Issue Instrumentalis
Konflik Mindanao mulai menujukkan pola-pola instrumentalis setelah terjadi kesepakatan dalam Tripoli Agreement 1976. Ada kecenderungan besar bahwa para aktor konflik cenderung mempergunakan issue konflik untuk mendapatkan dukungan, baik dari domestik sampai dengan dukungan internasional. MNLF sebagai salah satu organ kelompok perlawanan di Mindanao mendapatkan pengakuan yang luas di masyarakat internasional khususnya di dunia Islam bahkan melebihi kekuasaan tradisonal kasultanan di Mindanao. Bahkan dalam pandangan Salamat Hashim, konflik dengan pemerintah Filipina akhirnya menempatkan Nur Misuari menjadi salah satu elit penting dalam ARMM. Dalam batas tertentu, pilihan MILF melakukan konflik dengan pemerintah Filipina dan memisahkan diri dari MNLF juga sebagai sarana untuk meningkatkan kemampuan bargaining. Hal ini bisa dilacak bahwa pasca meninggalnya Salamat Hashim, para elit MILF juga mendapatkan posisi-posisi di dalam ARMM.
Abu Sayyaf group, merupakan aktor konflik yang cenderung mempergunakan konflik secara unik. Berbeda dengan kelompok perlawanan muslim lainnya, Abu Sayyaf cenderung mempergunakan metode penyanderaan untuk mendapatkan tebusan uang. Memang ada perbedaan cukup signifikan antara Abu Sayyaf group, MILF dan MNLF. MNLF mendapatkan alokasi sumber pendanaan dari sponsor utama yakni LIbia, sedangkan MILF mempergunakan jaringan internasional seperti al-Qaeda. Meskipun hal ini senantiasa dibantah, terutama pasca MILF melakukan Final Peace Agreement dengan pemerintah Filipina.
Tabel 4
Sumber Pendanaan Gerakan Perlawanan Islam Mindanao

No Organisasi Perlawanan Mindanao Sumber Pendanaan
1 Moro National Liberation Front Negara sponsor, Libya , Malaysia dan OKI
2 Moro Islamic Liberation Front Negara Timur Tengah, Pakistan, Al-Qaeda
3 Abu Sayyaf Group Tebusan/Al-Qaeda

Sumber: Diolah dari tesis Asep Chaerudin, Countering Transnational Terrorism in Southeast Asia With Respect to Terrorism in Indonesia and the Philippines, Naval Postgraduate School, Monterey California, December 2003

Begitu pula dari fihak pemerintah Filipina terutama pada era Marcos, konflik dengan kelompok Muslim Mindanao merupakan sebagai salah satu instrumen untuk memakmurkan Luzon dengan menggunakan sumber daya dari Mindanao. Dengan senantiasa melaksanakan konflik, Marcos berharap akan mendapatkan dukungan domestik terutama dari penduduk di kepulauan Luzon. Pola ini juga tampak dalam masa pemerintahan Estrada dan Aroyyo, konflik dengan kelompok perlawanan Mindanao yang terkonstruksi sebagai kelompok teroris, memberikan keuntungan bagi pemerintah Filipina berupa bantuan secara massif dari Amerika Serikat.
Kebijakan all-out-war dari Estrada dan kebijakan perang kepada terorisme internasional dari Aroyyo tidak bisa dilepaskan dari fenomena linkage perjanjian internasional. Yakni di tengah posisi ekonomi Filipina yang mengalami kontraksi sangat kuat, apalagi ditambah dengan belum selesainya konflik di Mindanao, maka Amerika Serikat akan memberikan bantuan ekonomi sekaligus bantuan militer jika pemerintah Filipina terlibat dalam koalisi memerangi kelompok terorisme internasional. Dalam hal ini Amerika Serikat telah memasukkan MILF dan Abu Sayyaf sebagai kelompok teroris karena disinyalir memiliki hubungan dengan jaringan Al-Qaeda.