Dalam konteks idiologisasi yang relative seragam, tidak kemudian berarti mengartikulasikan kepentingan juga relative seragam, bahkan tidak menutup kemungkinan terjadi friksi yang sangat kuat. Hal ini diakui oleh sebagian besar aktivis organisasi ekstra kampus, bahwa friksi yang terjadi antar organisasi ekstra kampus lebih sering terjadi di dalam perebutan politik kader di kampus dibandingkan perebutan akses politik di dalam ataupun luar kampus.
Ada suatu kecenderungan, semakin sedikitnya mahasiswa yang tertarik untuk terlibat dan aktif di organisasi ekstra kampus. Organisasi ekstra kampus difahami oleh banyak mahasiswa tidak banyak memberikan alternative yang strategis dalam menyelesaikan problem kebangsaan maupun problem mahasiswa. Mahasiswa lebih banyak terlibat dalam organisasi ekstra kampus yang berbasis rekreatif maupun sosial dibandingkan dengan organisasi yang berbasis idiologis pemikiran.
Bagi kelompok aktivis yang memiliki keinginan menjadi elit mahasiswa di kampus, juga tidak banyak menggunakan kendaraan dan dukungan politik dari organisasi ekstra kampus. Sangatlah berbeda dengan di era 1990-2000, terdapat kecenderungan besar bahwa untuk menjadi elit di organisasi intra kampus, posisi dukungan organisasi ekstra kampus sedemikian pentingnya.
Pragmatisme pilihan politik mahasiswa di era 2000-an ini, menyebabkan populasi mahasiswa yang tertarik dengan diskursus idiologi gerakan sedemikian rupa mengecil. Sedangkan pada sisi yang lain, eksistensi organisasi ekstra kampus juga sangat ditentukan sejauh mana proses pengkaderan berjalan. Jika suatu organisasi ekstra kampus tidak mendapatkan kader secara berkesinambungan, maka roda organisasi akan stagnan bahkan gulung tikar, dari merger antar komisariat, bahkan sampai merger antar cabang dari organisasi ekstra kampus.
Kompetisi memperebutkan kader biasanya terjadi pada pelaksanaan OSPEK ataupun OSDI. OSPEK diyakini aktivis organisasi ekstra kampus sebagai ruang yang sangat terbuka untuk mengartikulasikan idiologi gerakan yang dapat menarik mahasiswa baru untuk bergabung dalam organisasi ekstra kampus. Namun yang kemudian jadi masalah adalah terdapat kecenderungan besar yang menjadi panitia pelaksana OSPEK adalah organisasi intra kampus, di mana elit-elit organisasi intra kampus tidak selamanya merupakan partisan dari organisasi ekstra kampus. Sehinga seringkali ditemukan terjadi konfrontasi yang serius dalam proses pembentukan kepanitiaan OSPEK, karena adanya tarik-menarik kepentingan dari Organisasi Ekstra Kampus.
Ruang yang juga menjadi titik sentral bagi konflik adalah OSDI. OSDI merupakan singkatan dari Orientasi Studi Dasar Islam. Sebuah ruang diskursus bagi mahasiswa baru untuk memahami Islam secara elementer di dunia kampus, yang seringkali dipandu oleh mahasiswa. Pada era 1990, OSDI bukan menjadi medan perebutan politik kader organisasi ekstra kampus, namun menjadi ruang perebuatan kader dari Harakah Islam seperti Hizbut Tahrir, Tarbiyah, Jama’ah Tabligh. Tindak lanjut dari OSDI biasanya diformulasikan dalam bentuk Pendampingan Agama Islam (PAI) selama kurang lebih satu semester, dan kemudian dijadikan salah satu unsur penilaian dari mata kuliah keagamaan. Bagi organisasi ekstra kampus, ruang OSDI maupun PAI merupakan jembatan yang sangat strategis untuk mendapatkan kader. Keterlibatan organisasi ekstra kampus dalam OSDI maupun PAI diyakini berbanding lurus dengan jumlah kader yang akan bergabung dengan organisasi ekstra kampus.
Konflik dalam mendiskursuskan tentang liberalisasi dan fundamentalisasi biasanya terjadi dalam proses penentuan materi maupun pemateri dalam pelaksanaan OSPEK maupun OSDI. Bagi kelompok fundamental, akan berusaha membuat regim pemikiran yang diberikan dalam OSPEK maupun OSDI, adalah pemikiran yang mengedepankan tradisi fundamental. Demikian pula bagi kelompok liberal, juga akan menawarkan pemahaman Islam yang terbuka. Tarik-menarik kepentingan untuk mengartikulasikan cara memahami Islam inilah yang kemudian menyebabkan terjadinya aksi sabatoase maupun boikot dari organisasi ekstra yang merasa tidak terwakili pemikiran dan artikulasinya.