POTRET ASASI NABI MUHAMMAD SAW
Surwandono
Dosen Fisipol UMY dan Wakil Majelis Tabligh dan Dakwah Khusus Pimpinan Daerah Muhammadiyah Bantul
Dalam 4 bulan terakhir telah terjadi penodaan secara beruntun kepada figur Nabi Muhammad SAW yang dilakukan oleh masyarakat Eropa. Diawali dengan pemuatan kartun Nabi Muhammad SAW di dalam majalah Jylland Posten di Denmark, penukilan kepribadian Muhammad SAW dan risalah Islam oleh Paus Benekditus yang tidak proporsional dan terakhir Lomba Karikatur Nabi Muhammad SAW oleh Partai Rakyat Denmark yang secara sarkatik menggambarkan nabi Muhammad SAW dengan gambaran yang tidak pantas.
Sudah teramat banyak yang menganalisis tentang keberatan masyarakat Islam dunia terhadap provokasi komunitas Eropa dengan mempergunakan tangan “komunitas pinggiran” Denmark untuk menodai Nabi kaum Muslimin secara beruntun. Namun tulisan ini akan melakukan proses perbandingan bagaimana Islam dan Al-Quran memperlakukan Nabi-nabi sebelum Islam, dan pandangan al-Qur’an tentang potret Muhammad SAW itu sendiri serta akibat sejarah dan sosiologis masyarakat yang menghina Muhammad SAW.

Potret Nabi Dalam Islam
Dalam konteks ajaran Islam, menyakini terdapat 25 orang Nabi yang wajib diimani sebagai bagian tak terpisahkan dari Risalah Islam, dari Nabi Adam sampai Muhammad SAW. Qur’an juga menyebutkan masih terdapat nabi-nabi yang tidak disebutkan secara jelas tentang nama dan perannya dalam membawa Risalah. Pandangan Islam sebagaimana yang tercermin dalam Al-Qur’an tidak ditemukan sedikitpun konsep penghinaan terhadap Nab-nabi sebelum Muhammad SAW. Bahkan semua nabi harus diyakini keberadaannya dan diberikan penghargaan yang setinggi-tingginya, sebagaimana banyak ditemukan dalam ayat al-Qur’an bahwa para Nabi merupakan orang pilihan Alloh yang memiliki kemuliaan akhlak, shaleh dan berbudi pekerti yang luhur. Sehingga di akhir setiap nama Nabi diberikan penghargaan AS (alaihis salam=semoga kesejahteraan diberikan kepadanya) Demikian pula terhadap nabi yang sekaligus Rasul, yakni Nabi Daud dengan Kitab Zabur, Musa dengan Kitab Taurat , Isa dengan kitab Injil dan Muhammad SAW dengan Kitab Al-Qur’an.
Islam lewat al-Qur’an tidak pernah melakukan pencacimakian terhadap Kitab-Kitab sebelumnya, bahkan Kitab-kitab tersebut diyakini keberadaan dan kebenarannya sebagai bagian tak terpisahkan dari Risalah Islam. Memang juga harus diakui secara jujur bahwa dalam Al-Qur’an terdapat beberapa ayat yang jika difahami secara parsial akan menghasilkan kesimpulan bahwa seakan-akan al-Qur’an tidak ramah kepada “sekelompok” agama tertentu. Misal dalam surat al-baqarah: 120, sebuah ayat yang menyatakan; Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.
Atau ungkapan dalam al-Baqarah; 65, Dan sesungguhnya telah kamu ketahui orang-orang yang melanggar di antaramu pada hari Sabtu, lalu Kami berfirman kepada mereka: “Jadilah kamu kera yang hina”. Demikian pula bisa ditemukan dalam al-A’raf 166, Maka tatkala mereka bersikap sombong terhadap apa yang mereka dilarang mengerjakannya, Kami katakan kepadanya: “Jadilah kamu kera yang hina.
Dalam nukilan ayat-ayat di atas merupakan sebuah kabar tentang adanya “sebagian” orang yang melanggar aturan-aturan agama, melakukan pemaksaan agama dan berbagai jenisnya. Sehingga dalam konteks ini, al-Qur’an hanya mengkabarkan sebagian umat punya tabiat dan bukan menvonis dengan melakukan generalisasi bahwa umat beragama sebelum Islam semuanya berkelakuan buruk. Hal ini bisa ditemui bahwa justru al-Quran melakukan penghormatan kepada umat sebelum risalah Islam yang dibawa Muhammad SAW dengan ungkapan yang sangat simpatik; Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal shaleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Al-Baqarah;62)

Potret Nabi Muhammad SAW

Dalam keyakinan Islam, Muhammad SAW diyakini sebagai rasul yang Ummi (tidak bisa membaca dan menulis), Rasul yang terpercaya sehingga mendapat gelaran al-Amin ataupun kepribadian utamanya yakni Sidiq (jujur), Amanah (bertanggungjawab), Tabligh (Penyeru) dan Fathonah (cerdas). Sifat-sifat ini banyak ditemui dalam berbagai risalah Sirah Nabawiyyah (sejarah kenabian). Demikian pula Qur’an memotret Muhammad SAW seorang penyayang; Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.(At-Taubah; 128). Ataupun sebagai teladan yang baik, Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (al-Ahzab; 21).
Sedang potret yang buruk yang diberikan oleh kaum yang membenci kepada Muhammad SAW juga dipaparkan secara detail oleh al-Qur’an dengan ungkapan sebagai penyihir; Patutkah menjadi keheranan bagi manusia bahwa Kami mewahyukan kepada seorang laki-laki di antara mereka: “Berilah peringatan kepada manusia dan gembirakanlah orang-orang beriman bahwa mereka mempunyai kedudukan yang tinggi di sisi Tuhan mereka”. Orang-orang kafir berkata: “Sesungguhnya orang ini (Muhammad) benar-benar adalah tukang sihir yang nyata.(Yunus: 2) atau bahkan sebagai orang gila; Mereka berkata: “Hai orang yang diturunkan Al Qur’an kepadanya, sesungguhnya kamu benar-benar orang yang gila. (al-Hijr: 6)
Secara jujur dan terbuka, Islam tidak pernah menggambarkan figur nabi selain Nabi Muhammad SAW adalah nabi yang jahil, perusak dan amoral. Islam justru mengambarkan sebuah kerukunan hidup bersama. Bahkan dalam Islam dilarang melakukan cemoohan terhadap umat lain: Hai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barang siapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang dzalim. (Al-Hujurat 11) .
Demikian potret Islam tentang Nabi-Nabi, bahwa apapun alasan melakukan cemooh terhadap Nabi Muhammad SAW justru malah akan membuat semakin jelas bahwa Nabi Muhammad SAW adalah figur bersahabat, santun dan tidak suka mencemooh. Secara Sosiologis dan Sejarah telah membuktikan, bahwa siapa saja yang memusuhi Muhammad SAW secara membabi buta, maka justru mereka ini sedang berinvestasi untuk mencintai Muhammad SAW setinggi-tinggi cinta. Wallohu a’lam.