HUBUNGAN ANTARA TEKSTUR WILAYAH DENGAN KONFLIK

DI ASIA TENGGARA

Dari sisi tekstur geografis, wilayah Asia Tenggara terkategorikan dalam wilayah kontinen. Ada kecenderungan negara dengan basis kontinen menunjukkan gejala konflik yang lebih rendah dibandingkan dengan yang berbasis kepulauan. Frekuensi konflik di daerah berbasis kepulauan senantiasa hadir, baik yang melibatkan aktor negara dengan negara, terutama menyangkut perbatasan.  Sehingga dalam batas tertentu konflik di negara kepulauan pernah sampai tingkat war, akan tetapi berusaha dijaga hanya dalam bentuk game saja. Hal ini terjadi ketika Indonesia melakukan aneksasi ke Malaysia dan Singapura di tahun 1962, namun semenjak dekde 1970-an sampai sekarang, serumit apapun masalah konflik cenderung tidak memilih aksi militer sebagai sarananya.

Sedangkan konflik antar negara yang berbasiskan kontinen, tingkat konflik belum pernah dalam bentuk wars, kecenderungan hanya bergerak dari debate dan game. Konflik perbatasan antara Malaysia dan Thailand, belum sampai menimbulkan perang terbuka secara masif. Demikian pula konflik antar Singapura dan Malaysia, juga tidak menunjukkan gejala perang militer namun hanya tindakan infiltrasi dan spionase saja sebagai bagian dari upaya menjamin keamanan diri.

Sedangkan hubungan tekstur geografi dengan konflik di tingkat masyarakat ada kecenderungan tidak menunjukkan hubungan yang jelas. Konflik yang terjadi antar masyarakat seringkali bukan disebabkan oleh perbedaan geografis tertentu. Kalaupun ada terjadi di Indonesia dengan program transmigrasi, yakni sebuah perpindahan penduduk yang diorganisir oleh pemerintah untuk memindahkan sejumlah penduduk ke daerah yang kurang padat penduduknya. Konflik etnik di Aceh di tahun 1998 berupa upaya pengusiran penduduk non Aceh, ataupun non Melayu dari propinsi Aceh yang difahami telah mendominasi dan menghegemoni baik dalam dataran sosial, ekonomi, dan politik yang dikenal dengan jaringan “Puja Kusuma”, Putra Jawa Keturunan Sumatera. Ataupun konflik yang terjadi di Kalimantan Barat antara penduduk Dayak dengan etnis Madura, yang kurang lebih dipicu oleh semakin termarginalkannya wilayah adat Dayak dan tanah sakralnya. Ataupun di daerah Maluku utara antara kelompok Muslim dan Kristen yang kemudian bergolak selama hampir 4 tahun dan kemudian terjembatani dalam perjanjian Malino.[1]

Konflik tersebut relatif baru muncul setelah program transmigrasi dijalankan lebih dari 20 tahun. Ada kecenderungan konflik sudah muncul sedari awal namun dalam bentu latent, dengan semakin longgarnya kontrol dari pemerintah akibat semakin menurunnya legitimasi pemerintah di tahun 1998-2000 karena difahami sebagai masa transisi. Di samping itu pula regim pemerintah yang selama ini menjadi pengawal telah ditransformasi dengan naiknya regim sipil. Ketidakberadaan tertib sosial yang mantap ini yang kemudian menyebabkan konflik yang sifatnya latent, dan dalam tingkat debate langsung berubah menjadi konflik yang sifatnya manifest dan dalam tingkat war.

Sedangkan kawasan dengan tekstur yang berbasis sungai, stepa ataupun wilayah khas lainnya tidak menunjukkan gejala yang berarti. Hampir tidak ditemukan konflik yang terbuka untuk memperebutkan sungai di masa modern ini di wilayah Asia Tenggara, sangat berbeda jauh dengan masa klasik di Asia Tenggara. Ataupun tidak ditemukan akses sungai yang membelah dua negara atau lebih, seperti halnya di India dengan sungai Gangga ataupun Sungai Nil antara Mesir dan Sudan. Kalaupun persoalan tentang sungai terjadi cenderung berbasis di dalam suatu negara, khususnya konflik dalam tingkat debate antar propinsi.

Sehingga dalam konteks kesiapan anggaran untuk berkonflik, negara dengan berbasis kepulauan atau negara kontinen yang juga memiliki wilayah yang berbasis kepulauan cenderung akan menganggarkan kebutuhan militer lebih banyak dibandingkan dengan negara yang berbasis kontinen.

Tabel 15

Hubungan Tingkat Konflik Dengan Tekstur Geografis

Setting Geografis Tingkat Konflik
Debates Games Wars
Tekstur Geografis
a. Kepulauan Intensif Intensif Intensif
b. Kontinen Kurang Intensif Intensif Kurang Intensif
c. Kontinen & Kepulauan Intensif Intensif Intensif

Sumber: Diolah dari berbagai sumber


[1] Lihat uraian konflik horisontal ini dalam tulisan Lambang Trijono, “Peran NGOS dalam Pencegahan Konflik dan Pasca Resolusi Konflik : Kasus Asia tenggara”, Jurnal CIVIC, Vol. 1 No. 3 Desember 2003