Perebutan akses politik terhadap kader telah menjadi episentrum konflik antara organisasi ekstra kampus. Artikulasi konflik antar organisasi ekstra kampus tercermin dalam beberapa tingkat berikut. Pertama, artikulasi konflik dalam dimensi debat. Debat merupakan level konflik yang lebih sering dipilih oleh organisasi ekstra kampus berbasis Islam dibandingkan dengan games ataupun konfrontasi fisik. Debat diyakini sebagai ruang yang paling fair bagi organisasi ekstra kampus untuk mencuri perhatian dari mahasiswa. Terdapat kecenderungan besar, bahwa konflik dalam dimensi debat diyakini sebagai sarana melakukan inteletual exercises dan pendewasaan kemampuan berfikir.
Ruang debat lebih banyak dilakukan secara informal dibandingkan secara formal. Kampus diyakini tidak banyak memberikan ruang terbuka bagi organisasi ekstra kampus mendiskursusukan pemikiran keislaman secara terbuka. Bahkan debat secara formal diyakini kalangan aktivis tidak banyak memberikan manfaat karena justru rentan terjadi manipulasi dan kekerasan fisik, karena dilaksanakan secara terbuka dan massif. Egoisme dan sentiment organisasi dapat dimobilisasi untuk melakukan kekerasan sebagai akibat debat formal yang seringkali berujung saling ejek, sindir dan cemooh.
Kedua, Artikulasi konflik dalam dimensi games. Konflik dalam dimensi games terjadi ketika organisasi ekstra kampus secara proaktif membentuk partai politik kampus dalam pentas politik mahasiswa. Pada era 1990-an, peranan organisasi ekstra kampus dalam memenangkan kandidat elit mahasiswa sedemikian rupa sangat kaut. Namun sekarang ini, ada kecenderungan besar terjadi penurunan yang signifikan, sehingga malah sering ditemukan beberapa organisasi ekstra kampus melakukan koalisi dalam membentuk partai politik di kampus untuk berhadapan dengan kandidat elit mahasiswa yang dianggap mengakar di mahasiswa namun bukan partisan dari organisasi ekstra kampus.
Ketiga, artikulasi konflik dalam dimensi konfrontasi fisik dan kekerasan. Semua aktivis organisasi ekstra kampus menyatakan bahwa mereka tidak memilih konflik dengan intrumen kekerasan dan fisik. Meskipun demikian para aktivis organisasi ekstra kampus menyatakan pernah mengalami konflik fisik, terkait dengan ketersinggungan terhadap statemen dari aktivis organisasi ekstra kampus yang dianggap menyudutkan. Konfrontasi fisik seringkali tidak bersifat massif, seperti pengrusakan sekretariat ataupun mobilisasi anggota, namun hanya sebatas konfrontasi secara personal yang kemudian dapat diselesaikan secara damai.