PARTAI POLITIK  BERCERMIN KEPADA PONARI

Surwandono

Kandidat Doktor Ilmu Politik UGM

Heboh tentang Ponari, sudah mencapai 1 bulan. Namun ribuan pasien masih berdatangan dari seluruh penjuru negeri, untuk mendapatkan pengobatan melalui batu petir yang ditemukan Ponari. Tidak beberapa lama lagi pula, partai politik dan para calegnya akan mengundi nasib di depan public dalam  proses Pemilu, 9 April 2009. Adalah menarik untuk membaca relasi fenomena Ponari dengan artikulasi untuk membangun representasi yang dilakukan partai politik untuk memenangkan proses politik. Dari bacaan ini, setidaknya partai politik bisa membaca fenomena Ponari tersebut sebagai sarana instropeksi bagaimana membangun hubungan kelekatan dan kedekatan dengan public.

Popularitas

Sosok Ponari telah menjadi sosok yang sangat popular, dari seorang anak SD di Jombang yang sangat lugu menjadi seorang Newsmaker di berbagai media. Media sedemikian rupa berebut untuk meliput fenomena Ponari dari dekat dan mengartikulasikan ke depan public secara berulang-ulang, sehingga Ponari telah menjadi man of the month. Ponari tidak mengeluarkan uang sedikitpun untuk diliput di media massa. Bahkan Ponari kebanjiran rupiah, dari berbagai segmen masyarakat yang memberikan sumbangan atas jasa pengobatannya.

Bagaimana dengan partai politik? Popularitas partai politik tidak bisa dilepaskan dari bagaimana partai politik mengekspos profilenya di media melalui jalur iklan. Gerindra sebagai partai yang seumur jagung seakan-akan telah menjadi partai besar, karena representasi Gerindra dalam media melalui penayangan iklan. Tidak mau kalah dengan popularitas Gerindra yang meroket, Demokrat, Golkar dan PDIP kemudian menayangkan iklan-iklan politik secara massif. PKS, yang memahami biaya iklan di media yang sangat mahal, cenderung memilih framing iklannya yang “menyrempet-nyrempet” bahaya, dengan harapan akan menimbulkan polemic yang kemudian bisa dikelola menjadi news oleh media. Sehingga PKS akan “nonggol” di Media, tanpa harus keluar uang yang banyak.

Artinya, Partai politik untuk membangun popularitas media memerlukan energy materi dan immateri yang sangat besar, yang dalam batas tertentu belum bisa menjamin bahwa public akan memilihnya dalam pemilu. Paling banter, iklan memiliki korelasi positif dengan meningkatnya derajat popularitas dalam politik survey. Adalah penting bagi partai politik untuk belajar berpolitik membangun popularitas ala Ponari. Pertanyaan yang kemudian muncul, mengapa partai politik harus mengeluarkan energy yang sedemikian besar untuk membangun popularitas dan mendapatkan hati masyarakat sehingga dalam Pemilu dipilih oleh masyarakat. Setidaknya ada 3 alasan besar yang bisa digunakan partai politik untuk berinstropeksi;

Pertama, partai politik diidentifikasi public bukan lagi sebagai alternative terciptanya problem solver bagi akutnya permasalahan ekonomi, politik, hokum, dan budaya di masyarakat. Bahkan bisa-bisa partai politik justru dianggap sebagai trouble maker akibat perilaku partai politik yang tidak artikulatif dengan kepentingan masyarakat, dan semakin menunjukan watak oligarkhis. Bagaimana tidak, partai politik justru menjadi tertuduh terbesar dalam melahirkan politisi yang duduk di parlemen, dengan mental yang tidak aspiratif. Partai politik juga sedemikian rupa cenderung melindungi perilaku tidak terpuji anggota parlemen dengan berbagai alas an. Partai politik sejatinya punya senjata, dan kartu truff untuk mendidik moral politik politisi melalui mekanisme recall. Namun, apa yang terjadi mekanisme recall jarang dipergunakan partai politik.

Partai politik dalam masa kampanye berjanji untuk menjadi problems solver Ponari hadir dalam dimensi sebagai problem solver ditengah persoalan kesehatan di Indonesia, yang sangat mahal sehingga tidak berfihak dengan masyarakat, dengan tawaran pengobatan yang ringkas. Sedangkan di fihak lain, Partai politik turun urun rembug dalam penentuan tariff kesehatan, karena partai politik turun dalam legislasi biaya kesehatan, terutama di rumah sakit pemerintah.

Kedua, partai politik dalam membangun popularitas melalui media cenderung melakukan eksternalisasi janji-janji politik yang “bombastis”, tidak terukur, melebih-lebihkan diri dan kelompok bak malaikat dan dewa fortuna. Publik sudah belajar dari 2 pemilu sebelumnya bahwa partai politik hanya menjalankan politik NATO (no action talk only), do less talk more, atau dalam bahasa Jawa hanya “nyonthong”. Publik sedemikian rup merekam tingkah polah partai politik tersebut, sehingga public sudah memberikan sinyal ketidakpercayaan kepada partai politik melalui aksi golongan putih dalam berbagai pilkada yang sudah digelar.

Bagaimana dengan Ponari?. POnari melakukan eksternalisasi praktek pengobatan apa adanya, lugas, tidak manipulative, bahkan tidak memberikan janji dan iming-iming akan segera sehat wal afiat. Ponari justru terkenal terkenal bukan karena memasang iklan di media massa, tetapi justru melalui tehnologi “gethok tular” dari mulut ke mulut, dari kuping ke kuping. Ponari lebih banyak bertindak daripada berbicara. Ponari tidak memberikan mantra-mantra yang bisa menyihir masyarakat untuk kemudian mendatanginya.

Kelugasan Ponari, dan tidak mudah latah dengan menaikan tariff,  justru menjadi daya tarik yang luar biasa, sehingga bisa merentas pengobatan alternative yang telah dijalankan oleh para senior-seniornya. Sebagaimana yang dimaklumi oleh public, bahwa banyak pengobatan alternative justru bukan menjadi alternative lagi karena tariff pengobatan alternative mulai mahal. Ponari, benar-benar telah menjadi alternative dari pengobatan medis dan alternative. Sangat berbeda dengan partai politik yang mulai popular, kemudian mulai jual mahal dengan memasang tariff bagi kandidat kepala daerah yang ingin menggunakan kendaraan politik partai. Tradisi partai politik yang mudah latah justru membuat public kemudian menjadi tidak dekat bahkan meninggalkan partai politik tersebut.

Ketiga, partai politik cenderung melakukan eksploatasi terhadap asset-asset public untuk mendongkrak popularitas. Banyak iklan yang ditayangkan partai politik, mengambarkan bagaimana partai politik melakukan eksploatasi persoalan di masyarakat, untuk kemudian dikelola menjadi issue penting dengan menempatkan suatu partai politik sebagai atau kandidat sebagai dewa fortuna. Partai politik juga mengeksploatasi keberhasilan individu atau masyarakat, untuk kemudian diframing oleh partai politik melalui iklan bahwa partai politik tertentu atau kandidat berkontribusi besar bagi lahirnya prestasi tersebut.

Bagaimana dengan Ponari?. Ponari justru membangun kedekatan dengan masyarakat dalam bentuk memberikan ruang kepada masyarakat untuk mengeksploatasi dirinya. Bahkan, Ponari seakan rela meninggalkan meja belajarnya di sekolah, bermain dengan teman-teman sebayanya, untuk dieksploatasi oleh keluarga dan masyarakat untuk menjalankan praktek pengobatannya. Ponari sampai jatuh sakit karena kepayahan dalam melakukan praktes pengobatan, sehingga harus digendong oleh panitia untuk mencelupkan batu ajaibnya.

Partai politik sejatinya jika ingin mendapatkan hati masyarakat, juga harus merelakan diri dieksploatasi oleh masyarakat dalam bentuk memberikan layanan yang baik, cerdas, jujur dalam memperjuangkan aspirasi masyarakat. Pepatah menyatakan, “siapa menanam, siapa mengetam”. Partai politik harus rela berpayah-payah, dan meninggalkan kesenangan hiruk pikuk politik, untuk mau menyapa dan berbagi dengan masyarakat. Partai politik harus siap untuk “nomblok” untuk menyelamatkan masyarakat dari ketidakberasan pelayanan yang diberikan oleh pemerintah. Bagaimana partai politik, mau bercermin kepada cara Ponari melayani masyarakat?