PEMBUSUKAN INTELEKTUAL DALAM PENDIDIKAN

Surwandono

Dosen Fisipol UMY dan Mahasiswa Doktoral Ilmu Politik UGM

Siswa sekolah menengah pertama dan atas baru saja melaksanakan ujian akhir nasional, sebuah ujian kompetensi yang diharapkan meningkatkan derajat kemampuan bernalar dari siswa untuk bisa berkembang dan mandiri di masyarakat. Pemerintah kemudian mematok angka kelulusan dengan angka 5,2 dari 3 mata pelajaran, sebuah angka yang sebenarnya sangat minimal namun telah menjadi momok bagi para siswa, wali siswa, sekolah dan pemerintah daerah. Implikasinya adalah lahirnya berbagai politik manipulasi, culas, baik secara individual dan kolektif kelembagaan untuk mendapatkan angka kelulusan yang prestisius. Inilah gambaran suram pendidikan kita.

Pernyataan menelisik yang perlu diajukan adalah apakah ada jaminan bahwa nilai kompetensi yang selama ini dibangun pemerintah melalui politik pendidikan akan menghasilkan siswa yang memiliki kemampuan produksi pengetahuan. Sebuah kemampuan yang memungkinkan para siswa menjadi pembelajar sehingga pengetahuan yang dimilikinya mampu ditransformasi ulang menjadi produk pengetahuan yang baru, unik dan berdaya guna.

Nalar Konsumsi

Secara general terdapat kecenderungan sistem pendidikan Indonesia cenderung menggunakan nalar konsumsi daripada nalar produksi secara simultan. Sistem pendidikan yang membangun kompetensi siswa telah menjadikan konsumsi pengetahuan secara masif menjadi instrumen harga mati untuk mendapatkan derajat kompetensi minimal untuk dinyatakan lulus dalam jenjang pendidikan tertentu.

Implikasinya bisa mudah ditebak bahwa salah satu cara untuk meningkatkan derajat kompetensi adalah dengan memberikan asupan pengetahuan yang sebanyak-banyaknya pada siswa. Semakin banyak asupan yang masuk dalam struktur memori siswa maka akan berkorelasi positif dengan kemampuan siswa dalam menyelesaikan problem kompetensi secara maksimal dan membanggakan. Berbagai program pengkayaan asupan pengetahuan kemudian digelar dalam bentuk program privat, les, bank soal, pembahasan soal, try out dilakukan hampir di seluruh penjuru negeri.

Apakah ini efektif ? Terlalu dini untuk menjawab keefektifan program pemberian asupan yang berlebihan dengan meningkatnya derajat kompetensi siswa bisa menyelesaikan beragam masalah dengan cepat dan tepat. Analog yang sederhana sistem asupan pengetahuan adalah semakna dengan komputer yang diberikan software program yang sangat banyak, lengkap dan canggih dengan harapan komputer tersebut akan menjadi komputer cerdas dan cepat. Kenyataan yang terjadi justru sebaliknya, performance komputer akan menjadi slow down dan melemah, bahkan tidak menutup kemungkinan komputer akan mengalami overlocking, halt, sehingga alih-alih akan menghasilkan performance yang tinggi namun justru rusak dan tidak bisa digunakan.

Logika konsumsi pengetahuan ini menyebabkan posisi guru menjadi sangat dominan sebagai source of knowledge. Guru seolah menjadi manusia super yang harus serba tahu segala sesuatu. Apa yang terjadi, guru juga melakukan konsumsi pengetahuan instant dari beragam buku dan sumber pengetahuan yang ada di pasaran. Konsumsi instan guru inilah yang menyebabkan kemandegan berfikir guru, sekaligus secara perlahan membunuh kemampuan guru untuk melakukan produksi pengetahuan. Guru seakan menjadi jembatan kapitalisasi pengetahuan dari penerbit buku ke siswa. Guru tidak lagi menjadi manusia pembelajar yang kreatif dan produktif.

Defragmentasi Intelektual

Jika orientasi pendidikan baik di kalangan siswa dan guru lebih didominasi paradigma konsumsi pengetahuan sebagai jawaban mujarab dari paradigma kompetensi maka penyakit kronis yang akan segera terjadi adalah pembusukan intelektual. Sebuah kondisi di mana seperangkat pengetahuan yang dimiliki oleh insan sekolah hanya menjadi tumbukan pengetahuan yang tidak bermakna, mandeg, dan tidak mampu menghasilkan multiplier efek. Jika setumpuk pengetahuan tersebut mandeg, maka seperti halnya barang yang hanya sekedar ditumpuk dan tidak didinamisasi, bakteri pembusukan intelektual akan segera menghinggapi pengetahuan tersebut yang akhirnya membuat pengetahuan menjadi busuk.

Pengetahuan yang busuk, jelas hanya akan menjadi file sampah, junks,  yang hanya akan menyesakkan memori siswa dan guru itu sendiri. File sampah ini jelas tidak produktif bagi akselerasi kecerdasan guru ataupun siswa. Ibarat file-file sampah dalam komputer yang hanya menghabiskan memori sehingga akan mempengaruhi kinerja komputer menjadi semakin lemah. Sempit ruang untuk memori, membuat nalar untuk berfikir dan berkreasi menjadi melemah pula.

Merujuk kepada sistem kerja komputer dalam mengatasi struktur file yang tidak tersistematisasi, dan banyaknya file sampah. Program defragmentasi ataupun penataan secara sistematis pengetahuan menjadi sebuah keniscayaan agar memori insan pendidikan bisa menjadi fresh dan longgar. Kondisi ini diharapkan akan mampu mendesiminasi kemampuan guru dan siswa untuk berfikir kontemplatif dan produktif.

Pasca program degramentasi pengetahuan, nalar pendidikan nasional juga harus dirubah menjadi nalar produksi daripada sekedar nalar konsumsi semata. Konsumsi pengetahuan harus didesain sedemikian rupa menjadi sebuah proses produksi pengetahuan, dan bukan sekedar jembatan pengetahuan semata. Karya guru dan siswa akan menjadi monumen-monumen penting untuk melihat akselerasi dunia pendidikan nasional. Lomba cipta karya harus menjadi sebuah sistem yang integral, bahkan menjadi pusaran inti proses pendidikan. Selama ini apresiasi terhadap karya dan produksi pengetahuan hanya menjadi asesoris dan seremonial dari pendidikan kita, alokasi dana untuk lomba karya cipta dilakukan secara temporer dan tidak prestisius. Bahkan jika mungkin, kemampuan karya guru dan siswa yang monumental bisa diapresiasi untuk bisa mengantikan syarat kelulusan siswa, dan kenaikan jenjang kepangkatan guru secara otomatis.

Di sinilah pentingnya sebuah disemaikan sistem amuba pengetahuan. Amuba merupakan hewan sangat kecil namun sangat dinamis, sehingga setiap saat bisa melakukan pembelahan pengetahuan secara produktif dan berkesinambungan. Sistem pendidikan bisa mengembangkan amuba pengetahuan guna menunjang sehat dan berkembangnya sistem pendidikan nasional. Anggaran pendidikan yang telah ditegaskan dalam UUD 1945 pasca amandemen yang mencapai 20% tidak hanya difokuskan kepada aktivitas konsumtif, tetapi pengalokasiaan mulai digeser ke arah aktivitas produksi pengetahuan. Alokasi pembuatan sistem dan lingkungan pendidikan yang ramah dan produktif bagi para pembelajar akan membuat para siswa dan guru di Indonesia akan menjadi amuba pengetahuan yang sangat efektif bagi proses pencapaian derajat pendidikan nasional yang murah, ramah dan bermartabat. Amin.