Saturday, 11 July 2009 12:21
Analis: Prancis dilemma antara Iran dan G8
Warta Internasional
WAHYU HIDAYAT

MEDAN – Pidato Presiden Prancis, Nicolas Sarkozy yang mengecam isu penyerangan sepihak Israel ke Irak, pada pertemuan puncak negara industri maju, G8 di L’Aquila, Italia, pada Jumat (10/7) memicu dilemma tersendiri bagi Prancis. Disatu sisi Prancis merupakan anggota G8 yang menekan Iran, namun di sisi lainnya Prancis pro Iran, demikian disampaikan analis hubungan internasional, Surwandono.

“Sebagai negara industri, Prancis tidak bisa melepaskan diri dari kelompok G8 yang menjadi aliansi negara maju untuk mengembangkan pasar industri mereka,” tutur Surwandono kepada Waspada Online, malam tadi. “Namun, perlu diketahui juga bahwa Prancis merupakan negara pemasok kebutuhan persenjataan terbesar ke negara Iran.”

Kondisi sulit tersebut, menurut analis yang berprofesi sebagai dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta tersebut, bisa mendegradasikan citra dan pengaruh Prancis di pentas politik internasional.

“Namun, wajar saja bila Sarkozy mengeluarkan statement tersebut di dalam pidatonya di depan forum internasional tingkat tinggi,” imbuh Surwandono.

Dalam hal ini, Prancis coba menetralisir suasana yang sedang menghangat didalam tubuh Iran sendiri. Upaya yang dilakukan adalah dengan pendekatan langsung ke Iran dengan kerjasama militer yang telah dibangun agar tidak timbul persepsi seakan Iran menjadi negara yang terkucilkan, ujar Surwandono menjelaskan.

“Iran dapat memiliki nuklir damai, tapi bukan kemampuan nuklir militer dan mereka harus menerima ini,” tegas Sarkozy dalam pidatonya seperti dilansir AFP, Jumat (10/7).

Meski memasok kebutuhan militer Iran, tidak berarti Prancis menutup mata atas kepemilikan nuklir di negara Persia tersebut. Prancis masih menyimpan kekhawatiran bila program nuklir tersebut dapat memicu perang internasional yang dapat mengganggu stabilitas keamanan internasional, tutup Surwandono.

(dat05/wol-mdn)