RELASI TINGKAT KONFLIK DAN KEMISKINAN DI ASIA SELATAN

Seperti yang sudah dipaparkan sebelumnya, maka dalam sub bab ini akan dianalisis keterkaitan antara konflik yang cenderung kronis semenjak negara-negara di Asia Selatan merdeka di decade 1950-an dengan kemiskinan yang sampai saat ini masih menggejala.

Tabel

Posisi Ekonomi Negara Asia Selatan Tahun 1990-2000

Negara Total Pengeluaran GDP Income Per Capita
India $83,775 million $510.2 billion $490
Pakistan $13,526 million $59 billion $410
Bangladesh 5,685 million $46.7 billion $350
Srilanka $4,182 million $15.9 billion $850
Nepal $855 million $5.6 billion $240

Sumber: Microsoft Encarta 2005

Hubungan Konflik Karena Variabel Agama dengan Kemiskinan

Konflik yang disebabkan karena persoalan agama di Asia Selatan sangatlah khas. Di wilayah ini minimal ada 4 agama yang saling bertemu dalam posisi konflik yang cenderung latent yakni Islam, Hindu, Budha dan Nasrani. Variasi konflik Islam-Islam (Sunni-Syi’ah-Ahmadiyyah) di Pakistan, Islam-Hindu di India atau India dengan Pakistan, Srilangka, Budha-Hindu di Nepal, dan konflik yang melibatkan agama Nasrani mulai tidak tampak. Konflik yang melibatkan agama Nasrani pernah terjadi sehingga melahirkan agama baru yang mengakomodasi prinsip-prinsip ke 4 agama besar yang kemudian menjadi agama Sikh yang didirikan oleh Guru Nanak. Ataupun dalam batas tertentu kelahiran tradisi Ahmadiyyah oleh Ghulam Mirza Ahmad juga tidak lepas sebagai dialektika konflik agama di Asia Selatan.

Konflik agama yang cenderung latent ini menjadikan segala bentuk usaha yang berkaitan dengan proses establishment ekonomi dan politik cenderung rapuh. Hal ini sangat bisa difahami karena konflik agama di Asia Selatan seringkali meledak dengan tiba-tiba. Kasus konflik antara Sunni-Syiah di Pakistan seringkali muncul, memang ada saat yang khas memicu konflik agama seperti saat hari raya agama. Semisal orang Syi’ah yang merayakan hari Asy-Syura sebagai bentuk emphatic atas  kesyahidan Imam ke 3 Syiah, Hussein bin Ali seringkali memicu konflik antar agama. Demikian juga ketika kelompok Ahmadiyyah Lahore mengadakan perayaan kelahiran Mirza Ghulam Ahmad maka seringkali kelompok Islam yang lain terprovokasi.

Sedangkan untuk kasus di India, konflik berbasis agama menjadi marak semenjak munculnya kasus masjid Babri di Ayodya 1994 yang dibakar oleh orang fundamentalisme Hindu untuk dijadikan kuil Rama. Masjid ini diyakini oleh kaum Hindu militan yang dikoordinasi oleh BJP di India, bahwa di masjid tersebut sebelumnya adalah bangunan Kuil Rama sebagai tempat sacral bagi orang Hindu yang menyebabkan penghancuran masjid dan pembunuhan masal pada orang Islam. Demikian pula sebagai balasannya sekelompok orang Hindu yang akan melakukan ziarah suci dihadang kelompok Islam sebagai bentuk balas dendam.

Sampai saat ini konflik berbasis agama di India menjadi marak dan terus berlangsuang setelah BJP dalam dua periode Pemilu memenangkan Pemilu di India yang menyebabkan kebijakan terhadap agama cenderung menguntungkan kalangan Hindu. Sehingga di tahun 2003 terjadi konflik berdarah kembali dengan pembantaian kaum Muslim India dan aksi pembalasan kaum muslim.

Sedangkan pola konflik agama di Srilangka antara Hindu sebagai agama negara dengan sekelompok masyarakat Tamil yang kemudian lebih dikenal sebagai gerakan separatis Tamil, cenderung berjalan secara sporadic. Di samping karena persoalan campur tangan dari negara lain cenderung rendah karena persoalan letak geografis Sri Lanka yang bersifat kepulauan. Berbeda dengan konflik agama antara India-Pakistan yang perbatasannya langsung  berhadapan. Sehingga ketika kelompok Islam di India diperlakukan secara tidak adil oleh orang Hindu, terutama di daerah Kashmir maka pemerintah dan masyarakat Pakistan dengan mudah melakukan mobilisasi untuk terlibat dalam konflik di India.

Fenomena konflik agama di Bangladesh relatif tidak banyak terjadi. Posisi agama  agama terbesar adalah kelompok Sunni, sebagian Syi’ah Ismaili dan sebagian kecil Hindu dan Nasrani. Kalaupun terjadi konflik di Bangladesh, konflik  yang pernah agak serius adalah tentang konflik air di sungai Gangga.

Hubungan Konflik Karena Variabel Perbatasan Dengan Kemiskinan

Dari peta konflik yang ada, dua negara yang relatif memiliki konflik perbatasan yang menahun hanya dimiliki oleh Pakistan dan India. Untuk Nepal, Sri Lanka dan Bengladesh relatif tidak memiliki konflik perbatasan yang signifikan. Persoalan konflik Bangladesh dengan Pakistan relatif sudah selesai, karena secara etnis dan geografis antara Bangladesh dan Pakistan relatif terpisah. Kalaupun Bangladesh memiliki konflik perbatasan hanyalah persoalan sunggai Gangga dengan India.

Kuatnya konflik perbatasan antara India dan Pakistan tidak bisa dilepaskan dari factor kesejarahan. Sedari awal kelompok Hindu dan Islam di India dalam Konggres relatif tidak bisa diselesaikan ketika Inggris memberikan ruang kemerdekaan India di 1907 berupa pembentukan pemerintahan otonomi. Selam hampir 30 negosiasi antara kelompok Hindu dan Islam tidak bisa terselesaikan sehingga keduanya memutuskan untuk membentuk negara tersendiri di 1947.

Konflik mulai melebar tatkala persoalan perbatasan menyebabkan irisan wilayah Kashmir cenderung masuk dalam wilayah India, sedangkan secara etnis dan agama sebagian besar orang Kashmir adalah beretnik Kashmiri dan Muslim[1]. Konflik perbatasan ini kemudian berlangsung secara terus-menerus dan menunjukkan pola yang semakin intensif dan menguat . Hal ini ditandai oleh kebijakan di kedua Negara tersebut untuk meng-up-grade diri menjadi negara dengan kapasitas nuklir dalam konteks militer. Tidak hanya itu keduanya juga memiliki personil militer dan perkakas militer yang kuat, bahkan dalam total jumlah tentara India 9 kali lipat tentara di Bangladesh, Nepal dan Sri Lanka. Sedangkan jumlah tentara Pakistan separuh tentara India, namun dari jumlah rata-rata jumlah militer dan penduduk, Pakistan jauh lebih banyak.[2]

Dengan upaya pemaksaan diri dari dua negara ini, yang sebenarnya sebagai negara Miskin jika dilihat dari indikator GDB dan Income perkapita, namun keduanya menginvestasikan anggaran militer sangat banyak, bahkan untuk kasus Pakistan persediaan anggaran militer sampai 2x anggaran kesejahteraan.

Tabel

Representasi Hubungan Anggaran Dalam Mensikapi Konflik

dan Anggaran Kesejahteraan

Negara Anggaran Militer / Jumlah Tentara Jumlah Bed Di Rumah Sakit / People Anggaran Pendidikan
India 2.7 percent/1,325,000 1,271 people 2.9 percent
Pakistan 4.4 percent/620,000 1,535 people 2.7 percent
Bangladesh 1.4 percent/137,000 3,279 bed/penduduk 2.3 percent
Srilanka 3.1 percent/157,900 348 people 3.1 percent
Nepal 2.7 percent /51,000 5,794 people 2.9 percent

Sumber: Microsof Encarta 2005

Dari tabel di atas terlihat bentuk hubungan yang jelas, bahwa semakin daerah mengalami konflik perbatasan yang bersifat manifest seperti halnya di India dan Pakistan keduanya harus mengeluarkan anggaran militer dan pendidikan dalam angka yang relatif sama. Sehingga bisa difahami kiranya bahwa salah satu penyebab fenomena kemiskinan di India dan Pakistan tidak bisa dilepaskan oleh konflik yang tidak terselesaikan dengan baik.

Untuk kasus Nepal dan Bangladesh, kedua negara ini relatif mengalami konflik yang bersifat domestik dan terbatas, dan konflik perbatasan relatif sangat sedikit sehingga anggaran pendidikan dan kesehatannya jauh lebih besar dari anggaran militer. Mereka sekarang dalam posisi miskin tidak hanya disebabkan faktor konflik semata namun terdapat variabel lain yang lebih kuat seperti struktur kebijakan ekonomi yang berorientasi ke arah strategi pemerataan untuk Nepal yang cenderung banyak dipengaruhi oleh idiologi komunisme. Untuk kasus Bangladesh, negara hanya memiliki potensi di bidang agraris secara terbatas, meskipun sebagian besar kontributor di GDP Bangladesh adalah sector jasa namun jasa dimaksud bukanlah jasa dalam konteks aspek informasi dan service industri. Hal ini tercermin dalam dalam akses informasi Bangladesh yang sangat kecil.

Tabel

Akses Penduduk Terhadap Informasi di Bangladesh

Number of radios per 1,000 people 50 (1997)
Number of telephones per 1,000 people 4 (2001)
Number of televisions per 1,000 people 7.4 (2000 estimate)
Number of Internet hosts per 10,000 people 0 (2000)
Daily newspaper circulation per 1,000 people 9 (1996)
Number of motor vehicles per 1,000 people 1 (1998)
Paved road as a share of total roads 10 percent (1999)

Sumber: Microsoft Encarta 2005

Srilangka merupakan negara yang unik, meski negara ini menghadapi gejala separatisme,[3] namun negara ini mampu memanajemen konflik tersebut tidak banyak mempengaruhi. Bahkan negara ini yang mengandalkan dari sektor jasa pariwisata ternyata tidak terganggu oleh konflik yang berkembang.  Sehingga anggaran militernya tetap relatif kecil, yang memungkinkan alokasi untuk anggaran kesejahteraan bisa lebih proporsional.


[1] Lihat dalam Turkkaya Ataov, Kashmir and Neighbours: Tale, Terror, Truce, Aldershot, Hants,UK: Ashgate Publishing,2001

[2] Jumlah penduduk  Pakistan 153,705,278  dengan tentara 620,000 sedangkan India dengan jumlah penduduk 1,065,070,600 dengan jumlah tentara 1,325,000. Artinya dengan penduduk Pakistan 1/9 penduduk India namun nisbah dengan jumlah tentaranya hanya ½ dari India.

[3] Tamils made up about 18 percent of the population at the 1991 census. Their proportion of the population has since declined, mostly as a result of immigration to India. Tamils speak a language called Tamil. They traditionally practice Hinduism, although a small percentage are Christians. Tamils originally immigrated to Sri Lanka from southern India. Those known as Sri Lankan Tamils trace their origins to ancient migrations, whereas the so-called Indian Tamils came as migrant workers during the 19th century. Kelompok ini melakukan aksi kekerasan dengan menggunakan wadah Gerakan Macan Tamil. Lihat lebih jauh dalam Fact and Profile Sri Lanka dalam Microsoft Encarta 2005

Lihat lebih jauh beragam artikel dalam link berikut:

http://surwandono.staff.umy.ac.id/files/2010/07/RELASI-TINGKAT-KONFLIK-DAN-KEMISKINAN-DI-ASIA-SELATAN.pdf

http://surwandono.staff.umy.ac.id/files/2010/07/POLITIK-SEBAGAI-PENGANTAR.pdf

http://surwandono.staff.umy.ac.id/files/2010/07/Konflik-Poso-dan-Public-Trust.pdf

http://surwandono.staff.umy.ac.id/files/2010/07/HUBUNGAN-DEMOGRAFIS-DENGAN-KONFLIK.pdf

http://surwandono.staff.umy.ac.id/files/2010/07/HAMAS.pdf

http://surwandono.staff.umy.ac.id/files/2010/07/DISKURSUS-TEORETISASI-KONFLIK.pdf

http://surwandono.staff.umy.ac.id/files/2010/07/BERDAKWAH-KULTURAL.pdf

http://surwandono.staff.umy.ac.id/files/2010/07/BASIS-KONFLIK-DI-TIMUR-TENGAH.pdf

http://surwandono.staff.umy.ac.id/files/2010/07/SEPARATISME-DAN-MINORITAS-MUSLIM.pdf

http://surwandono.staff.umy.ac.id/files/2010/07/RAGAM-KONFLIK-DI-ASIA-TENGGARA.pdf

http://surwandono.staff.umy.ac.id/files/2010/07/POLITIK-DAN-KONFLIK-DI-ASIA-TENGGARA.pdf

http://surwandono.staff.umy.ac.id/files/2010/07/Model-Resolusi-Konflik-di-Asia-Selatan.pdf

http://surwandono.staff.umy.ac.id/files/2010/07/Memakmurkan-Masjid.pdf

http://surwandono.staff.umy.ac.id/files/2010/07/ISSUE-KONFLIK-DI-TIMUR-TENGAH.pdf

http://surwandono.staff.umy.ac.id/files/2010/07/HUBUNGAN-ANTARA-UNSUR-AGAMA-DENGAN-SAKRAL-DI-TIMUR-TENGAH.pdf

http://surwandono.staff.umy.ac.id/files/2010/07/FIQH-ISLAM-DALAM-POLITIK-DAN-KONFLIK.pdf

http://surwandono.staff.umy.ac.id/files/2010/07/DINAMIKA-KONFLIK-DUNIA-ISLAM-di-Asia-selatan.pdf

http://surwandono.staff.umy.ac.id/files/2010/07/ANALISIS-RELASI-GEOGRAFI-DENGAN-KONFLIK-di-timur-tengah.pdf

http://surwandono.staff.umy.ac.id/files/2010/07/POSO-dan-FOGGING-DPO.pdf

http://surwandono.staff.umy.ac.id/files/2010/07/PETA-KEMISKINAN-DUNIA-ISLAM.pdf

http://surwandono.staff.umy.ac.id/files/2010/07/MEMBUANG-4-T-MENUJU-1-T-edisi-puasa.pdf

http://surwandono.staff.umy.ac.id/files/2010/07/HUBUNGAN-KONFLIK-KARENA-VARIABEL-ETNISITAS-DENGAN-KEMISKINAN.pdf

http://surwandono.staff.umy.ac.id/files/2010/07/HUBUNGAN-ANTARA-TEKSTUR-WILAYAH-DENGAN-KONFLIK.pdf

http://surwandono.staff.umy.ac.id/files/2010/07/DINAMIKA-KONFLIK-DUNIA-ISLAM.pdf