Mencermati Aliran SESAT

Surwandono
DOSEN FISIPOL UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA DAN KANDIDAT DOKTOR ILMU POLITIK UNIVERSITAS GADJAH MADA, YOGYAKARTA

Sebulan terakhir, terkuak aliran baru yang berusaha mereduksi Islam, Satrio Pininggit Weteng Buwono. Sebuah aliran yang telah hadir di tahun 2002, namun baru di tahun 2009 terkuak sebagai aliran yang meresahkan masyarakat, karena Sang Satrio Pinggit telah mengklaim diri sebagai Tuhan. Dan sekarang ini, minimal ada 1 Tuhan yang sedang diperiksa dan akan ditahan oleh kepolisian, dan minimal ada sekitar 3 Nabi, yakni Lia EDEN maupun Ahmad Mossadegh yang sedang menjalani hukuman. Selama ini tidak ada penjelasan besar yang memadai untuk menjelaskan kemunculan sekte-sekte agama baru, apalagi yang terkait dengan variable pemilu.

Terdapat nalar lain yang sejatinya belum mendapat perhatian yang serius dari pemerintah. Nalar tersebut adalah adanya relasi antara krisis sosial yang terjadi di Indonesia dan deret kelahiran sekte tersebut. Artinya, jika dengan menggunakan nalar ini, selama krisis sosial di Indonesia belum menemukan titik ekuilibrium, potensi lahirnya sekte-sekte keberagamaan tidaklah akan berhenti.

Sekte dan krisis

Menarik mencermati studi yang dilakukan Shireen T. Hunter yang menyatakan bahwa kemunculan gerakan keagamaan Islam, sejatinya merupakan upaya kontemplasi seorang tokoh dalam memahami perubahan-perubahan lingkungan yang dalam kacamatanya tidak mampu direspons dan diselesaikan oleh nalar sistem yang selama ini ada: apakah nalar sistem politik, ekonomi, budaya, atau bahkan agama. Kegagalan nalar-nalar tersebut kemudian direspons oleh sang tokoh dengan memunculkan nalar baru yang sangat genuine dan solutif untuk mengatasi masalah yang ada di masyarakat.

Sebagaimana dalam sejarah panjang Islam, ada kecenderungan terdapat korelasi antara lahirnya seorang mujtahid dan timbulnya krisis sosial yang sedang berlangsung di masyarakat. Lahirnya mujtahid besar, seperti Imam Ghazali, Ibnu Taimiyyah, ataupun Shalahudin al-Ayyubi pada zamannya, masing-masing tidak bisa dilepaskan dari persoalan akut di masyarakat Islam. Demikian pula di Indonesia, lahirnya mujtahid, seperti Ahmad Dahlan, Hasyim Asy’ari, dan Ahmad Surkati, juga tidak bisa dilepaskan dari problem serius dalam masyarakat.

Yang membedakan antara Ahmad Mossadek, Lia Eden, dan Agus Imam Sholihin adalah persoalan artikulasi dan arah proses ijtihadnya. Setelah melakukan kontemplasi secara komprehensif terhadap persoalan masyarakat, ada kecenderungan para mujtahid Islam semakin meneguhkan semangat untuk ber-Islam secara kafah atau sempurna. Akhirnya, lahirlah karya monumental seorang Ghazali, Ihya’ Ulumuddin, ataupun dari Ibnu Taimiyyah dengan Minhaj as-Sunnah. Demikian pula dengan kontemplasi Ahmad Dahlan yang melahirkan sebuah peneguhan mendasar untuk kembali pada Al-Quran dan sunah (ruju’ ila qur’an wa sunnah) ataupun Hasyim Asy’ari dengan memperkuat mazhab Ahlul Sunnah Wa al-Jama’ah. Namun, Lia Eden, Mirza Ghulam Ahmad, Ahmad Mossadekh, Agus Imam Solihin, justru membuat sebuah cabang atau bahkan mendirikan agama baru dengan melakukan sinkretisasi antar keyakinan. Untuk kasus AGUS Imam Solihin, juga mengeksploatasi jargon “Satrio Pininggit”, sebuah figure yang sangat ditunggu-tunggu oleh publik Indonesia di tengah carut marut kehidupan social.

Krisis social dan politik di Indonesia telah menyentuh titik azimuth, yang ditandai gonjang ganjingnya suasana politik dan ekonomi akibat pertarungan permainan gasing dan yoyo yang tidak berujung pangkal. Bagaimana tidak, Indonesia merupakan representasi negara yang sedang mengalami sakit amat parah: sakit lahir dan batin. Mulai konflik dan kekerasan antaretnik, pengeboman, teror, kemiskinan yang mendera, korupsi, dan mental-mental pemimpin yang tidak amanah, sampai perilaku malas anak bangsa sehingga nilai kompetisi dan daya saing bangsa ini rendah merupakan cerminan kasatmata bahwa Indonesia sedang mengalami krisis yang amat serius.

Nalar-nalar konstitusi, agama, politik, ekonomi, dan budaya yang selama ini menjadi pilar tegaknya negara dianggap sekelompok masyarakat yang resah telah gagal menjalankan perannya. Akibatnya, kelompok tersebut menawarkan sebuah nalar baru yang simpel dan memberikan ruang bersama. Nalar komunitas Eden cenderung menempatkan agamanya sebagai sarana untuk mengurangi konflik antarumat beragama, terutama Islam dan Nasrani, sebagai sebuah kontemplasi maraknya konflik etnik Islam dan Nasrani di Indonesia. Nalar Al-Qidayah al-Islamiyah dan Satrio Piniggit Weteng Buwono menawarkan nalar hidup yang simpel dengan memangkas berbagai rukun agama, seperti salat, puasa, dan haji, yang dianggap mempersulit hidup dengan menggantinya dengan amalan yang sederhana. Nalar-nalar simpel dianggap komunitas sekte “sesat” sebagai nalar yang solutif bagi bangsa Indonesia untuk bisa keluar dari krisis yang berkepanjangan.

Menyelesaikan krisis

Dengan mencermati struktur kelahiran sekte dan ijtihad besar yang berkaitan dengan krisis, diperlukan langkah-langkah serius agar krisis yang sedang berlangsung tidak menyebabkan kemunduran nalar anak bangsa Indonesia. Pertama, bangsa Indonesia harus melakukan ikhtiar secara serius untuk melahirkan ijtihad yang untuk menyelesaikan krisis bangsa ini. Krisis tidak bisa disikapi dengan hanya berpikir dengan nalar sederhana dan jangka pendek, yang rentan politisasi dari berbagai fihak. Para mujtahid islam dalam merespon krisis social senantiasa mengembangkan sikap konstruktif dan bukan destruktif, bukan dengan mencari-cari kesalahan orang lain, tapi melakukan muhasabah.

Kedua, melakukan revitalisasi dan restrukturisasi terhadap nalar-nalar pembangun bangsa Indonesia, seperti nalar demokrasi yang masih berwatak koruptif, pembangunan yang berfihak kepada pemodal dan pasar, nalar agama yang masih dikekang dalam ruang privat , dan pengelolaan Negara yang masih koruptif dan tidak transparan. Revitalisasi ini diharapkan akan menghasilkan sebuah semangat baru untuk kembali bangkit menjadi bangsa yang bermartabat dan tidak berkubang pada masalah-masalah klasik.

Ketiga, negara harus melakukan pengelolaan terhadap bangsa ini secara serius dan hati-hati dalam menghadapi kontraksi masalah sehingga tidak terpeleset lagi ke dalam lingkaran setan krisis yang tidak berujung-pangkal. Perang statemen antara MEGAWATI dan SBY-JK, setidaknya menunjukkan pengelolaan Negara ini masih dilakukan secara main-main. Kalau bukan permainan Gasing, ya permainan Yoyo, yang justru menjadikan rakyat Gasing dan Yoyo yang harus berputar dan dipermainkan. Manajemen Indonesia, tampaknya juga masih bergerak dari manejemen Poco-Poco ke manajemen dansa. Poco-Poco dan Dansa bagi bangsa Indonesia adalah kebutuhan rekreatif dan tersier, sedangkan bangsa Indonesia masih membutuhkan manajemen pengelolaan Negara yang mampu menyelesaikan masalah kebutuhan dlaruriyah dan hajatiyyah. Kita berharap, semoga pemilu 2009, tidak menghasilkan regim yang menggunakan manajemen poco-poco, dansa, gasing dan yoyo, sebab kesemuanya telah gagal, dan berkontribusi secara tidak langsung terhadap kelahiran aliran-aliran sesat di Indonesia.