Politik Mindanao Pasca Masuknya Islam

Dalam sub bab ini akan dijelaskan tentang proses masuknya Islam ke Mindanao, baik melalui jalur budaya,thariqat, dan jalur perdagangan. Di samping itu akan dijelaskan jalur masuknya islam, baik yang berasal dari jalur Sumatera, Brunei maupun dari jalur Malaka, yang dalam perkembangan politik di Mindanao menunjukkan pengaruh yang berarti dalam pembentukan budaya politik di Mindanao.
Dalam beberapa studi yang dilakukan oleh Cesar Adib Majul , Thomas M. Mc Kenna, Islam masuk ke Mindanao sekitar abad ke 15 Masehi melalui tiga jalur besar, yakni dari jalur Indonesia (kepulauan Sumatera), Malaysia (Kasultanan Malaka) dan jalur Borneo (Brunei Darussalam). Ketiga jalur tersebut berjalan secara otonom dan tidak saling terkordinasi satu sama lain, serta memiliki arah tujuan yang agak berbeda. Jalur Indonesia dan Brunei cenderung masuk ke Mindanao melalui Mindanao kepulauan yang pada akhirnya akan mempengaruhi budaya politik islam di kasultanan Sulu dan sekitarnya. Sedangkan dari jalur Malaka akan mempengaruhi budaya politik Islam di Mindanao kepulauan, khususnya di Maguindanao dan Cotabato.
Dalam studi yang dilakukan Adib Majul, setidaknya etnik yang telah terislamisasi pasca datangnya Islam yang terdiri dari beberapa kelompok; pertama, Palawan Groups , yang terdiri dari etnik Palawanun – baik di barat daya dan Tenggara Palawan, Molbog (Melabuganon), kepulauan Balabac di sebelah Barat Daya Palawan, Jama Mapun – Cagayan de Sulu Islands. Kedua, Sulu Group, yang terdiri dari etnik Tausug – di sekitar Jolo, Samals , terutama di Tawi-Tawi dan Sulu Selatan, Badjao. Ketiga, Mindanao Groups; yang terdiri dari Maranao, di daerah Lanao del Sur, terutama sekitar danau Lanao, Lanao del Norte, Ilanun, Maguindanao, di Cotabato dan North Cotabato, Sultan Kudarat dan South Cotabato, Kalibugan , di daerah Zamboanga del Sur, dan Zamboanga del Norte, Yakan, di kepulauan Basilan, Karaga , di Davao Oriental, Sanguil, di kepulauan Sarangani.