BAGIAN I
PERKENALAN DAN KONTRAK SOSIAL
DESKRIPSI

Modul peningkatan kapasitas aktivis organisasi ekstra kampus berbasis Islam dalam mendiskursuskan pemikiran liberal dan fundamental didesain dengan metode partisipatif, oleh karena itu perkenalan antar peserta maupun peserta dengan fasilitator menjadi sangat penting. Perkenalan sedemikian rupa didesaian secara egaliter dan ramah sehingga akan membuat kepercayaan antar peserta maupun fasilitator dapat terbangun.
Kontrak social merupakan mekanisme yang disepakati bersama tentang hal-hal yang harus dilakukan, boleh dilakukan maupun tidak boleh dilakukan. Kontrak social juga harus dibuat secara partisipatif agar semua fihak yang terlibat dalam pelatihan memiliki social awareness untuk mematuhinya

TUJUAN

Membuat peserta dan fasilitator saling mengenal secara intens dalam waktu yang cepat
serta mampu membuat suasana pelatihan akrab

METODE

Studi Kasus
Bermain Peran
Bernyanyi

ALAT-ALAT YANG DIBUTUHKAN

Kertas Plano
Kertas Meta Plan
Kertas HVS

WAKTU

90 MENIT

PROSES FASILITASI

1. Peserta seluruh berdiri melingkar dan fasilitator berada di tengah
2. Fasilitator memperkenalkan diri. Buat yang menarik dan simpatik dan memberikan informasi aturan main permainan ini.
3. Fasilitator menyanyikan lagu Zip-Zap, dan secara acak menunjuk untuk meminta peserta untuk mengenali 2 orang di samping kiri jika jatuh pada kata Zip, dan 2 orang di samping kanan jika jatuh pada kata Zap.
4. Kemudian angka yang harus dikenali bertambah terus sampai angka pengenalan minimal 5 orang di samping kiri dan kanan.
5. Jika perserta gagal mengingat nama peserta akan mendapatkan hukuman yang wataknya rekreatif dan tidak menyinggung perasaan.
6. Peserta diberikan kesempatan untuk mengartikulasikan ciri-ciri khusus dari peserta sehingga memungkinkan mampu menghafal nama secara cepat dan menyenangkan.
7. Fasilitator menyusun dan mengharmonisasikan pendapat dari peserta, dan kemudian melakukan wrap up bersama.

SISTEM EVALUASI

1. Fasilitator mengevaluasi pencapaian kompetensi peserta dengan memberikan pertanyaan kepada peserta secara acak untuk pertanyaan essai yang disampaikan secara verbal.
2. Fasilitator mengevaluasi pencapaian peserta dengan memberikan pertanyaan tertulis untuk kemudian direkap hasilnya oleh fasilitator

BAGIAN II
ARTI PENGALAMAN BERSTRUKTUR

DESKRIPSI

Modul peningkatan kapasitas aktivis organisasi ekstra kampus berbasis Islam dalam mendiskursuskan pemikiran liberal dan fundamental didesain dengan metode partisipatif, di mana pengalaman berstruktur menjadi titik tolak bagi peningkatan kapasitas. Peserta diharapkan akan menjadi peserta yang proaktif dalam menyampaikan berbagai pengalaman, harapan, kekhawatiran yang terkait dengan ruang mendiskursuskan pemikiran.
Pengalaman Berstruktur, merupakan kumpulan dari berbagai memori, yang terkait dengan nilai maupun fakta tentang sesuatu, untuk diaktualkan kembali dalam sebuah forum bersama. Forum tersebut akan berperan untuk menjembatani berbagai pengalaman dari peserta untuk kemudian dikonstruksi menjadi nilai bersama dalam mensikapi sesuatu

TUJUAN

Peserta mampu mengartikulasikan berbagai pengalaman, harapan, kekhawatiran dalam mendiskursuskan pemikiran secara jujur dan terbuka

METODE

Ceramah
Studi Kasus
Bermain Peran

ALAT-ALAT YANG DIBUTUHKAN

Komputer dan Viewer
Kertas Plano
Kertas Meta Plan
Kertas HVS

WAKTU

90 MENIT

PROSES FASILITASI

1. Fasilitator menyampaikan gambaran singkat selama 15 menit tentang pengertian pengalaman berstruktur, dengan mempergunakan alat bantu LCD.
2. Peserta memperhatikan paparan dari fasilitator dan memberikan komentar maupun pertanyaan selama 15 menit menit.
3. Fasilitator memberikan kesempatan kepada beserta untuk bertutur tentang pengalaman berkonflik dalam berorganisasi dan proses penyelesaian konflik tersebut.
4. Peserta menganalisa tentang factor-faktor yang menyebabkan konflik dalam organisasi timbul serta alternative penyelesaian yang paling efektif dan efisien.
5. Untuk menunjang efektivitas pelaksanaan, proses analisa ini dapat dilakukan dalam model role playing, di mana terdapat fihak yang berkonflik, fihak yang memprovokasi konflik, memediasi konflik dengan mengambil kasus yang disediakan. Misal dalam konteks ini mempergunakan kasus “Kerbau Air”.
6. Fasilitator menyiapkan beberapa kata-kata kunci untuk membantu para peserta dalam mengartikulasikan pengalaman dalam mengartikulasikan konflik pemikiran dalam organisasi
7. Fasilitator menyusun dan mengharmonisasikan pendapat dari peserta, dan kemudian melakukan wrap up bersama.

SISTEM EVALUASI

1. Fasilitator mengevaluasi pencapaian kompetensi peserta dengan memberikan pertanyaan kepada peserta secara acak untuk pertanyaan essai yang disampaikan secara verbal.
2. Fasilitator mengevaluasi pencapaian peserta dengan memberikan pertanyaan tertulis untuk kemudian direkap hasilnya oleh fasilitator

SUPLEMEN MATERI

HIKAYAT KERBAU AIR

Terdapat 3 kelompok suku yang berada di pedalaman Amerika Latin yang saling memperebutkan Kerbau Air. Kerbau ini memiliki banyak khasiat untuk penyembuhan penyakit khusus. Namun semakin hari jumlah Kerbau Air semakin berkurang, bahkan sekarang ini hanya tinggal 1 ekor yang dimiliki oleh Kepala Suku Igungi. Kerbau ini pernah akan dijual oleh Kepala Suku Ingungi karena Sang Istri Kepala Suku sangat cemburu dengan kecintaan Kepala Suku Igungi terhadap Kerbaunya dengan harga 1 Milyard US$.
Namun bersamaan dengan itu, ada kabar bahwa Kepala Suku India sedang sakit Keras. Ada sebuah informasi bahwa penyakit kepala Suku India akan bisa sembuh jika mengkonsumsi Hati Kerbau Air. Di sisi yang lain terdapat berita pula bahwa Istri Kepala Suku Abombo sedang hamil dan “nyidam” untuk makan Hati Kerbau Air. Sang istri kemudian mengancam kepala Suku Abombo jika tidak mendapatkan Hati Kerbau Air, maka ia akan bunuh diri.
Maka berangkatlah utusan dari 2 kepala suku tersebut dengan membawa uang 1 milyar US$.
Mengetahui hati kerbau air tersebut sangat dibutuhkan maka Kepala Suku Igunggi menaikan harga kerbau air menjadi 7 milyar. Sebuah angka yang tidak mungkin dipenuhi oleh kedua Suku tersebut. Namun terdapat kabar bahwa Kerbau Air sakit, jika hati kerbau air dimakan justru akan membuat orang yang memakannya akan mati. Yang berarti ketiga suku akan menghadapi kerugian bersama.
Ada seorang “Dukun” berjanji mau mengobati Kerbau Air, namun dengan meminta imbalan 3 milyar. Sehingga harga kerbau air ditambah dengan biaya pengobatan mencapai angka 10 milyar.
Ketiga kepala suku akhirnya mengalami kesulitan untuk menentukan sikap antara pilihan untuk berperang atau berdamai. Berperang bagi suku India dan Abombo akan menguntungkan karena hanya perlu membayar 3 Milyar pada Dukun saja, tapi Keduanya juga Pasti akan berebut Hati Kerbau Air. Di sisi lain, Suku Igunggi jika terus menawarkan dengan harga Tinggi akan diserang oleh Dua Suku, tapi jika mengikuti tuntutan harga, suku Igunggi akan merugi. Apa yang akan anda pilih: Perang atau Damai?

ATURAN PERMAINAN
Tahap I:
Jika 1 kartu damai, 2 kartu perang (damai dapat 1, perang dapat 2)
Jika 1 kartu perang, 2 kartu damai (damai dapat 2, perang dapat 1)
Jika semua kartu perang, semua dapat –1
Jika semua Kartu Damai, semua dapat 1

Tahap II
Jika 1 kartu damai, 2 kartu perang (damai dapat 1, perang dapat 2)
Jika 1 kartu perang, 2 kartu damai (damai dapat 2, perang dapat 1)
Jika semua kartu perang, semua dapat –1
Jika semua Kartu Damai, semua dapat 1

Tahap III
Jika 1 kartu damai, 2 kartu perang (damai dapat 3, perang dapat -3)
Jika 1 kartu perang, 2 kartu damai (damai dapat -1, perang dapat 3)
Jika semua kartu perang, semua dapat –3
Jika semua Kartu Damai, semua dapat 1
Tahap IV (diadakan Negosiasi dgn meminta bantuan pihak ke 3)
Jika 1 kartu damai, 2 kartu perang (damai dapat 3, perang dapat -3)
Jika 1 kartu perang, 2 kartu damai (damai dapat -1, perang dapat 3)
Jika semua kartu perang, semua dapat –3
Jika semua Kartu Damai, semua dapat 1
Tahap V
Jika 1 kartu damai, 2 kartu perang (damai dapat 1, perang dapat 2)
Jika 1 kartu perang, 2 kartu damai (damai dapat 2, perang dapat 1)
Jika semua kartu perang, semua dapat –1
Jika semua Kartu Damai, semua dapat 1

Tahap VI (diadakan Negosiasi dgn melibatkan fihak ke 3)
Jika 1 kartu damai, 2 kartu perang (damai dapat 4, perang dapat -4)
Jika 1 kartu perang, 2 kartu damai (damai dapat -1, perang dapat 1)
Jika semua kartu perang, semua dapat –1
Jika semua Kartu Damai, semua dapat 2

BAGIAN III
FUNDAMENTALISASI PEMIKIRAN ISLAM
DESKRIPSI
BAB
Dalam bahasan fundamntalisasi pemikiran, akan mendiskursuskan tentang pemaknaan terhadap fundamentalisasi pemikiran Islam, baik dalam konteks pemikiran klasiik, modern, post modern, baik dalam konteks diskursus di level internasional maupun pemikiran di Indonsia. Pemaknaan ini dilakukan oleh kelompok yang mengaktalisasikan diri sebagai bagian dari kelompok fundamental maupun dari luar kelompok fundamental. Di samping itu juga dikaji tentang proses social kemunculan dari pemikiran politik yang berbasiskan fundamentalisasi, baik dalam konteks masyarakat Islam yang berbasis tradisional, modern, maupun dalam masyarakat pedesaan maupun perkotaan.

TUJUAN

Peserta mengetahui akar sejarah dan pertumbuhan pemikiran fundamentalisme dari masa klasik sampai masa kini.

METODE

Ceramah
Brainstorming
Curah Gagas
Simulasi

ALAT-ALAT YANG DIBUTUHKAN

Komputer dan Viewer
Kertas Plano
Kertas Meta Plan
Kertas HVS

WAKTU

90 MENIT

PROSES FASILITASI

1. Fasilitator menyampaikan gambaran singkat selama 15 menit tentang konteks social pemikiran fundamental dari masyarakat Islam, dengan mempergunakan alat bantu LCD.
2. Peserta memperhatikan paparan dari fasilitator dan memberikan komentar maupun pertanyaan selama 15 menit menit.
3. Fasilitator membagi peserta dalam kelompok masyarakat, yang terdiri dari 5 kelompok besar, yakni kelompok Islam Tradisional, Kelompok Islam Modern, Kelompok Islam Fundamental, Kelompok Islam Liberal, dan Kelompok di luar Islam secara acak.
4. Peserta menganalisa tentang dinamika pertumbuhan pemikiran fundamental dan memberikan penilaian secara obyektif dan subyektif terhadap asumsi dan nalar berfikir yang dikembangkan oleh pemikiran fundamental.
5. Untuk menunjang efektivitas pelaksanaan, proses analisa ini dapat dilakukan dalam model simulasi, di mana kelima kelompok yang dibentuk tersebut saling mendiskursuskan tentang dinamika pemikiran fundamental, baik dalam era klasik maupun kontemporer dalam bentuk tulisan singkat yang kemudian ditempelkan dalam kertas plano..
6. Fasilitator menyiapkan beberapa kata-kata kunci untuk membantu para peserta dalam mengartikulasikan pemikiran terkait dengan pemikiran fundamental.
7. Fasilitator menyusun dan mengharmonisasikan pendapat dari peserta, dan kemudian melakukan wrap up bersama.

SISTEM EVALUASI

1. Fasilitator mengevaluasi pencapaian kompetensi peserta dengan memberikan pertanyaan kepada peserta secara acak untuk pertanyaan essai yang disampaikan secara verbal.
2. Fasilitator mengevaluasi pencapaian peserta dengan memberikan pertanyaan tertulis untuk kemudian direkap hasilnya oleh fasilitator

BAGIAN IV
LIBERALISASI PEMIKIRAN ISLAM
DESKRIPSI
BAB
Dalam bahasan liberalisasi pemikiran, akan mendiskursuskan tentang pemaknaan terhadap liberalisasi pemikiran Islam, baik dalam konteks pemikiran klasiik, modern, post modern, baik dalam konteks diskursus di level internasional maupun pemikiran di Indonsia. Pemaknaan ini dilakukan oleh kelompok yang mengaktalisasikan diri sebagai bagian dari kelompok liberal maupun dari luar kelompok liberal. Di samping itu juga dikaji tentang proses social kemunculan dari pemikiran politik yang berbasiskan liberal, baik dalam konteks masyarakat Islam yang berbasis tradisional, modern, maupun dalam masyarakat pedesaan maupun perkotaan.

TUJUAN

Peserta mengetahui akar sejarah dan pertumbuhan pemikiran liberal dari masa klasik sampai masa kini.

METODE

Ceramah
Brainstorming
Curah Gagas
Simulasi

ALAT-ALAT YANG DIBUTUHKAN

Komputer dan Viewer
Kertas Plano
Kertas Meta Plan
Kertas HVS

WAKTU

90 MENIT

PROSES FASILITASI

1. Fasilitator menyampaikan gambaran singkat selama 15 menit tentang konteks social pemikiran liberal dari masyarakat Islam, dengan mempergunakan alat bantu LCD.
2. Peserta memperhatikan paparan dari fasilitator dan memberikan komentar maupun pertanyaan selama 15 menit menit.
3. Fasilitator membagi peserta dalam kelompok masyarakat, yang terdiri dari 5 kelompok besar, yakni kelompok Islam Tradisional, Kelompok Islam Modern, Kelompok Islam Fundamental, Kelompok Islam Liberal, dan Kelompok di luar Islam secara acak.
4. Peserta menganalisa tentang dinamika pertumbuhan pemikiran liberal dan memberikan penilaian secara obyektif dan subyektif terhadap asumsi dan nalar berfikir yang dikembangkan oleh pemikiran liberal.
5. Untuk menunjang efektivitas pelaksanaan, proses analisa ini dapat dilakukan dalam model simulasi, di mana kelima kelompok yang dibentuk tersebut saling mendiskursuskan tentang dinamika pemikiran liberal, baik dalam era klasik maupun kontemporer dalam bentuk tulisan singkat yang kemudian ditempelkan dalam kertas plano..
6. Fasilitator menyiapkan beberapa kata-kata kunci untuk membantu para peserta dalam mengartikulasikan pemikiran terkait dengan pemikiran liberal.
7. Fasilitator menyusun dan mengharmonisasikan pendapat dari peserta, dan kemudian melakukan wrap up bersama.

SISTEM EVALUASI

3. Fasilitator mengevaluasi pencapaian kompetensi peserta dengan memberikan pertanyaan kepada peserta secara acak untuk pertanyaan essai yang disampaikan secara verbal.
4. Fasilitator mengevaluasi pencapaian peserta dengan memberikan pertanyaan tertulis untuk kemudian direkap hasilnya oleh fasilitator

SUPLEMEN MATERI

LANDASAN BERFIKIR DALAM ISLAM

Sebagai sebuah bangunan pengetahuan yang mempunyai arah dan orientasi yang jelas, perkakas metode menjadi sebuah kemestian. Metode merupakan cara bagaimana sesuatu berproses, proses pertumbuhan ilmu, proses pengukuran, proses verifikasi maupun proses rasionalisasi.
Metode dalam Islam disamakan dengan kata manhaj. Manhaj pemikiran Islam selalu didasarkan kepada kedudukan manusia sebagai khalifah, yang diberikan hak oleh Tuhan untuk mengatur dan memakmurkan bumi dan seisinya. Metode pemikiran dalam perspektif Islam juga melandaskan pada pemanfaatan akal manusia secara maksimal dalam kerangka menjalankan tugas kemakmuran tersebut. Artinya terdapat dua dinamika interaksi landasan, antara dorongan kepentingan ilahiyah dan akal.
Dinamika interaksinya, saling memberikan makna baru, akan tetapi juga sampai saling menafikan makna satu sama lain. Terkadang landasan wahyu yang lebih dominan, dalam pemaknaan pemikiran, terkadang pula akal lebih dominan dalam pemaknaan wahyu, ataupun keduanya saling menafikan satu sama lain.
Persoalan metodologis dalam politik Islam tampaknya masih terdapat problem. Hal ini setidaknya diakui oleh tokoh Islamisasi Ilmu Pengetahuan, dari Ismail Raji al-Faruqi sampai Abdul Hamid Abu Sulaiman. Kerangka metodologi (manhaj) pemikiran politik Islam lebih banyak harus belajar dari metodologi pemikiran Barat, mengambil yang selaras dengan Islam, memperbaiki kekurangan dan memberikan warna dengan Islam.
Metode Pemikiran politik Barat yang melihat realitas politik yang bebas nilai, di mana meletakkan sumber kebenaran adalah terletak di akal,kemanfaatan, konsistensi, koherensi. Yang seringkali menafikan kebenaran yang berasal dari wahyu, yang mana difahami tidak bisa diklarifikasi dan diverifikasi lebih jauh. Bagi pemikiran politik Islam, peranan wahyu sebagai sumber kebenaran sangat signifikan. Bahkan dalam pemikiran Islam klasik, dominasi wahyu dalam proses pencarian kebenaran adalah sebagai hal yang mutlak. Meski juga dalam batas tertentu kebenaran akal juga mendapatkan tempat yang memadai.
Dalam proses penyusunan struktur keilmuan, pemikiran politik Islam banyak dipengaruhi oleh qaidah ushul fiqh, yang telah dibuat dan dikembangkan lebih jauh oleh Imam Syafi’i. Dengan qaidah-qaidah tertentu akan diketemukan kebenaran-kebenaran, terutama yang masih belum secara transparan diungkapkan sumber utama kebenaran. Hal ini mendapat perhatian yang sangat luas dalam proses istimbath, baik dalam tataran qiyas maupun ijtihad. Di mana dalam batasan pemikiran klasik, proses pengambilan keputusan ini setidaknya memberikan klasifikasi yang sangat ketat, dalam upaya menjaga sebuah kebenaran.
Landasan dasar pemikiran Islam dalam pandangan, kelompok Islamisasi Pengetahuan adalah sebagai berikut:
a. Al-Wihdaniyyah
Akal manusia tidak mempunyai wujud (keberadaan) kecuali ia beriman dengan al-wihdaniyah (kesatuan) sebagai aksioma idiologis fitriyyah berdasarkan keimanan mutlak dan persepsi yang jelas tentang Alloh Yang Maha Besar. Landasan ini mendasarkan akal manusia diatas hipotesa kesatuan sumber , dan kebenaran (hakikat) merupakan titik-tolak seluruh alam dan makhluk. Keberhasilan yang diperoleh akal Mulsim adalah berlandaskan pada keteguhan prinsip-prinsip al-wihdaniyyah.
b. Al-Khilafah
Yang dimaksud dengan khilafah adalah khilafah manusia (sebagai pemegang mandat) di bumi dan alam. Khilafah dalam konsep akal Muslim adalah nikmat dan kehormatan. Dari landasan al-khilafah ini, akal Muslim diajak untuk mendayagunakan alam dan makhluk yang dapat memberi manfaat dan keuntungan bagi alam dan makhluk sekitarnya.
c. Pertanggung-jawaban Moral
Dengan hakikat ini diharapkan pandangan akal muslim dapat benar dan berhasil. Dengan performa khilafah yang baik, akal Muslim akan menjadi mencuat dan berpacu. Dengan perasaan bertanggungjawab yang jernih dan bersih, akal Muslim akan dapat berdisplin. Dengan metode ini diharapkan akal Muslim akan selalu cakap, sungguh-sungguh, positif, bermoral dan memberi.
Dari pola ini, tampak sekali kebenaran sebuah struktur pemikiran hanya akan diperoleh oleh orang yang mempunyai kafa’ah (kemampuan) yang memadai. Orang kebanyakan akan sulit terlibat di dalamnya, di mana proses penggalian kebenaran ada kecenderungan akan menjadi monologi sekelompok kaum. Metode-metode yang ketat ini diperkuat dalam bentuk dataran mazhab-mazhab pemikiran, yang satu sama lain seringkali berbeda secara kualitas penekanannya. Rumitnya metode pemikiran Islam ini, akhirnya sering menjadikan lambannya pertumbuhan pemikiran politik Islam. Kelambanan ini setidaknya dengan terjadinya polemik berkepanjangan, baik dalam batasan mengoyang kemapanan pemikiran yang sebelumnya establish atau menimbulkan kontroversi tertentu, sehingga tingkat publikasinya menjadi rendah.
Akan tetapi inilah ciri khas dari pemikiran politik Islam, yang ingin menggagas sesuatu dengan cermat, dan matang. Pemikiran politik merupakan sesuatu yang penting yang menyangkut kemaslakhatan umat. Sekali salah meletakkan sebuah pemikiran, maka akan memberikan kemadlaratan yang berakibat fatal bagi masyarakat.
BAGIAN V
MENGARTIKULASIKAN SUMBER-SUMBER
PEMIKIRAN ISLAM
DESKRIPSI
BAB
Dalam bahasan mengartikulasikan pemikiran, akan mendiskursuskan tentang bagaimana para pemikir dan tokoh Islam di berbagai era mengartikulasikan pemikiran tersebut dalam komunitas sendiri ataupun lintas komunitas. Bagaimana dinamika respon masyarakat Islam maupun non Islam terhadap artikulasi pemikiran fundamental maupun liberal. Di samping itu juga dikaji tentang proses interaksi social antar pemikiran, baik dalam konteks diskursus yang conflictual-peaceful maupun diskursus yang conflictual-violence. Dari pemahaman ini dapat diambil pelajaran penting tentang bagaimana proses mendiskursuskan pemikiran secara elegan.

TUJUAN

Peserta mengetahui proses, metode maupun implikasi yang ditumbulkan dari artikulasi pemikiran Islam yang berbasis liberal maupun fundamental

METODE

Ceramah
Brainstorming
Curah Gagas
Menonton Film

ALAT-ALAT YANG DIBUTUHKAN

Komputer dan Viewer
Kertas Plano
Kertas Meta Plan
Kertas HVS
CD-Film

WAKTU

150 menit

PROSES FASILITASI

1. Fasilitator menyampaikan gambaran singkat selama 15 menit tentang konteks social pemikiran liberal dari masyarakat Islam, dengan mempergunakan alat bantu LCD.
2. Peserta memperhatikan paparan dari fasilitator dan memberikan komentar maupun pertanyaan selama 15 menit menit.
3. Fasilitator membagi peserta dalam kelompok masyarakat, yang terdiri dari 5 kelompok besar, yakni kelompok Islam Tradisional, Kelompok Islam Modern, Kelompok Islam Fundamental, Kelompok Islam Liberal, dan Kelompok di luar Islam secara acak.
4. Peserta menganalisa tentang dinamika pertumbuhan pemikiran liberal dan memberikan penilaian secara obyektif dan subyektif terhadap asumsi dan nalar berfikir yang dikembangkan oleh pemikiran liberal.
5. Untuk menunjang efektivitas pelaksanaan, proses analisa ini dapat dilakukan dalam model simulasi, di mana kelima kelompok yang dibentuk tersebut saling mendiskursuskan tentang dinamika pemikiran liberal, baik dalam era klasik maupun kontemporer dalam bentuk tulisan singkat yang kemudian ditempelkan dalam kertas plano..
6. Fasilitator menyiapkan beberapa kata-kata kunci untuk membantu para peserta dalam mengartikulasikan pemikiran terkait dengan pemikiran liberal.
7. Fasilitator menyusun dan mengharmonisasikan pendapat dari peserta, dan kemudian melakukan wrap up bersama.

SISTEM EVALUASI

1. Fasilitator mengevaluasi pencapaian kompetensi peserta dengan memberikan pertanyaan kepada peserta secara acak untuk pertanyaan essai yang disampaikan secara verbal.
2. Fasilitator mengevaluasi pencapaian peserta dengan memberikan pertanyaan tertulis untuk kemudian direkap hasilnya oleh fasilitator

SUPLEMEN

MENGARTIKULASIKAN PEMIKIRAN ISLAM
Pertumbuhan pemikiran politik Islam, dalam periode awal banyak dipengaruhi oleh pergulatan kepentingan keagamaan. Semenjak Abu Bakar naik sebagai khalifah pertama Islam, diskursus politik sangat marak. Baik dalam perbincangan aktor, apakah Abu Bakar sebagai seorang kepala pemerintahan saja atau sebagai sekaligus pemimpin agama. Di mana ditandai dengan perseteruan yang keras antara kalangan Muhajirin yang beretnis Quraisy yang merasa sebagai pembela Islam pertama dengan kalangan Anshor, yang merasa memiliki tanah air Islam pertama. Bahkan perbincangan dengan keputusan Abu Bakar untuk memerangi orang yang tidak membayar pajak, juga telah menimbulkan sejarah baru tentang perkembangan pemikiran politik. Sebab selama Rasul hidup, beliau tidak pernah menjatuhkan hukum perang kepada orang yang tidak mau membayar zakat. Sehingga terdapat ahli sejarah, yang mengkritisi fenomena dengan politis, bahwasannya Abu Bakar memeranginya lebih karena kepentingan politik, berupa loyalitas kepada pemimpin, dari pada persoalan agama an-sich.
Pergulatan pemikiran politik Islam juga cukup menonjal dalam mensikapi pemerintahan Umar bin Khattab yang sangat tegas tetapi demokratis. Banyak kebijakan-kebijakan politik Umar bin Khattab yang berbeda dengan
kebijakan Nabi, semisal dalam persoalan pembagian harta rampasan perang. Apakah ini ijtihadi politik Umar sendiri, atau bukan ? Umar bin Khattab juga seorang pemimpin yang ingin meletakkan politik dalam panggung keadilan, hal ini tercemin dalam sikap Umar ketika dilantik menjadi Khalifah. Ia mengangkat pedang tinggi, untuk membela Islam, jika ia tidak selaras dengan Islam, maka ia menyuruh masyarakat mengingatkannya dengan pedang pula.
Demikian juga dalam masa pemerintahan Khalifah Utsman, pemikiran politik tentang kualisi, aliansi tampaknya sangat menonjol. Posisi usia Utsman yang sudah cukup tua, yang kemudian dimanfaatkan oleh kerabat dekat Utsman untuk mempengaruhi roda pemerintahan. Di mana kemudian ditandai dengan kondisi nepotisme dalam pemerintahan Utsman.
Situasi yang sangat kondusif memunculkan variasi pemikiran politik adalah ketika Ali bin Abu Thalib, diangkat menjadi Khalifah. Konflik politik berkepanjangan berkaitan dengan pembunuhan Utsman, menjadikan sebab timbulnya perang saudara di sesama Musli. Bahkan istri Rasulullah sendiri, Aisyah, ikut mempimpin perang melawan Ali dalam perang Jamal (Onta). Yang mana dikemudian hari menjadi diskursus panjang tentang poleh tidak wanita menjadi pemimpin suatu kaum. Dalam masa inilah kemudian, perbedaan kepentingan aqidah dipolitisir lebih jauh menjadi sebuah kepentingan politik. Dinamika politik inilah yang kemudian melahirkan mazhab politik Islam klasik yang terbagi dalam tiga mazhab besar; yakni Sunni, Syi’ah dan Khawarij. Dari tiga mazhab politik ini, di kemudian hari melahirkan derivasi pemikiran yang sangat kompleks dan berkelanjutan. Dari generasi 4 Khilafah Rasyidah inilah, ide pemikiran politik Klasik banyak dibangun.
1. Pemikiran Islam Klasik
Dalam sejarah pertumbuhan peranan negara –dalam pemikiran politik Islam klasik– menduduki posisi sentral dari keberlangsungan Islam sebagai ajaran yang total dan fundamental. Keberadaan negara dalam batas tertentu sebagai penjamin terlaksana tidaknya syari’ah Islam. Bahkan dalam pandangan Ibnu Taimiyyah mendirikan negara adalah sebuah tugas suci dan rohani bagi setiap muslim.
Pemikiran Poliitik Islam klasik setidaknya diwarnai dengan beberapa corak pemikiran yang khas;
a. Terdapatnya pengaruh yang signifikan dari pemikiran-pemikiran Yunani, terutama Plato. Interaksi dengan pemikiran Yunani ini tampak menonjol dalam masa-masa pemerintahan kekhilafahan Abbasiyah.
b. Pemikiran politik sebagian besar memberikan legitimasi terhadap status quo. Baik dalam formulasi teoretik yang memberikan dukungan sampai hanya memberikan saran-saran.
c. 3. Pemikiran politik Islam lebih berkecenderungan menampilkan bentuk-bentuk yang idialis daripada yang lebih operasional.
2. Pemikiran Politik Islam modern
Pemikiran Politik Islam modern mulai tampak arusnya ketika dunia Islam dalam kondisi terjajah oleh kekuatan barat. Selama ini pemikiran politik Islam, merespon persoalan internal bergeser kepada persoalan eksternal. Kondisi keterpurukan dunia Islam menjadikan pengaruh ajaran Islam dalam keseharian menjadi pudar bahkan terancam punah (perish). Hal ini yang mengilhami para tokoh pembaharu Islam seperti Jamaludin al-Afghani untuk mengumandangkan produksi pemikiran dalam mensikapi dan menggalang umat Islam dalam menghadapi.
Corak yang mendasar dari pemikiran politik Islam modern adalah sebagai berikut:
a. Formulasi pemikiran sedikit banyak sebagai respon kekalahan dunia Islam atas Barat daripada sistem internal masyarakat Islam sendiri
b. Formulasi pemikiran sedikit banyak ingin mengembalikan pelaksanaan ajaran Islam secara murni (salafi)
c. Dalam sifat kenegaraan, terpusatkan pada usaha pembebasan negara.
Dalam perkembangan lanjut terjadi dinamika yang cukup beragam dalam meletakkan landasan dasar formulasi pemikiran. Setidaknya formulasi pemikiran terpilah dalam dua kelompok besar; pertama, Kalangan-kalangan yang ingin meletakkan usaha permurnian ajaran Islam (Purifikasi) sebagai jalan satu-satunya usaha menghadapi Barat. Ada kecenderungan kalangan ini bersikap selektif bahkan sampai menolak pemikiran Barat, dalam kerangka pembangunan masyarakat. Pemikiran ini sedikit banyak mendapatkan pengaruh dari pemikiran Imam Hambali, Ibnu Taimiyyah, di masa klasik. Gerakan purifikasi tampak difahami sebagai sarana mengembalikan kejayaan Islam di masa sebelumnya.
Sedangkan kalangan yang kedua, yakni kalangan yang sebelumnya melakukan kritik terhadap pemahaman Islam yang cenderung konservatif. Kalangan ini menjadi tercerahkan atau dalam penilaian kelompok purifikasi telah terbaratkan. Setidaknya pandangan ini berawal dari sikap akomodatif kepada Barat, di mana tercermin dengan sikap untuk membangkitkan Islam setidaknya meniru model Barat dan membangun peradaban Renaisance. Hal inilah yang kemudian mengilhami konsep sekulerisasi pemikiran politik Islam yang selama ini difahami digunakan secara sepihak oleh penguasa demi kelangsungan status quo. Pandangan ini menemukan titik sentralnya dalam tulisan politik Islam sekuler pertama yang dilakukan oleh Ali Abdul Raziq, seorang hakim syari’ah dan dosen di Al-Azhar dalam Kitabnya Al-Islam Al-Ushul Wa Al-Hukmi. Dengan gerakan ini maka pengadopsian pemikiran Barat menjadi salah satu kebutuhan yang mendasar untuk membangun masyarakat Islam.
Dalam dinamika berikutnya, pemikiran politik Islam tidak hanya merespon intervensi eksternal, yang selama ini dituduh sebagai sumber malapetaka di dunia Islam. Kekuatan eksternal juga telah memapankan eksistensinya di dunia Islam dengan membentuk seperangkat sistem kemasyarakatan yang cukup kokoh dalam menyebarkan pengaruhnya. Dari persoalan inilah muncul pemikiran Islam, yang lebih spesifik yang lahir dari gerakan-gerakan sosial (harakah Islamiyyah), yang berusaha melakukan kritisi terhdap regim pro Barat.
Format yang digunakan oleh organisasi sosial ini setidaknya terpilahkan dalam 2 pola besar, yakni: pertama, pola Ishlah (pembaharuan, memperbaiki sistem (evolusi)). Kedua, pola inqilabiah (perombakan total, revolusi). Dari dua pola besar tersebut akhirnya terpola dalam 4 pola besar:
a. Gradualis-Adaptis, di mana organisasi yang termasuk di dalamnya adalah Ikhwanul Muslimin di Maghribi dan Jama’at Islami di Pakistan
b. 2. Revolusioner Syi’ah, di mana organisasi yang termasuk di dalamnya adalah Partai Republik Islam Iran, Hizbi Ad-Da’wa di Iraq, Hizbullah Libanon, Jihad Islam Libanon
c. Revolusioner Sunni, di mana organisasi yang termasuk di dalamnya adalah AL-Jihad Mesir, Organisasi Pembebasan Islam Mesir, Ikhwanul Muslimin Siria, Jama’a Abu Dzar Siria, Hizbi Tharir Jordania dan Siria
d. Messianis-Primitif, di mana organisasi yang termasuk di dalamnya adalah Al-Ikhwan Saudi Arabia, Tafkir Wal Hijra Mesir, Mahdiyya Sudan, Al-Arqam.
Sedangkan diskursus tentang besar pemikiran Islam tentang managemen kenegaraan dalam masa modern ditunjukkan oleh peristiwa keruntuhan khilafah Turki Utsmani di 1924. Hancurnya model kekhilafahan klasik ini memungkinkan munculnya pemikiran-pemikiran baru. Respon terhadap fenomena ini muncul beberapa model pengelolaan negara: Subtansialisme dan formalisme.
Aliran subtansialisme berkecenderungan melihat negara sebagai sesuatu yang otonom. Negara tidak bisa dipengaruhi oleh keyakinan ataupun agama tertentu. Kalaupun ada pengaruh sebatas pada dataran semangat tidak sampai menyentuh pada seluruh aspek. Pandangan substan-sialisme tercerahkan dengan semangat sekularisasi di dunia Islam. Faham ini dilontarkan pertama kali oleh seorang Hakim sekaligus dosen Universitas Al-Azhar dalam karyanya Al-Islam Ushul Wa Al-Hukmi, Ali Abdur Raziq. Dalam pemikiran Ali Abdur Raziq, managemen negara Islam selama ini hanya terpaku kepada ijtihad ulama. Kekhilafahan selama lebih dari 8 abad tidak lebih dari produk ulama. Dan sejarah masyarakat Islam adalah tidak layak digunakan sebagai pembenaran sebuah kebijakan masa kini. Banyak sekali kebijakan despotis negara berlangsung dan kebal kritik karena didukung ulama atas nama agama.
Usulan yang kontroversial dalam usaha merespon dan sejajar dengan managemen kenegaraan Barat, maka dunia Islam harus merubah pola managemen kenegaraan seperti Barat. Dengan semboyan, Serahkan Hak Tuhan Pada Tuhan, dan Serahkan Hak Kaisar Pada Kaisar.
Aliran formalis berkecenderungan melihat kesamaan pola bahwa keberadaan negara tidak bisa dipisahkan dari agama seperti halnya pemikiran Islam Klasik. Agama dalam batas tertentu harus terlibat dalam urusan kenegaraan, simbol-simbol agama dimungkinkan tercermin dalam aspek kelembagaan negara. Pandangan formalis ini tercerahkan dengan semangat Pan-Islamisme (Persatuan Islam). Kepeloporan Pan-Islamisme dikibarkan oleh Al-Afghani maupun Sayyid Rasyid Ridha. Sebelum runtuhnya kekhilafahn Utsmani, Al-Afghani sering diundang ke Turki untuk mempertahankan secara teroritis dan konseptual tentang legitimasi lembaga kekhilafahan yang sedang mengalami krisis kepercayaan.
Pan-Islamisme dalam batas tertentu adalah sebagai terapi terakhir untuk mencoba menghidupkan semangat kekhilafahan di dunia Islam. Dalam pemikiran formalisme ini mendapat klarifikasi dari Sayyid Abul A’la Al-Maududi. Maududi melihat bahwa organisasi kenegaraan adalah sesuatu yang integral dengan kekuasaan Tuhan. Suatu negara itu ada karena ada kedaulatan Tuhan atas negara, sehingga aturan-aturan dalam negara harus mencerminkan kedulatan Tuhan. Ungkapan ini kemudian diistilahi dengan istilah theo-Demokrasi, sebagai bentuk pendefinisian kembali demokrasi menurut pandangan Islam.
Pada akhirnya pandangan formalis Maududi adalah bagaimana mengformat sebuah negara adalah sebagai negara dunia (world-state). Dan ini tidak bisa dipisahkan dari konsep kekhilafahan dalam pemikiran Islam klasik. Sekaligus Maududi memberikan klarifikasi tentang fenomena kerajaan di dunia Islam, secara tegas Maududi mengatakan bahwa Khilafah Bukan Kerajaan. Khilafah dipandu oleh musyawarah sedangkan kerajaan dipandu oleh kepentingan kaum tertentu. Kerajaan pada akhirnya hanya akan mengambalikan kekuasaan ke dalam batas wilayah, ras dan kepentingan tertentu. Pandangan formalis kemudian banyak berdekatan dengan pemikiran fundamentalisme Islam yang ingin meletakkan urusan agama dan negara adalah urusan yang satu (din wa daulah).
ARTIKULASI SUMBER PEMIKIRAN DALAM ISLAM
Dalam pergulatan pemikiran Islam, sumber yang menjadi perdebatan dengan sangat sengit adalah tentang dominasi akal dan wahyu (aql dan naql). Perdebatan ini sangat sengit di mana kemudian menjadikan dua kutub ini mengalami dinamika yang sangat kompleks. Dari sifat yang saling menafikan, di mana wahyu lebih dominan dari akal, sampai akal lebih dominan dari wahyu. Ataupun bentuk sintesanya, yang melahirkan bentuk harmoni akan wahyu dan akal.

1. Wacana Wahyu: Sumber Ambilan Pertama
Wahyu dalam bahasan terminologis (istilahan) merupakan cahaya, di mana akan memberikan sesuatu yang sebelumnya belum pernah diketahui. Wahyu juga memberikan petunjuk dan arah kemana sesuatu tersebut harus dijalankan. Hal ini setidaknya tercermin dalam QS. Asy-Syura: 52-53:
Demikianlah Kami wahyukan kepadamu suatu roh (Jibril Yang Membawa Al-Qur’an) dengan perintah Kami. Engkau belum tahu sebelumnya apa kitab itu dan apa iman itu. Tapi Kami menjadikan cahaya, memberikan petunjuk kepada siapa-siapa yang kami kehendaki dari hamba-hamba Kami.
Dalam pandangan ini, wahyu ditempatkan sebagai sebuah kebenaran yang pasti benar. Sebab ia berasal dari sumber kebenaran itu sendiri. Setidaknya ungkapan ini tercermin dalam surah Ali Imran ayat 60: “Kebenaran itu dari Rabbmu, maka janganlah kamu termasuk orang-orang yang bimbang.” Dalam pandangan Ali Gharisah, wahyu tidak hanya sebatas ayat-ayat Al-Qur’an semata, akan tetapi As-Sunnah juga merupakan bagian dari wahyu, sebagaimana yang tercantum dalam surah An-Najm 3-4: “Dan tiadalah ia (Muhammad) berbicara menurut hawa nafsunya. Namun bicaranya itu tak lain dari wahyu yang diwahyukan kepadanya”.
Qaidah Sekitar Wahyu :
Wahyu (Al-Qur’an) harus didahulukan dan tidak boleh ada yang mendahuluinya. Hal ini setidaknya karena beberapa alasan:
a. Ia merupakan wahyu Alloh yang datangnya secara definitif (jelas), dan sampai kepada kita secara muttawatir (bersambung sampai sumbernya), yang tidak menimbulkan prasangka
b. Ia merupakan kebenaran yang tidak akan pudar oleh waktu dan tempat. Hal mana tercermin dalam jaminan Alloh terhadap wahyu
c. Ia merupakan pembawa hidayah (petunjuk), rahmat serta kabar gembira.
Wahyu tidak bisa dipecah dan dipisah-pisahkan satu sama lain. Sebab pembelahannya merupakan fitnah, jahiliyyah, kekafiran sebagai maklumat perang kepada Alloh.
a. Hendaklah kamu menggunakan hukum (wahyu) Alloh antara mereka dengan apa yang diturunkan Alloh, dan janganlah kamu turut hawa nafsu mereka dan waspadalah terhadap mereka, jangan sampai mereka memfitnah kamu dari sebagian yang diturunkan Alloh kepadamu (Al-Maidah: 49)
b. Wahai orang yang beriman, takutlah kamu kepada Alloh dan tinggalkanlah sisa-sisa riba itu, jika kamu benar-benar beriman. Kalau kamu tidak mematuhinya,ketahuilah dengan maklumat perang dari Alloh dan Rasul-Nya terhadapmu. Dan jika kamu bertaubat, maka untukmu pokok-pokok hartamu, kamu tidak menganiayadan tidak teraniaya. (Al-Baqarah: 278-279)

Wahyu sebagai pengarahan hukum.
Wahyu memberikan alternatif pengarahkan hukum menuju yang lebih baik , di mana hal ini tercermin dalam contoh-contoh ayat-ayat berikut:
“Tetapi siapa yang memaafkan dan berdamai, maka pahalanya ada di sisi Alloh” (Asy-Syura: 40)
“Jika kamu memberikan maaf, maka hal itu lebih dekat kepada ketaqwaan” (Al-Baqarah; 237)

Qaidah Sekitar Sunnah
a. Sunnah adalah saudara kandung Al-Qur’an
b. As-Sunnah adalah ucapan, perbuatan dan ketetapan Rasulullah
c. Kafir yang menolak Sunnah dan Enggan Melakukannya
d. Hadits Ahad juga berlaku meskipun dalam bidang Aqidah
e. Perbuatan Rasul sebagai hakim dan Imam
2. Wacana Sirah: Sumber Ambilan Kedua
Sirah merupakan sebuah wacana pertumbuhan masyarakat pertama (salaf) di mana di dalam terdapat ijtihad-ijtihad dari para sahabat dalam memutuskan sesuatu hal setelah Nabi wafat. Kemampuan sirah terletak kepada kemampuan mengcover segala perilaku Nabi yang tidak sempat terlesankan dan terperilakukan oleh Nabi sendiri atau sahabat lain. Sirah juga merupakan sarana interprestasi lanjut dari sesuatu hal yang membutuhkan interprestasi tertentu.
Dalam perkembangan lanjut, sirah lebih dimaknai dalam bentuk qiyas maupun ijtihad yang dilakukan oleh para ulama atau jumhur ulama. Di mana dalam perkembangan lanjut melahirkan tradisi atau mazhab dalam pemikiran Islam. Semisal mazhab Sunni, yang kemudian terbagi ke dalam 4 mazhab fikih seperti Hanafi, Hambali, Maliki dan Syafi’i.
Mazhab Syi’ah yang kemudian terbagi dalam Saba’iyyah, Ghurabiyyah, Zaidiyah, Itsna Asy’ariyyah dan lain-lain. Ataupun dalam mazhab Khawarij.
Tentang peranan sirah dalam sumber kebenaran seringkali masih diperdebatkan lebih jauh. Dalam hal ini pemikiran Ali Abdul Raziq menolak secara tegas sejarah dan ijtihad dan qiyas ulama dijadikan hukum.

3. Wacana Akal: Sumber Ambilan Ketiga
Peranan akal merupakan dasar sentral dari ditempatkannya manusia sebagai khalifah di bumi. Kemampuan akal akan mampu membedakan mana yang benar dan yang salah, yang lurus dengan yang bengkok dan seterusnya. Kemampuan klasifikasi, kategorisasi dan pemberian nama dan label tertentu menjadikan pemikiran manusia atas dasar akal berkembang dengan pesat.
Dalam pandangan Ali Gharisah ada 3 hal yang membuat akal mempunyai makna yang besar dalam penemuan kebenaran:
a. Berhasil diungkapkannya hukum-hukum alam seperti gravitasi, peredaran bumi dan sebagainya
b. Dicapainya hakikat ilmiah dengan pengindraan maupun melalui pengambilan keputusan
c. Dicapainya hakikat hipotesa atau teori yang memberikan sumbangan dalam pengembangan ilmu Pengetahuan.

BAGIAN VI
PERBEDAAN PEMIKIRAN DALAM ISLAM

DESKRIPSI

Perbedaan pemikiran dalam Islam sesungguhnya sudah berlangsung pada era pertama Islam hadir di Makkah ataupun Madinah. Artinya, Islam menghormati adanya perbedaan dalam memandang sesuatu. Dinamika perbedaan pemikiran dalam batas tertentu berpengaruh terhadap proses interaksi social dalam masyarakat, baik yang berimplikasi positif maupun negatif. Islam secara normative telah menyusun panduan tentang mengartikulasikan perbedaan pemikiran, agar perbedaan tersebut bersifat produktif. Dalam dataran fiqhiyyah, para ulama juga telah melakukan kajian dan penulisan yang intensif tentang bagaimana mengartikulasikan perbedaan, mana perbedaan sebagai sesuatu keniscayaan, dan mana perbedaan yang berimplikasi terhadap perpecahan dalam masyarakat.

TUJUAN

Peserta mampu memahami makna perbedaan pemikiran dalam Islam dan mengartikulasikannya dalam kehidupan berorganisasi.

METODE

Ceramah
Brainstorming
Curah Gagas
Simulasi

ALAT-ALAT YANG DIBUTUHKAN

Komputer dan Viewer
Kertas Plano
Kertas Meta Plan
Kertas HVS

WAKTU

15 menit0 MENIT

PROSES FASILITASI

1. Fasilitator menyampaikan gambaran singkat selama 15 menit tentang dinamika perbedaan pemikiran dalam sejarah Islam klasik, dan modern dengan mempergunakan alat bantu LCD.
2. Peserta memperhatikan paparan dari fasilitator dan memberikan komentar maupun pertanyaan selama 15 menit menit.
3. Fasilitator membagi peserta dalam kelompok masyarakat 5 kelompok, yang terdiri dari Islam Tradisional, Kelompok Islam Modern, Kelompok Islam Fundamental, Kelompok Islam Liberal, dan Kelompok di luar Islam secara acak.
4. Peserta menganalisa tentang dinamika fiqh perbedaan pemikiran dalam Islam untuk dipergunakan untuk mendiskursuskan pemikiran liberal dan fundamental
5. Untuk menunjang efektivitas pelaksanaan, proses analisa ini dapat dilakukan dalam model simulasi, di mana kelima kelompok yang dibentuk tersebut saling mendiskursuskan tentang dinamika pemikiran liberal dan fundamental dalam konteks politik organisasi kemahasiswaan di kampus.
6. Fasilitator menyiapkan beberapa kata-kata kunci untuk membantu para peserta dalam mengartikulasikan pemikiran terkait dengan pemikiran liberal dalam dinamika organisasi ekstra kampus berbasis Islam.
7. Fasilitator menyusun dan mengharmonisasikan pendapat dari peserta, dan kemudian melakukan wrap up bersama.

SISTEM EVALUASI

1. Fasilitator mengevaluasi pencapaian kompetensi peserta dengan memberikan pertanyaan kepada peserta secara acak untuk pertanyaan essai yang disampaikan secara verbal.
2. Fasilitator mengevaluasi pencapaian peserta dengan memberikan pertanyaan tertulis untuk kemudian direkap hasilnya oleh fasilitator

SUPLEMEN
PERBEDAAN PEMIKIRAN DALAM ISLAM
Dalam pandangan Yusuf Qardhawy, fiqh Ikhtilaf dibedakan ke dalam dua hal: pertama, ikhtilaf disebabkan karena faktor akhlaq dan kedua, ikhtilaf disebabkan karena faktor pemikiran. Ikhtilaf karena faktor akhlaq, diposisikan sebagai sesuatu yang merusak di mana dilandasi oleh sifat membanggakan diri, buruk sangka pada fihak lain, egoisme dan menuruti hawa nafsu, fanatik kepada golongan atau mazhab, fanatik kepada negeri, daerah, partai, jama’ah atau pemimpin.
Sedangkan ikhtilaf disebabkan faktor pemikiran merupakan sebuah kemestian di dalam Islam. Setidaknya ada beberapa hal yang menyebabkan seperti ini:
1. Tabiat Agama Islam
Hal ini setidaknya tercermin dalam hukum Islam yang mempunyai sifat manshuh ‘alaih (ditegaskan dengan eksplisit) dan ada pula yang Maskut’anhu (ditegaskan dengan implisit). Juga diketemukan hukum atau ayat yang muhkamat (jelas, terperinci) ataupun yang mutasyabihat (tersembunyi, dan perlu ta’wil lebih jauh). Ada juga yang mempunyai sifat qath’iyyah (pasti) atau dhanniyat (belum pasti), ada yang sharih (jelas) ada juga yang mu’awwal (memungkinkan penafsiran).
2. Tabiat Bahasa (Arab)
Tidak diragukan lagi yang menjadikan perbedaan pemikiran adalah sumber ambilan utama di mana dihantarkan dalam bahasa Arab. Khususnya perbincangan dalam lafazh. Ada kecenderungan lafazh yang mempunyai banyak arti (musytarak) dan ada yang memiliki makna majas (kiasan). Ada juga lafazh yang mempunyai sifat khash (khusus) adapula yang mempunyai sifat ‘aam. Ada lafazh yang mempunyai sifat rajih (kuat) ada yang kurang kuat (marjuhah).

3. Tabiat Manusia
Dalam mensikapi sebuah hukum yang cenderung variatif, kebanyakan manusia menuruti kecenderungan yang selaras dengan kondisi yang melekat. Perbedaan sifat-sifat manusia dan kecenderungan psikologisnya ini akan mengakibatkan perbedaan mereka dalam menilai sesuatu, baik dalam sikap dan perbuatan. Perbedaan ini nampak dalam fiqh, politik, perilaku sehari-hari dan lain sebagainya.
4. Tabiat Alam dan kehidupan
Tabiat alam yang ditempati manusia mempunyai corak topograsi, geografi, iklim dan cuaca yang berbeda. Perbedaan lingkungan memberikan pengaruh yang cukup besar dalam pemikiran seseorang, semisal orang yang tinggal di gurun pasir mungkin akan berbeda dengan orang yang tinggal di desa yang subur. Mazhab fiqh seringkali berbeda tidak bisa dilepaskan dari kondisi alam sekitar yang memang menghendaki pemikiran lebih lanjut (kontekstual).

BAGIAN VII
RENCANA TINDAK LANJUT

DESKRIPSI

Para peserta menyusun beberapa program yang akan didesiminasikan dalam organisasi masing-masing. Proses desiminasi ide tentang Fiqh Perbedaan diharapkan meningkatkan apresiasi di antara organisasi ekstra kampus dalam mendiskursuskan pemikiran liberal dan fundamental secara elegan dan demokratis.

TUJUAN

Peserta membuat perencanaan program pasca pelatihan di organisasi masing-masing

METODE

Diskusi kelompok
Presentasi

WAKTU

60 menit/ 1 jam

ALAT-ALAT YANG DIBUTUHKAN

Kertas Plano
Metaplan
Spidol

PROSES FASILITASI

1. Fasilitator menjelaskan tujuan dari sessi ini tentang pentingnya tindak lanjut dari proses pelatihan dengan menyusun rencana program yang akan dilakukan oleh peserta
2. Fasilitator membagi peserta dalam kelompok berdasarkan organisasi
3. Masing-masing kelompok mendiskusikan tentang perencanaan program yang terdiri dari bentuk kegiatan, waktu pelaksanaan, input Masing-masing kelompok mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya dalam forum pleno
4. Fasilitator menegaskan bahwa proses desiminasi ide Fiqh Perbedaan akan memberikan kontribusi positif bagi demokratisasi pemikiran keislaman.

Materi
Form Rencana Tindak Lanjut

No Bentuk Kegiatan Waktu Pelaksanaan Output Program Pihak Yang dilibatkan Input ( SDM, aggaran, bahan) Metode Monev