Memaknai Silaturahmi Politik

Memaknai Silaturahmi Politik
Malikul Kusno
Lili Romli

INILAH.COM, Jakarta � Di tengah perayaan Idul Fitri, partai-partai giat menjalin silaturahmi politik antar elit maupun tokoh pemerintahan. Namun, makna silaturahmi politik tahun ini menjadi istimewa, karena berdekatan dengan pemilu 2009.

Istilah silaturahmi politik berasal dari kata silah dan rahiim. Kata silah seringkali didekatkan dengan makna tali atau ikatan. Sedangkan rahiim bermakna perut/nasab/keturunan atau makna kasih sayang.

Sehingga secara terminologi silaturahmi didefinisikan sebagai amal untuk kembali mengingatkan yang sudah terputus karena beragam masalah ataupun hambatan.

“Silaturahmi sendiri sebelumnya muncul sebagai nilai budaya. Namun, menjadi sebuah mesin tersendiri bagi aroma politik kekuasaan,” kata dosen politik Fisip-UMY Surwandono.

Dewasa ini, momentum lebaran seringkali menjadi media yang efektif untuk membangun komunikasi politik di antara elit politik. Tahun lalu saja, Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla melakukan silaturahmi politik ke sejumlah tokoh pemimpin bangsa.

Meskipun awalnya silaturahmi ini ditengarai berbau politik. Namun, lama-kelamaan masyarakat mafhum menilainya sebagai silaturahmi biasa yang dilakukan para elit politik.

Jika idul Fitri tahun lalu Wapres Jusuf Kalla merelakan waktunya berkunjung ke empat mantan presiden, yakni Megawati Sukarnoputri, Abdurrahman Wahid (Gus Dur), BJ Habibie dan Soeharto.

Di susul dengan menyambangi rumah mantan Ketua Umum DPP Partai Golkar Akbar Tandjung, mantan Wapres Try Sutrisno, mantan Wapres Hamzah Haz dan Gubernur DKI Fauzi Bowo.

Tahun ini giliran Ketua Umum PAN Soetrisno Bachir (SB) yang gencar memanfaatkan momentum Lebaran untuk silaturahmi politik. Bahkan dikabarkan SB akan fokus menjalin komunikasi politik dengan kalangan TNI. Keinginannya itu tidak terlepas dari harapannya untuk mendapatkan inovasi politik menjelang Pemilu 2009.

Menurut Surwandono, silaturahmi politik pada akhirnya melahirkan beragam makna yang bisa jadi saling kontradiktif. Di satu sisi, silaturahmi politik bisa jadi dipahami sebagai bentuk kedewasaan berpolitik, bahwa riak dan konflik dalam berpolitik tidaklah kemudian membuat hubungan personal antaraktor politik menjadi berjarak.

Menjelang pemilu, silaturahmi politik merupakan bentuk eufismisme kendaraan politik untuk mendapatkan dukungan politik. Sebagaimana banyak disinyalir bahwa silaturahmi politik hakikatnya tidak bisa dilepaskan dari proses mobilisasi dukungan. Para elite mencoba mencari kemasan politik yang terkesan ramah untuk menutupi niat politik kekuasaan.

Dalam kacamata pengamat politik LIPI Lili Romli silaturahmi politik masih dimaknai secara artifisial. Sehingga makna subtantif ingin membangun ukhuwah Islamiyah dalam bingkai Idul Fitri menjadi luntur dan distortif. Elit politik hanya memanfaatkan momentum Lebaran sebagai kendaraan politik untuk merengkuh kekuasaan saja.

“Tradisi open house cenderung dipergunakan untuk membangun citra elit dibandingkan membangun komunikasi politik yang efektif bagi penyerapan aspirasi,” kata Lili.

Karenanya, kata Lili, dalam upaya membangun konstruksi politik Indonesia yang bermartabat, ada baiknya para aktor politik bermain secara dewasa dan lugas. Jika ruang politik banyak diisi dengan energi yang mutasyabihat, maka yang ada dalam ruang politik bangsa ini adalah sesuatu yang abu-abu.

Sehingga tidak berlebihan kiranya jika terdapat pandangan bahwa politik Indonesia pasca pemilu 2009 masih berkutat di wilayah abu-abu, munafik dan hipokrit

http://www.inilah.com/news/read/politik/2008/10/01/52617/memaknai-silaturahmi-politik/