MEMPERSAUDARAKAN HAMAS-FATAH
Surwandono
Dosen Fisipol UMY, Peneliti CIR (Center for Indonesian Reform) dan Mahasiswa Doktoral Ilmu Politik UGM
Bangsa Palestina bisa kembali tersenyum. HAMAS dan FATAH sebagai dua faksi terbesar telah menemukan jalan keluar yang elegan untuk mengakhiri berbagai konflik. Makkah tampaknya telah menjadi tempat penyatuan hati dan fikiran dari keduanya untuk saling mengapresiasi satu sama lain dalam membangun konstruksi baru Palestina untuk masa depan.
Tulisan ini akan menganalisis dibalik keberhasilan Deklarasi Makkah dalam men-de-eskalasi konfllik antara faksi HAMAS dan FATAH yang dibanyak diyakini sudah dalam konflik idiologis dalam konteks Diplomasi Persaudaraan.. Sebuah model Diplomasi Islam yang telah dikembangkan oleh Nabi Muhammad SAW dalam berbagai konflik yang dihadapi pada zamannya.
Model Konflik
HAMAS dan PLO merupakan dua organisasi besar yang memiliki pengaruh di Palestina dalam memperjuangkan proses pembebasan Palestina. Sedangkan Fatah merupakan salah satu faksi terkuat di PLO yang selama ini memegang kekuasaan pemerintahan transisi semenjak perjanjian Oslo 1991. Keduanya memiliki kemiripan yang khas sebagai organisasi perlawanan yang dilengkapi dengan kekuatan milisi yang tangguh. Hamas memiliki Brigade Izzudin al-Qassam sebagai sebuah kekuatan para militer yang sangat disegani baik oleh faksi Fatah bahkan oleh Israel sekalipun. Fatah juga memiliki faksi militer Brigade Martir al-Aqsha, sebuah kekuatan para militer yang juga sangat tangguh dan loyal kepada Fatah.
Para pengamat sebelumnya kebanyakan memandang bahwa HAMAS merupakan salah satu rekayasa dari Israel untuk mendelegitimasi PLO yang selama ini menjadi faksi yang diakui sebagai perwakilan Palestina. Namun berseiring dengan waktu, justru HAMAS terbukti sebagai faksi mandiri dan tidak ada kaitannya dengan Israel, sedangkan PLO yang sebelumnya sebagai kelompok perlawanan anti Israel justru semakin mendekat dengan pola kebijakan Israel.
Dalam kontestasi politik, model konflik antara HAMAS dan PLO lebih tercermin model konflik Lawan-Lawan. Sebuah model konflik yang menempatkan fihak lain sebagai lawan mutlak. Sehingga setiap kebijakan dan aksi lawan senantiasa harus dinetralisir karena hakekatnya sedang dalam proses mendestruksi terhadap fihak lain. Periode lawan-lawan ini sangat kental di tahun 1990 sampai tahun 2004, setiap kebijakan PLO cenderung ditentang oleh Hamas. PLO diyakini telah terkooptasi oleh kepentingan Israel sehingga telah mengorbankan kepentingan Palestina. Berbagai perjanjian, dari Oslo, Madrid, Way River, Camp David II, Road Map, diyakini Hamas sebagai sebuah trap (jebakan) bagi Palestina.
Sedangkan di fihak PLO, Hamas diyakini juga sebagai duri dalam daging. Hamas dianggap sebagai kelompok trouble maker dari upaya pencapaian kemerdekaan Palestina. Sehingga lahirlah kebijakan represif otoritas PLO terhadap kelompok perlawanan Islam seperti HAMAS dan Jihad Islam. Selama PLO memegang tampuk kekuasaan, PLO senantiasa menempatkan HAMAS sebagai lawan lama, dan bukan sebagai kawan. Berbagai bentrokan fisik dan bersenjata teramat sering terjadi antar faksi ini. Sehingga terdapat kesan bahwa konflik Palestina telah bergeser dari konflik terhadap Israel menjadi konflik sesama faksi di Palestina.
Setelah HAMAS memperoleh kekuasaan di tahun 2005, Hamas cenderung merubah konflik dengan faksi PLO-Fatah dalam formula Lawan-Kawan. Hamas tetap melihat bahwa ada perbedaan prinsipal antara prinsip memperjuangkan Palestina dengan Fatah di bawah kendali Mahmoed Abbas, namun di sisi lain menempatkan juga sebagai kawan dengan sedari awal mengajak faksi Fatah untuk membangun pemerintah bersama. Namun Fatah belum merubah formula konfliknya, Hamas adalah sebagai lawan-lawan. Mahmoed Abbas senantiasa melakukan de-legitimasi terhadap otoritas Ismail Haniyya. Bahkan Abbas justru menyerukan sebuah “kudeta” melalui pemilihan umum dini untuk memperoleh pemerintah yang baru, dalam upaya mengatasi krisis politik pemerintahan Palestina akibat diembargo oleh Israel dan sekutu AS beserta Inggris.

Diplomasi Persaudaraan

Meningkatnya ekskalasi konflik HAMAS dan Fatah telah melahirkan keprihatinan banyak kalangan. Hamas dan Fatah diyakini telah terjebak dalam permainan politik Israel untuk tetap menjadikan bangsa Palestina adalah bangsa yang memiliki kepribadian ganda. Kepribadian yang tidak memungkinkan untuk mengembangkan prinsip persaudaraan. Sedangkan dalam pandangan Karen Amstrong, Tuhan telah mendesain situs Palestina sebagai tanah persaudaraan.
Deklarasi Makkah sebuah situs para-diplomasi. Sebuah diplomasi yang mampu menghantarkan fihak yang berkonflik mendapatkan hasil-hasil politik yang memuaskan fihak-fihak yang bersengketa. Ismail Haniyya dan Mahmoed Abbas sedemikian rupa mengakhiri Deklarasi Makkah dengan melakukan Umrah bersama. Keberhasilan para diplomasi persaudaraan tidak bisa dilepaskan oleh beberapa hal:
Pertama, konflik antara Hamas dan Fatah sudah dalam titik kematangan issues. Bangsa Palestina sudah capek melihat konflik antar keduanya, demikian juga masyarakat Arab dan Islam pada umumnya. Masifnya upaya diplomasi Makkah ini telah dikonstruksi oleh dunia Islam, baik OKI, Pemerintah Arab Saudi, Indonesia dan Pakistan . Ini penting agar inisiatif negosiasi tidak didesain oleh komunitas barat yang selama ini mendesain proses diplomasi di Timur Tengah. Kematangan issue ini kemudian mengarahkan konflik lawan-lawan telah menjadi lawan-kawan, sehingga proses negosiasi menjadi lebih ramah dan terukur.
Kedua, mediator dalam negosiasi ini mampu men-capture proses negosiasi secara baik. Pilihan kota Makkah merupakan sebuah pilihan cerdas, selama ini kota Makkah jarang sekali dipergunakan sebagai perhelatan diplomasi. Sebelumnya ada dua pilihan utama yakni ke Indonesia, sebagai situs negara dengan komunitas Islam terbesar dan memiliki keberagaman tradisi Islam, dan ke Arab Saudi, sebagai negara pemangku Tanah Suci al-Haramain. Timing pelaksanaan negosiasi juga sangat pas, yakni tatkala Israel sedang melakukan aktivitas yang membahayakan situs Masjidil Aqsha. Sebuah issue sensitif yang mampu mengiring faksi di Palestina untuk memilih sikap yang sama sebagai seorang saudara se-iman terhadap Israel.
Ketiga, proses negosiasinya pun dikembangkan dalam prinsip persaudaraan. Sehingga format konfliknya dalam deklarasi Makkah telah mengubah model konflik lawan-lawan, lawan kawan menjadi kawan-kawan. Proses pengakhiran konflik dengan melakukan ritual umrah bersama antara fihak yang bersengketa, menunjukan bahwa keduanya menerima hasil negosiasi secara sadar dan bertanggungjawab. Semoga Deklarasi Makkah yang disemangati  oleh Surat al-Hujurat ayat 10 mampu mempersaudarakan HAMAS dan Fatah menjadi sebenar-benar Saudara. (Amin.)