Wednesday, 21 July 2010 01:04 PDF Print E-mail
Israel: Silahkan gugat Mavi Marmara
Warta

FAZARIS TANTI & AGUS ZULHAMIDI
WASPADA ONLINE

[(wn.com)]

(wn.com)
JAKARTA – Sebanyak 42 pengacara dari sejumlah negara berkumpul di Istanbul, Turki, untuk menyatukan misi dan visi guna menuntut Israel pascaserangan kapal kemanusiaan Mavi Marmara.

Pertemuan yang direncanakan akan membahas perkembangan tuntutan baik kriminal maupun perdata yang dipersiapkan pengacara dari Turki, Spanyol, Inggris, Amerika Serikat, Belgia serta pengacara dalam negeri Israel sendiri ini, mendapat dukungan dari berbagai kalangan.

Jurnalis Indonesia yang pernah meliput ke daerah konflik Palestina-Israel, Meutya Hafid, mengungkapkan bahwa gerakan moral ini layak mendapat apresiasi. “Apa yang dilakukan para pengacara ini merupakan gerakan moral yang patut mendapat dukungan dan apresiasi,” katanya.

Kepada Waspada Online, Meutya mengatakan, segala bentuk tindakan demi terciptanya perdamaian dan keamanan memang baik, meski dirinya kurang optimis apakah gerakan yang dihimpun oleh beberapa pengacara dari beberapa negara di dunia termasuk Indonesia berhasil melunakkan Israel. Hal ini dikarenakan track record Israel dalam penyelesaian konflik Timur Tengah selalu menemukan jalan buntu.

Meutya juga menambahkan, bahwa dengan ikut andilnya Indonesia dalam proses mencari keadilan ini, merupakan langkah yang sangat baik. “Walaupun Indonesia adalah negara yang belum mempunyai power untuk terlibat secara langsung dalam perseteruan antara Palestina-Isreal,” kata Meutya malam ini.

Analis internasional urusan Timur Tengah dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Surwandono, menegaskan bahwa Israel memang layak dituntut. Selama ini, katanya, Israel kerap berlaku semena-mena, tidak hanya kepada Palestina, namun juga mereka lakukan terhadap kapal pembawa bantuan kemanusiaan Mavi Marmara.

“Gerakan ini memang harus dilakukan, karena apabila tidak ada tindakan dari berbagai negara yang menjadi korban perilaku tidak berprikemanusiaan ini, maka Israel akan semakin semena-mena. Karena selama ini tidak ada aksi dari dunia internasional terhadap negara biadab tersebut,” ujar Surwandono, kepada Waspada Online, malam ini.

Menyikapi itu perwakilan khusus dari Magen David Adom Israel, Steve Stein, mengatakan bahwa upaya melayangkan tuntutan kepada Israel melalui Dewan HAM PBB (UNHRC) di Geneva, tidak akan mempengaruhi sikap pemerintah Israel terhadap insiden penyerangan, pada Kamis (27/3) lalu, ke kapal yang dipenuhi aktivis organisasi bantuan kemanusiaan Mer-C tersebut.

“Kami tidak takut dengan gugatan tersebut. Pemerintah Israel sudah biasa mendapatkan kecaman dan tuntutan. Kapan saja, kami siap menghadapinya,” ujar Steve kepada Waspada Online, malam ini.

Menurut Steve, upaya menyudutkan pemerintah Israel melalui proses pengadilan internasional, tidak akan memberi banyak perubahan dalam konflik negeri Zionis tersebut dengan Timur Tengah yang telah berlangsung sejak 1948. “Bahkan dalam kasus insiden Mavi Marmara ini, hanya akan membuang waktu kelompok pengacara tersebut,” sahut Steve dengan tegas.

Dijelaskan, Israel tidak akan menghalangi pihak yang ingin memasuki wilayah negara tersebut dan Gaza bila mengikuti prosedur yang benar. “Kami akan memberikan kesempatan masuk bagi mereka yang telah memenuhi persyaratan khusus, salah satunya adalah mendapat izin khusus dari negara Mesir,” jelasnya.

Para pekerja bantuan kemanusiaan dari Mer-C tersebut, kilah Steve, seharusnya telah mengetahui resiko dari kegiatan mereka tanpa memenuhi persyaratan yang ditetapkan Israel. “Jadi, silakan saja mengajukan tuntutan terhadap negara kami. Meski saya ragu, mereka akan berhasil melakukannya. Nonsense!” cetusnya.

Penasehat khusus bidang media Perdana Menteri Israel, Mark Regev, kepada Waspada Online mengatakan bahwa pihaknya tidak pernah berniat memblokade bantuan kemanusiaan ke Gaza. “Para aktivis tersebut tidak akan diserang bila kapal mereka menuruti prosedur yang telah ditetapkan,” kata Mark, malam ini.

Kini, imbuhnya, seluruh penumpang Mavi Marmara tersebut telah dideportasi dari negara Israel dan masuk dalam daftar hitam kantor Imigrasi Israel selama 10 tahun.

Senada dengan Steve Stein, Mark juga menyampaikan kesiapan pemerintah Israel menghadapi klaim tuntutan atas pelanggaran yang terjadi karena insiden penyerangan kapal Mavi Marmara tersebut. Steve yang juga telah mengetahui bahwa pengacara Indonesia juga termasuk dalam kelompok 42 pengacara tersebut, mengatakan persoalan di Timur Tengah tidak akan selesai dengan dukungan sepihak.

“Cobalah bersikap objektif, dan melihat masalah ini tida hanya dari satu sudut pandang saja,” pungkas Steve.

Sebelumnya, 42 pengacara dari berbagai negara berkumpul di Turki yang berencana menyatukan sikap untuk menggugat Israel pasca insiden penyerangan ke Kapal Mavi Marmara. “Pertemuan dibuka pada pukul 09.00 WIB waktu setempat oleh Tuan Rumah Turki yang diwakili pengacara Turki, Ramazan Ariturk,” kata ketua tim pengacara Muslim, Mahendradatta.

Menurut Mahendra, pertemuan tersebut dilakukan untuk menyamakan visi misi para pengacara korban penyerangan Israel terhadap misi kemanusiaan Freedom Flotila khususnya kapal Mavi Marmara. Seperti diketahui insiden tersebut menewaskan 9 orang relawan mayoritas WN Turki dan melukai puluhan relawan lainnya antara lain Surya Fachrizal.

“Pertemuan direncanakan akan membicarakan tentang beberapa isu antara lain Laporan kerugian masing-masing korban dari setiap negara peserta, perkembangan persiapan tuntutan baik kriminal maupun perdata yang sedang disiapkan pengacara-pengacara Turki, Spanyol, Inggris, Belgia dan tak terkecuali Amerika Serikat dan di dalam negeri Israel sendiri oleh pengacara-pengacara Israel yang juga hadir dipimpin oleh Aldalla,” jelas Mahendra.

Dieketahui, pertemuan para pengacara tersebut diselenggarakan oleh The Foundation For Human Rights and Freedoms and Humanitarian Relief (IHH-Insani Yardimvakfi) sebuah oraganisasi Hak Asasai manusia yang bermarkas di Istanbul-Turki, dan diikuti oleh pengacara dari 42 Negara dari 60 negara yang diundang.
Editor: SATRIADI TANJUNG