Diskusi
Indonesia Bisa Belajar dari Hamas Soal Bantuan Asing

Yogyakarta, 11 Mei 2006 17:12
Indonesia bisa mengambil pelajaran dari Hamas dalam hal bantuan luar negeri, karena kendati dalam keadaan terjepit, Hamas tidak serta-merta menerima seluruh bantuan yang ditawarkan pihak asing.

“Hamas masih memilah-milah bantuan mana yang harus diterima untuk menghindari bentuk kemubadziran dan tindakan korupsi, bahkan mungkin bencana seperti yang pernah terjadi pada rezim Abas yang penuh dengan tindakan korupsi,” kata pengamat politik Islam dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Surwandono SIP MSi di Yogyakarta, Kamis.

Meskipun demikian, menurut dia pada diskusi `Dunia Islam dan Hamas`, bantuan terbesar yang bisa diharapkan Hamas memang seharusnya datang dari negara Islam sebagai wujud dari solidaritas sesama muslim.

“Sampai saat ini bantuan keuangan sudah siap diluncurkan untuk Hamas, antara lain datang dari Organisasi Konferensi Islami (OKI), Malaysia, Yaman, dan Qatar,” ujarnya.

Menurut dia, ada dua bentuk bantuan yang diberikan, yakni bantuan yang bersifat asimetris dan simetris.

Bantuan asimetris artinya ada maksud tertentu dari negara pemberi bantuan. Sedangkan bantuan simetris berarti tidak ada maksud apapun termasuk indikasi politik.

“Melihat dari bentuk bantuan yang selama ini diberikan pada Hamas adalah bentuk yang sifatnya simetris terutama dari dunia Islam, sehingga tidak ada kepentingan politik sama sekali,” kata dia.

Ia mencontohkan, salah satunya adalah bantuan yang diberikan PKS di Indonesia dengan menggalang infaq satu dolar AS untuk Palestina, yang disebabkan kedekatan sisi historis di antara Hamas dan PKS.

“Namun, di luar semua itu sepantasnya bantuan tersebut diberikan dunia Islam yang merasa satu saudara sesama muslim,” sambungnya.

Selain bantuan secara fisik, sikap dunia Islam dalam kajian kasus Hamas juga sangat menentukan, di antaranya membantu meyakinkan dunia bahwa Hamas bukan organisasi yang sebagaimana disebutkan oleh Amerika Serikat.

Menurutnya, Hamas sekarang sedang memulihkan citranya. Jadi bantuan moril berupa dukungan tersebut sudah sangat membantu, bukannya malah memojokkan atau mencemoohnya.

“Jika cemoohan tersebut berhasil mempengaruhi Hamas, maka jangan salahkan jika Hamas kembali pada masa lalunya,” tandasnya.

Ia mengemukakan, Hamas selama ini dikenal publik sebagai kelompok `pendendam` yang sering menggunakan tindakan kekerasan sebagai bentuk aksi perlawanan, tidak terlepas dari media yang selalu menyorotinya dari satu sisi saja.

Akibatnya, banyak yang menilai Hamas sebagai `sosok` yang menakutkan dan tidak boleh mendapatkan bantuan dari luar negeri dalam bentuk apapun.

“Sampai saat ini rezim internasional pro-Israel terus menggalang pemberlakuan embargo politik terhadap Hamas,” sambung dia. [TMA, Ant]

Sumber:: http://www.gatra.com/2006-05-15/artikel.php?id=94403