maka dapat ditarik batasannya di sebelah barat dibatasi benua Eropa dan laut Tengah, Sebelah Timur dibatasi Samudra Hindia dan di Sebelah Selatan dibatasi Laut Merah dan benua Afrika,, dan Sebelah Utara dibatasi laut mati. Dengan menggunakan batasan ini maka kita hanya akan mendapati  10 negara yakni, Turki, Israel, Palestina, Suriah, Yordania, Lebanon, Iraq, Oman, Qatar, Emirat Arab, Arab Saudi.

Tekstur Wilayah Timur Tengah

Total wilayah Timur Tengah menurut Encyclopedia Encarta sekitar 7.3 juta km2, Secara tekstur geografis (penampakan tanah) wilayah Timur Tengah terdiri dari : gurun (padang pasir), pantai, oase dan sungai yang di sekitarnya bisaanya ditemui ladang pertanian berupa gandum. Negara dengan basis padang pasir terbesar adalah beberapa negara di kawasan Maghribi, Arab Saudi, Suriah, Iraq dan Jordania[3]. Sedangkan wilayah Timur Tengah lainnya hanya memiliki area gurun yang tidak sampai mencapai ½ dari total wilayahnya.[4] Namun justru di negara-negara ini terdapat bahan tambang minyak dan gas yang relatif banyak yang kemudian memungkinkan negara-negara ini membangun perekonomiaanya dengan baik, kecuali hanya Jordania yang tidak memiliki akses minyak yang berlimpah.

Sedangkan area dengan tekstur pantai hanya dimiliki beberapa negara saja, yakni negara-negara Maghribi seperti Mesir, dan sedikit wilayah Sudan. Sedangkan di kawasan Timur Tengah akses pantai terbesar dimiliki oleh Arab Saudi, dan beberapa negara kecil seperti Yaman, Oman, Qatar, Kuwait, dan Iraq. Sedangkan Suriah, dan Israel memiliki akses laut ke arah Barat. Negara dengan wilayah luas yang memiliki akses laut yang luas hanya Arab Saudi, sedangkan Suriah dan Iraq hanya memiliki akses terhadap laut di area yang terbatas.

Dari tekstur yang berbasis Oase banyak ditemukan di berbagai wilayah, yang kebanyakan peruntukkannya pada waktu yang lampau banyak digunakan sebagai media peternakan hewan dan pertanian lahan sempit. Dalam masa klasik perebutan oase lebih kentara antar kabilah Arab dibandingkan dengan konflik perbatasan. Dalam dalam konteks politik modern konflik Oase frekuensi lebih jarang dibandingkan dengan konflik sungai,[5] karena bisaanya Oase langsung dikelola oleh pemerintah setempat dan jarang lokasinya berada di perbatasan antar negara.

Sedangkan untuk tekstur sungai hanya dimiliki oleh beberapa negara saja, minimal ada sekitar 3 sungai yang selama ini menjadi perebutan antar negara yakni sungai Nil di kawasan Afrika, Sungai Jordan dan Sungai Eufrat dan Tigris.[6] Sungai dalam batas tertentu tidak dijadikan sebagai media transportasi antar wilayah akan tetapi lebih untuk kebutuhan pemenuhan air bagi pengelolaan sistem perkebunan dan pertanian, dan untuk keperluan konsumsi air bersih serta pembangkit listrik.

Iklim

Iklim di Timur Tengah relatif bervariasi, namun secara keseluruhan tingkat curah hujan di Timur Tengah relatif rendah dibandingkan dengan kawasan benua Asia lainnya. Dalam konteks lintang, kebanyakan negara di Timur Tengah terletaj di kawasan garis Khatulstiwa dan hanya beberapa negara yang masuk kawasan sub tropis di bagian utara. Sehingga pada umumnya, Timur Tengah memiliki 2 musim yakni Penghujan dan kemarau.

Di beberapa wilayah yang berbentuk pegunungan, suhu pada waktu musim dingin bisa sampai mencapai 0 o C yang terjadi di daerah Ankara Turki pada bulan Januari, dan panas musim panas bisa sampai mencapai 23o. Pada beberapa daerah yang lebih rendah terutama di Jordania, Arab Saudi dan Iraq berkecenderungan memiliki suhu yang relatif stabil, dikarenakan karena adanya pengaruh dari laut Tengah. Daerah yang memiliki temperatur yang sangat panasa juga sering terjadi kawasan berbasis gurun yang bisa mencapai 45° C (113° F) atau lebih.

Demografi: Etnis, Agama, dan Budaya

Wilayah Timur Tengah menurut data tahun 1997 memiliki jumlah penduduk sekitar 291.9 juta, di mana penduduk terbanyak dimiliki oleh negara Arab Saudi dan penduduk tersedikit adalah Republik Emirat Arab. Dari sisi angka pertumbuhan penduduk sebenarnya angka kelahiran di Timur tengah relatif tinggi yakni 2.4 percent antara 1990 dan 1995, namun karena persoalan konflik yang terus terjadi maka angka kematianpun juga relatif tinggi baik karena persoalan korban perang ataupun karena persoalan embargo dan kemiskinan. Rendahnya angka pertumbuhan penduduk juga disebabkan karena faktor migrasi, kebanyakan penduduk di kawasan Barat dan Selatan Timur Tengah melakukan Emigrasi ke Eropa untuk mendapatkan kehidupan yang lebih layak. Meski dalam batas tertentu Timur Tengah juga mendapatkan tambahan penduduk melalui imigrasi, tetapi jika dibandingkan secara total terhadap penduduk yang emigrasi masih lebih banyak yang melakukan imigrasi.

Penduduk di Timur Tengah kebanyakan tinggal di daerah pedesaan, namun pola migrasi ke kota semakin menjadi trends sehingga beberapa kota Timur Tengah mulai tampak lebih padat hal ini bisa kita lihat di beberapa kota besar seperti; Cairo, Egypt (6.8 million), Tehrān, Iran (6.5 million), Baghdād, Iraq (3.8 million), and İstanbul, Turkey (7.6 million).

Dari sisi etnis, negara-negara di Timur Tengah sebagian besar beretnis Arab, kecuali di beberapa negara di mana etnis Arab relatif sedikit. Hal ini bisa ditemui di Israel di mana kebanyakan etnis Semit, sebagian Iraq dan Suriah di mana banyak bermukim etnis Kurdi, dan untuk wilayah Afrika Utara khususnya Sudan sebagian besar beretnik negro. Konflik etnik yang sangat sering terjadi antara etnik Arab dengan Semit, dan Arab-Semit.

Keberagaman etnis ini tidak bisa dilepaskan karena sebelumnya penduduk Timur Tengah difahami sebagai etnis yang berpindah-pindah. Pernah pada satu ketika masyarakat Timur Tengah merupakan masyarakat Yahudi (Semit) yang mendominasi. Namun dalam kurun berikutnya masyarakat etnik Arab yang lebih dominan. Karena masa penguasaan yang lama oleh komunitas etnik Arab maka pada era sekarang jumlah populasi etnik Arab menjadi dominan.

Sedangkan komunitas Yahudi , populasi mengalami penambahan sangat signifikan tatkala PM Balfour memberikan ruang bagi bangsa Yahudi untuk ke Palestina. Sedangkan sebelumnya bangsa Yahudi datang ke Palestina hanya sebatas melakukan ziarah di bukit Zion. Salah satu faktor yang kemudian memicu gelombang imigrasi ke Timur Tengah adalah skenario ethnic cleansing yang terjadi baik di Jerman maupun di Rusia semasa Revolusi Bolsevik. Sampai dalam hanya kurun waktu 20 tahun semenjak deklarasi Balfour jumlah populasi Yahudi telah melebihi populasi etnis Arab, dan 10 tahun kemudian komunitas Yahudi resmi memiliki sebuah negara baru yang sekarang disebut dengan Israel. Kondisi ini yang kemudian disebut oleh Roger Geraudy sebagai kolonialisme demografi.

Bagaimana halnya dengan keberadaan etnis Kurdi. Kurdi merupakan sebuah potret etnis yang mirip dengan etnis Yahudi yang mengalami diaspora dari tanah airnya. Sekarang ini etnis Kurdi tersebar diberbagai wilayah negara seperti Iraq, Turki dan sebagian wilayah Suriah. Dalam batas tertentu etnis Kurdi difahami oleh banyak negara sebagai etnis yang senantiasa menimbulkan masalah. Upaya pengintegrasian terhadap etnis ini diberbagai negara Timur Tengah senantiasa gagal meskipun dengan penggunaan instrumen militer. Hal ini lebih disebabkan oleh keinginan etnis Kurdi untuk melakukan separatisme lalu kemudian menghimpun dalam sebuah negara baru Kurdi Merdeka.

Agama

Timur Tengah merupakan pusat dari agama dunia yang berbasis agama Samawi (agama langit/wahyu), Agama tersebut adalah Islam, Nasrani, dan Yahudi . Ketiga agama inipun memiliki situs sakral terkait dengan keberadaan agama ini, yang kemudian memungkinkan proses mobilisasi umatnya untuk melakukan ziarah atau perjalanan ke tempat suci tersebut. Bagi umat Islam, ziarah ke tempat suci hampir setiap saat bisa dilakukan dalam bentuk umrah ke tempat suci di Makkah maupun ziarah ke Masjidil Aqsha di Yerusalem. Demikian pula umat Nasrani mengklaim memiliki situs kelahiran Isa al-Masih di Nazareth Yerusallem, yang juga senantiasa memiliki daya undang yang sangat tinggi bagi umat Nasrani untuk melakukan ziarah. Sedangkan umat Yahudi yang sekarang relatif tinggal dan menduduki situs sakral tersebut, di Yerusallem yakni dinding ratapan Sulaiman.

Posisi ke 3 agama tersebut dalam kaitannya dengan politik teramat erat. Hanya agama Nasrani yang telah mengalami reduksi secara berarti semenjak banyaknya kegagalan akibat keterlibatan agama dan politik di sejarah Eropa, sedangkan Islam dan Yahudi justru sekarang ini sedang mengalami pergolakan pemikiran dalam persoalan keterlibatan agama dan politik. Sedangkan dari sisi kepemelukan agama, Islam merupakan agama mayoritas hampir di setiap negara kecuali di Israel. Dan dalam agama Islam sendiri mengalami proses dinamika yang sangat kuat, bahkan dalam batas tertentu menimbulkan konflik yang lama antar mazhab.

Islam is the predominant religion in the Middle East. More than 90 percent of the area’s population are Muslims. Christians form the next largest group, with about 4 percent of the population, and Jews make up about 2 percent of the population. Muslims explicitly recognize that Judaism and Christianity preceded their faith, and therefore regard Christians and Jews as “peoples of the book”—that is, groups with written scriptures that should be free to practice their religion.

Islam is divided into two major groups, Sunni Islam and Shia Islam. The Sunni Muslims are by far the most numerous, both in the Middle East and in the Muslim world in general. The Sunnis and Shias separated over the issue of supreme authority after the death of the Prophet Muhammad in 632. The majority of Muslims, the Sunnis, believe the first four caliphs, all of whom belonged to Muhammad’s tribe, were the prophet’s rightful successors. A minority, the Shias, believe that Muhammad’s nearest male heir, his cousin and son-in-law Ali, was intended to succeed Muhammad. Shias accept only Ali’s descendants (imams) as legitimate rulers. The Shias themselves are divided into several sects, which differ over how many of Ali’s male descendants should be recognized as leaders of the Islamic community. Of Middle Eastern Shia Muslims, who form about 28 percent of the population of the region, the majority are Jafaris. Because they accept 12 imams, Jafaris are also called “Twelvers.” This group is especially prominent in Iran. They believe that the 12th imam will return in the future to establish perfect justice, supplanting the rule of any other leader. This belief has undermined government authority since the establishment of Twelver Shiism as the state religion in 1501. Twelvers also reside in Iraq and Lebanon. Another Shia sect, the Zaydis of Yemen, recognize five imams. A third group, called Ismailis (“Seveners”), recognize seven imams; a few hundred thousand Ismailis reside in Syria.[7]

Agama Nasrani hampir ditemukan disemua negara Timur Tengah meskipun dalam jumlah yang tidak lebih dari 2%, dengan pembagian kategorisasi sebagai berikut:

More than half of the Christians in the Middle East live in Egypt. Most Egyptian Christians belong to the Coptic church. The remaining Middle Eastern Christians are divided between Orthodox groups (Armenian, Greek, and Syrian) and Catholic groups (Armenian, Greek, Maronite, and Syrian) in Iraq, Lebanon, and Syria. The formal division between Orthodox and Catholic sects dates back to the Great Schism of 1054 between the Eastern and Roman churches. Apart from the Maronites, however, most Middle Eastern Catholics are descendants of converts from various Orthodox churches in the 17th and 18th centuries.[8]

Dan agama Yahudi hanya ditemukan dipeluk di negara Israel dan terdapat jumlah yang tidak signifkan di negara-negara yang lain;

Almost all Middle Eastern Jews live in Israel. Orthodox Jews, who strictly follow traditional Judaic beliefs and practices, hold the most influence over religious affairs in Israel. Reform Jews, who seek to modify Jewish tradition to meet contemporary circumstances, and Conservative Jews, who maintain a middle position between the two, constitute important minorities. Reform and Conservative groups continually struggle for a limited role in Israeli religious affairs.[9]

Daerah Sakral: Daerah strategis dan spiritual

Keunikan Timur Tengah dibandingkan dengan kawasan yang lain dalam setting sejarah modern adalah wilayah ini memiliki posisi yang strategis dari sisi letak geografis yang menghubungkan benua Eropa sebagai arus peradaban modern dan benua Asia sebagai benua Pasar. Aliran distribusi barang dan jasa, bahkan imigrasi orang banyak terjadi wilayah ini. Di samping itu, Timur Tengah masih diyakini sebagai mesin penggerak industri dunia dengan aset minyak bumi yang dimiliki Timur Tengah. Sehingga tidak berlebihan kiranya Timur tengah difahami sebagai daerah yang memiliki nilai publisitas yang tinggi, hal ini bisa dilihat bahwa hampir setiap saat di media massa senantiasa memberitakan informasi sekitar perkembangan ekonomi, politik, budaya di Timur tengah.

Sisi strategis kedua yakni nilai keuniqan spiritualism. Tak bisa dipungkiri bahwa masyarakat dunia yang dalam proses industrialisasi pada akhirnya akan sangat membutuhkan nuansa spiritualisme yang mulai tercerabut. Keinginan masyarakat agama untuk melakukan ziarah spiritualisme sedemikian tinggi, yang tidak hanya di agama Islam namun pergerakan ziarah umat Nasrani dan Yahudi-pun mengalami perubahan yang signifikan. Dalam batas tertentu fenomena ini kemudian melahirkan tren baru yakni bisnis wisata ziarah ke tempat suci.

Keuniqan tempat spiritual ini pada akhirnya ternyata banyak terpusat di satu wilayah yang saling beririsan satu sama lain, yakni di Jerusallem. Sebuah wilayah yang tidak terlampau luas, namun memiliki daya pikat spiritual yang sangat kuat bagi masing-masing umat beragama. Dalam batas tertentu pula, irisan ini kemudian  menimbulkan konflik yang sangat panjang sekali, bahkan difahami sebagai konflik kemanusiaan yang paling lama di dunia.

Konflik di Timur Tengah

Timur Tengah merupakan area yang dalam konteks abad 20 ditenggarai sebagai pusaran konflik dunia. Semenjak dekade pertama abad 20, Timur Tengah menjadi area perebutan konflik negara-negara Eropa guna memperluas wilayahnya di Timur Tengah. Ditemukannya sebuah selat yang kemudian dijadikan terusan oleh Ferdinand Delaps, menjadikan akses negara Eropa ke kawasan Timur Tengah semakin dinamis. Hal inilah yang dikemudian hari keberadaan terusan Suez menjadi sebuah wilayah yang diperebutkan oleh banyak fihak.

Beberapa konflik besar diantaranya, konflik antara Turki Utsmani yang berusaha menjaga kekuasaanya dari tekanan di negara Eropa yang kemudian mengilhami terjadinya perang dunia I. Demikian pula dalam Perang Dunia II, kawasan timur Tengah juga menjadi salah satu ajang perebutan antara kekuatan Inggris dan Perancis setelah definitif Turki Utsmani runtuh di 1924.

Pasca perang dunia II, wajah konflik di Timur Tengah dihiasi oleh konflik antar negara, masyarakat di regional tersebut dan ditambah dengan keterlibatan negara besar di luar kawasan. Dalam era perang dingin, dua negara adikuasa yakni AS dan Uni Soviet menjadikan daerah ini menjadi titik perebutan dalam perang strategi global. Keberadaan Israel juga menjadi salah satu sebab mengapa konflik di Timur Tengah sedemikian membara, yang dalam batas tertentu telah dijadikan sebuah pembenar bagi keterlibatan AS di Timur Tengah. Dengan tinggi tingkat konflik di Timur Tengah, dalam batas tertentu menjadi sangat menguntungkan negara besar untuk menghegemoni wilayah ini guna mendapatkan keuntungan ekonomi, sosial, politik, militer dan idiologi.


[1] Lihat lebih jauh dalam penjelasan Middle East Alfred Thayer Mahan dalam Encarta Enclopedia 2004 1993-2003 Microsoft Corporation.

[2] Lihat dalam Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam II, Jakarta, Radjawali, 1997

[3] Lebih jauh lihat tekstur geografis per negara dalam PcGlobe Internasional 1995, atau lihat dalam Encarta Encylopedia 2004.

[4] Extensive desert areas stretch across the southern reaches, including the Libyan Desert and Arabian Desert in Egypt, the Rub‘ al Khali in southern Saudi Arabia, and the Syrian Desert at the junction of Saudi Arabia, Jordan, Syria, and Iraq. Northern mountainous areas include the Taurus Mountains in Turkey, the Elburz Mountains and Zagros Mountains in Iran, and the mountains of northern Iraq. Syria, Lebanon, Jordan, and Israel contain the northernmost extension of the Great Rift Valley, a depression that extends from the Middle East to southeastern Africa. The Caspian Sea, the largest inland sea in the region and the only one of any economic significance, indents Iran’s northern border., ibid.,

[5] Konflik sungai sangat sering terjadi, seperti konflik Sungai Nil, Jordan maupun Eufrat dan Tigris

[6] Lihat lebih jauh konflik air dalam Drysdale, Alaydair, Political Geogrhapy in North Africa and Middle East, New York, Princenton, 1989 dan lihat juga konflik kekinian dalam Encarta ibid.,

[7] Lihat dalam Cd Encarta, sub Religion

[8] ibid.,

[9] ibid.,