Politik Mindanao Sebelum Masuknya Islam

Dalam beberapa studi yang dilakukan oleh Cesar Adib Majul , Thomas M. McKenna , maupun Samuel E Tan tercermin bahwa masyarakat Mindanao sebelum masuknya Islam ditandai dengan beberapa fenomena besar. Pertama, kuatnya tradisi pemahaman tentang kehidupan sebagai interaksi antara makhuk hidup dan alam. Alam adalah causa prima bagi tumbuh dan berkembangnya masyarakat. Alam memberikan sesuatu yang dibutuhkan oleh masyarakat. Sehingga terdapat sebuah hikayat di Mindanao, terutama di Cotabato, masyarakat yang tinggal di Mindanao memiliki moyang yang dilahirkan dari batu (Bato). Dalam konteks studi Antropologis, masyarakat Mindanao awal difahami sebagai masyarakat animis, yakni masyarakat mempercayai bahwa terdapat suatu kekuatan yang besar di luar manusia yang bersumberkan dari alam.
Kedua, masyarakat animis yang cenderung ramah ketika berinteraksi dengan alam, sehingga pola kehidupan ekonomi untuk memanfaatkan sumber daya alam terkesan sangat berhati-hati dan tidak eksploatatif. Alam diyakini akan memenuhi seluruh kebutuhan hidup, dan masyarakat Mindanao tinggal mengambilnya dari alam dengan tidak terlalu melakukan eksploatasi terhadap alam yang diyakini akan merusak kemampuan alam untuk menyediakan kehidupan. Corak ekonomi masyarakat Mindanao cenderung mengarah pada pola ekonomi subsisten, pola hidup yang lebih menekankan kepada upaya memanfaatkan alam sesuai dengan kebutuhan yang paling mendasar saja. Hal ini berpengaruh terhadap index kesejahteraan hidup masyarakat Lumads.
Tradisi perdagangan yang dilakukan oleh masyarakat Mindanao masih berkarakteristik local dengan pola barter. Masyarakat Mindanao lebih dikenal sebagai masyarakat agraris dibandingkan sebagai masyarakat pantai. Masyarakat Mindanao cenderung tinggal di daerah sekitar pegunungan atau sekitar danau daripada tinggal di daerah pantai ataupun sekitar sungai, untuk menghindari meluapnya air dari sungai ataupun laut. Pilihan ini tidak bisa dilepaskan dari kondisi geografis Mindanao sebagai “daerah banjir”, dan makna kata Mindanao sendiri adalah daerah banjir. Perdagangan lintas kepulauan di Mindanao baru diperkenalkan oleh masyarakat Islam yang sudah mulai mengenal tradisi kapal dan perahu.
Ketiga, kepemimpinan di Mindanao dipimpin oleh seorang datu, yakni pemimpin tradisional yang biasanya memiliki keunggulan khusus yang didasarkan kepemilikan kekuatan magis, dan diyakini memiliki kemampuan untuk mengelola sejumlah tanah yang luas. Seperti halnya dengan pemimpin tradisional di Asia Tenggara, para datu ini memiliki kekuatan yang luar biasa sehingga bisa mengendalikan ataupun mengetahui perilaku alam. Kondisi ini kemudian menempatkan para datu sebagai sumber dari segala pengetahuan, budaya dan tradisi di masyarakat Mindanao.
Kepemimpinan para datu ini bersifat turun temurun dan menguasai wilayah-wilayah tertentu, terbatas dan otonom. Tidak ada ada kecenderungan tidak terjadi perluasan wilayah dari datu satu ke wilayah datu yang lain. Kondisi ini kemudian tertransformasikan dalam politik datu di Mindanao modern sebagai representasi kepala barangays atau desa di Mindanao dan Filipina. Biasanya barangays terdiri dari 40 sampai 100 orang yang menetap di suatu daerah.