Saturday, 09 January 2010 22:20 PDF Print E-mail
Analis: AS jangan gelap mata hadapi aksi teror
Warta Medan
MONA ASRIATI
WASPADA ONLINE
(wordpress.com)

MEDAN – Sejak usaha percobaan peledakan pesawat penumpang milik maskapai Northwest Airlines dalam perjalanan dari Amsterdam menuju Detroit, pemerintah Amerika Serikat kemudian menerapkan kebijakan untuk meningkatkan level keamanan bandara di AS.

AS juga memberikan pengawasan ketat terhadap siapapun yang telah bepergian dari Yaman, karena Umar Farouk Abdulmutallab, pelaku ancaman pemboman tersebut pernah menjalani proses pelatihan di Yaman.

Yaman sendiri kini dianggap sebagai sarang baru bagi jaringan teroris internasional Al Qaeda yang mencoba membangun kekuatannya kembali. Selain Yaman , Nigeria juga termasuk dalam fokus AS, mengingat Abdulmutallab berasal dari Nigeri.

Daftar negara yang masuk dalam pengawasan AS terdiri dari 14 negara antara lain Kuba, Iran, Sudan, Suriah, Afghanistan, Aljazair, Irak, Lebanon, Libya, Nigeria, Pakistan, Arab Saudi, Somalia dan Yaman. Sejauh ini, Nigeria merupakan negara yang pertama kali memprotes kebijakan tersebut.

Analis politik internasional dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Surwandono, berasumsi AS sedemikian protektifnya, dan hal tersebut bisa saja dikatakan sebuah kewajaran. Hanya saja, menurut Surwandono lagi, hal tersebut jangan sampai membuat AS ‘gelap mata’ sehingga ada upaya generalisasi terhadap setiap aksi teror yang terjadi.

Surwandono juga berpendapat sudah sepantasnya negara-negara yang masuk dalam daftar tersebut untuk melakukan protes terhadap kebijakan yang dikeluarkan AS.

“AS seharusnya bisa belajar lebih detail melihat setiap kejadian. Hati-hati mengelola isu keamanan yang terjadi, jangan sampai ‘gelap mata’ dan mengambil kebijakan yang salah dan arogan ,” ujarnya.
(dat02/wol–mdn)