BUSH DAN TURBULENSI POLITIK
SURWANDONO
Dosen Fisipol UMY dan Mahasiswa Program Doktoral Ilmu Politik UGM
Kedatangan Bush yang hanya 4 jam di 20 November 2006, telah menyedot energi yang sangat besar. Sebuah energi yang sesungguhnya bisa dipergunakan untuk menggerakan roda perekonomian yang sedang lesu darah akhir-akhir ini. Regim SBY sedemikian rupa memperlakukan Bush secara terhormat dengan memberikan pelayanan yang sangat impresif sehingga memancing kemarahan masyarakat sipil atas semua beban ekonomi, sosial , politik dan kebudayaan.
Kedatangan Bush pada akhirnya melahirkan sebuah turbulensi politisasi dari berbagai fihak. Ke mana arah angin yang tidak beraturan ini akan berfihak, masyarakat Indonesia tidaklah bisa menebak dengan baik. Dan siapa saja yang akan mengalami kerugian dan keuntungan akibat turbulensi politisasi kedatangan Bush juga belum bisa diprediksi. Tulisan ini akan menganalisis politisasi kedatangan Bush, dan peta turbulensinya sehingga bisa dilacak siapa yang akan dapat benefit, dan siapa yang dapat zonk.

Turbulensi PolitiK

Kedatangan seorang kepala pemerintahan di Indonesia adalah sesuatu yang biasa saja dalam proses hubungan antar bangsa. Menghormati dan memberikan apresiasi terhadapnya adalah sebuah kebiasaan diplomatik yang seharusnya dilakukan oleh negara yang menerima kedatangan tamu kenegaraan. Namun kedatangan Bush kali ini telah memancing kontroversi, yang kemudian pada akhirnya melahirkan beragam dialektika dalam mensikapi kedatangan Bush tersebut. Kata yang paling layak untuk ditunjukkan untuk mewakili kontroversi kedatangan Bush adalah politisasi.
Semua fihak yang terlibat dalam diskursus seputar issue Bush sedang masuk dalam turbulensi politisasi. Ibarat angin, kedatangan Bush telah menciptakan angin politik yang tidak berarah, berputar-putar dan membingungkan semua fihak. Fihak pemerintah senantiasa memberikan reasoning bahwa kehadiran Bush akan menjadi sebuah trigger bagi peningkatan kesejahteraan melalui akselerasi soft power, pendidikan dan kesehatan yang lebih baik. Sehingga biaya ekonomi, sosial, politik, dan lingkungan adalah sebuah kemestian dikeluarkan untuk mendapatkan keuntungan yang lebih banyak dan jangka panjang.
Sedangkan bagi fihak Bush, kedatangan ke Indonesia merupakan sebuah soft campaign untuk mendapatkan dukungan internasional dalam menjalankan haluan politik luar negeri dalam konteks war on terrorism di tengah meredupnya dukungan domestik pasca pemilu sela. Indonesia diyakini akan menjadi trigger bagi pulihnya reputasi dan citra politik Bush yang semakin menurun. Jika Indonesia memberikan welcoming party yang apresiatif maka akan melahirkan efek bola salju ke dunia Islam secara luas. Indonesia akan menjadi bridge yang akan menghubungkan kembali dunia yang mulai terpisah. Indonesia ibarat sebuah panasea yang ampuh bagi regim Bush untuk kembali mendulang sukses politik nasional dan internasional. Penolakan dan cercaan yang sangat masif terhadap Bush, tidak membuat Bush untuk membatalkan kunjungan karena merasa dilecehkan oleh masyarakat sipil Indonesia. Ibarat pepetah, biarkan anjing menggonggong kafilah tetap berlalu. Bush sudah menutup mata, telinga dan hidung secara rapat-rapat agar ia tetap kuat untuk datang ke Indonesia.
Demikian pula masyarakat sipil dan politik Indonesia yang menolak kedatangan Bush mengusung sebuah tesis besar, bahwa Indonesia hanya akan jadi kuda Troya bagi kepentingan Bush dan regim SBY. Namun di sisi lain, kelompok yang menolak kedatangan Bush sebenarnya juga berharap mendapatkan benefit politik berupa kemampuan untuk bisa bargaining dalam proses politik berikutnya. Apakah dengan regim SBY, atau dengan komunitas politik Indonesia atau bahkan dengan regim Bush dan Amerika Serikat. Artinya penolakan terhadap kedatangan Bush adalah sebagai sarana atau instrumen untuk mendapatkan keuntungan politik, baik langsung atau tidak langsung.

Arah Turbulensi

Dialektika dari tiga aktor politisasi tersebut terdapat kecenderungan sebagai berikut; pertama, regim SBY berpeluang mendapatkan keuntungan yang lebih banyak dengan mempergunakan stick ketidaksukaan masyarakat domestik, nasional, regional dan dunia terhadap perilaku politik regim Bush. Namun, SBY harus memainkan diplomasi tingkat tinggi, sebuah para-diplomasi. Sebuah diplomasi yang akan melakukan pemetaan dan management terhadap kematangan issue, dan implikasinya, sekaligus men-capture terhadap proses dari negosiasi. Dalam konteks kematangan issue dan implikasi, SBY memiliki amunisi yang cukup untuk memenangkan negosiasi, hanya dalam persoalan capturing process dari negosiasi antara SBY dengan Bush dan masyarakat domestik yang masih sulit diraba. Jika SBY gagal dalam menangkap dan mengendalikan proses negosiasi ini, maka analisis Ahmad Sumargono yang menyatakan bahwa negosiasi SBY dan Bush hanya akan saling mengubur karier politik masing-masing menjadi dapat momentum.
Bagaimana dengan Bush. Bush dan regim Republik adalah sebuah icon yang mengedepankan prestise politik daripada sekedar pragmatisme ekonomi. Meskipun regim Bush mulai mengalami kebangkrutan di domestik AS, namun gaya negosiasi Bush yang mengedepankan Lion Diplomacy, tidaklah akan berkurang. Sebuah diplomasi untuk mendesak dan memojokkan adalah sebuah gaya untuk mendapatkan benefit yang lebih besar. Apalagi dalam konteks regim Bush, gaya Lion Diplomacy pasti berseiring dengan Guns Diplomacy. Gaya diplomasi ini tampaknya tidak akan efektif, malah justru bisa kontra-produktif, meskipun negosiasi Bush dengan SBY layaknya Singa bertemu dengan Keledai. Singa dari regim Bush sedang sakit “gigi”, sehingga semakin Singa menunjukkan aumannya justru bukan menghasilkan efek gentar tapi malah menunjukkan hal yang bisa sebaliknya.
Sedangkan kelompok yang menentang kedatangan Bush, dalam batas tertentu adalah kelompok berbasis “kerumunan” (crowd). Benefit politik dari kelompok kerumunan sulit untuk dibagi secara merata, artinya berbagai elemen yang melakukan aksi penolakan terhadap kedatangan Bush tidak semuanya mendapatkan keuntungan politik secara langsung. Hanya kelompok kerumunan yang mampu mengasosiasikan kerumunan menjadi sebuah “movement” yang sistematislah yang dapat keuntungan . Lantas organisasi sipil mana yang secara jelas telah melakukan langkah asosiatif ini. NU dan Muhammadiyah merupakan 2 lembaga sipil yang akan mendapatkan benefit, minimal NU dan Muhammadiyah tidak lagi dipergunakan regim Bush sebagai “tempat pembersih” dari dosa-dosa Bush yang justru akan merusak citranya. Penolakan NU dan Muhammadiyah terhadap kedatangan Bush akan menaikan citra dan reputasi dua organisasi ini di mata umat Islam, baik nasional dan internasional.