Dalam khasanah budaya Jawa, terdapat banyak kitab klasik yang menjadi sumber rujukan untuk mendapatkan nilai yang melekat dengan masyarakat Jawa. Beberapa kitab yang mashur, seperti kitab Sutasoma, sebuah kitab yang ditulis oleh Mpu Tantular, yang mana diklaim oleh Sukarno sebagai kitab yang menginspirasi nilai kebersamaan dalam perbedaan, Bhinekka Tunggal Ika. Bahkan nama Pancasila, dan nilai-nilai Pancasila juga merupakan hasil eksplorasi dari Kitab Sutasoma. Kitab Pararaton, sebuah kitab yang ditulis oleh Mpu Walmiki, yang mengutarakan seputar kehidupan masyarakat Jawa, yang ditandai dengan bergilirnya beragam kekuasaan, yang kemudian mendapatkan gambaran lebih kongkrit dalam kitab Negara Kertagama, yang ditulis oleh Mpu Prapanca. Dalam karya Mpu Prapanca inilah, setting tradisi konflik, sedemikian melekat dengan masyarakat Jawa. Tradisi konflik yang berwatak zero sum game, juga terurai dalam kitab Baratayudha, yang ditulis oleh Mpu Sadah dan Mpu Panuluh, yang mengambarkan peperangan besar antara keluarga Barata. Pertempuran ini sedemikian hebatnya, sehingga kelompok Kurawa yang direpresentasikan sebagai “kelompok jahat”, akhirnya harus tersingkir. Masih banyak kitab-kitab lain, semisal kitab Mahabarata, dan Ramayana, yang sangat dipengaruhi oleh kisah-kisah dari India, yang kemudian dalam periode Islam, banyak kitab-kitab klasik Jawa dieksplorasi oleh para pujangga Islam menjadi sebuah tata nilai yang unik. Pujangga Islam semisal Ronggo Warsito dan Sunan Kalajaga, adalah dua pujangga Islam Jawa, yang sedemikian rupa menghadirkan kembali kitab-kitab klasik ke dalam kitab-kitab kontemporer, yang sampai saat ini masih terus dianalisis oleh banyak kalangan.
Ronggo Warsito adalah seorang pujangga Islam dari kraton Surakarta, yang lahir pada hari Senin Legi, tanggal 15 Maret 1802 di desa Yosodipuran Surakarta. Dalam silsilah keturunan, Ranggawarsito memiliki nasab yang tersambung dengan Raja Demak Islam, yakni Raden Patah. Ronggowarsito adalah seorang pembelajar sejatinya, yang senantiasa berguru dari pesantren satu ke pesantren lainnya, bahkan dalam analisis Prof. Simuh, Ronggo Warsito sampai melakukan perjalanan intelektualnya ke Bali, untuk mendapatkan pencerahan makna kehidupan .
Selama hidupnya kurang lebih 47 tahun, Ronggowarsito telah menulis lebih dari 60 karya, baik dalam bentuk kisah, sajak, pantun maupun gubahan-gubahan. Beberapa karya utama dari Ronggo Warsito yang dikategorikan oleh Otto Susanto adalah sebagai berikut:
Pertama, Pustaka Purwo, sebuah kitab yang menceritakan tentang kesatria dalam lakon Mahabarata. Dalam kitab ini diinformasikan bagaimana keluarga Barata melahirkan dua tradisi yang berbeda, bahkan sangat antagonis. Ada kecenderungan bahwa konflik lebih sering terjadi antar keluarga yang berdekatan dibandingkan dengan basis keluarga yang berjauhan.
Kedua, Kalatidha, merupakan kitab yang menceritakan dinamika kehidupan yang silih berganti laksana roda pedati. Kitab Kalatidha ini memiliki perspektif yang relative sama dengan karya Ibnu Khaldun dalam kitab Mukadimmah, yang bertutur bagaimana sebuah peradaban mauoun kekuasan lahir, tumbuh, berkembang, hancur dan bersiklus terus menerus. Terdapat zaman Kalatidha, Kalasobo maupun Kolo Bendu, jamana keagung, jaman kesejahteraan dan zaman carut marut.
Ketiga, Jaka Lodhang, merupakan kitab yang memberikan road map bagaimana membangun kemakmuran masyarakat. Kerja keras dan berdoa merupakan dua kata kunci untuk mencapai zaman kesejahteran. Dalam konteks Khaldun, disebut sebagai Madinatul Fadhillah, sebuah jaman kesejahteraan. Dari sinilah bisa difahami bahwa masyarakat Jawa akan mencapai jaman kesejahteraan atau Kolosobo manakala masyarakat Jawa memiliki etos kerja keras.
Keempat, Sabdatomo, sebuah kitab yang menguraikan tentang kebaikan dan keburukan yang bersumber dari perilaku manusia. Buku ini memiliki tata kemiripan dengan analisis perkembangan masyarakat yang didesain oleh Rostow yang bersifat linier, yakni dari masyarakat tradisioonal, pra tinggal landas, tinggal landas, masyarakat dengan kedewasaan, dan akhirnya masyarakat hedonisme. Masyarakat Jawa akan mendapatkan kemakmuran manakala naluri dan sifat kebaikan melekat dalam diri mereka, namun akan menuju kea rah kehancuran manakala sifat tamak dan loba mendominasi.
Sabda jati, merupakan salah satu kitab yang membentangkan nasehat-nasehat maupun ramalan tentang proses menghadapi kematian. Tulisan ini diyakini para sejarawan sebagai tulisan paling akhir dari Ronggo Warsito. Dalam tulisan ini, wajah sufistik dari Ronggowarsito sedemikian mengedepan, kepasrahan maupun kesucian hati menjadi tema sentralnya. Manusia tatkala lahir dalam posisi suci, maka tatkala hendak kembali ke sang Pencipta, maka hendaknya manusia tersebut juga dalam kondisi suci.
Kitab Jawa Kuno yang sekarang ini juga banyak jadi referensi dalam memahami karakter Jawa adalah Serat Darmagandhul. Kitab ini difahami sebagai kitab yang penuh dengan kontroversi maupun mistik di dalamnya. Sehingga dalam upaya memahaminya diperlukan ketenangan dan kesabaran yang ekstra. Serat ini tidak bisa dibaca secara harafiah, sebab jika hanya dibaca secara harafiah justru akan melahirkan petaka.
Dalam konteks Serat Darmogandhul, terdapat tokoh Sabdo Palon yang menjadi pusat perbincangan. Perbincangan yang unik adalah tatkala harus menempatkan diri atas tradisi luar dari Jawa. Sebagai seorang yang sangat Jawa, Sabdo Palon, yang kemudian sering dinisbahkan sebagai Satrio Piningit, Semar …… ataupun nama besar lainnya, lebih memilih tetap dengan agama Jawa meskipun Sabdo Palon tahu bahwa agama non Jawa seperti Islam adalah agama yang sangat mulia dan luhur. Perdebatan ini terjadi tatkala Brawijaya akhirnya memilih masuk Islam setelah dilakukan pendekatan intensif oleh Sunan Kalijaga dan Raden Patah. Masuknya Raja Brawijaya sebagai seorang muslim inilah yang kemudian membuat Sabdo Palon kecewa.
Berikut analisis seputar statement Sabdo Palon yang dikaji dalam blog seputar serat Darmogandhul;
“Paduka sampun kêlajêng kêlorob, karsa dados jawan, irib-iriban, rêmên manut nunut-nunut, tanpa guna kula êmong, kula wirang dhatêng bumi langit, wirang momong tiyang cabluk, kula badhe pados momongan ingkang mripat satunggal, botên rêmên momong paduka. … Manawi paduka botên pitados, kang kasêbut ing pikêkah Jawi, nama Manik Maya, punika kula, ingkang jasa kawah wedang sanginggiling rêdi rêdi Mahmeru punika sadaya kula, …”
(“Paduka sudah terlanjur terperosok, mau jadi orang jawan (kehilangan jawa-nya), kearab-araban, hanya ikut-ikutan, tidak ada gunanya saya asuh, saya malu kepada bumi dan langit, malu mengasuh orang tolol, saya mau mencari asuhan yang bermata satu (memiliki prinsip/aqidah yang kuat), tidak senang mengasuh paduka. … Kalau paduka tidak percaya, yang disebut dalam ajaran Jawa, nama Manik Maya (Semar) itu saya, yang membuat kawah air panas di atas gunung itu semua adalah saya, …”)
Di samping beberapa kitab klasik yang dipaparkan di atas, terdapat sejumlah buku tentang nalar dan nilai Jawa yang ditulis oleh para budayawan dan sejarawan kontemporer. Beberapa sejarawan Jawa Modern adalah sebagai berikut;
Pertama, Dr. Purwadi. Beliau adalah seorang staf pengajar di Fakultas Ilmu Budaya UGM. Karya-karya beliau tentang tradisi dan sejarah Jawa sangatlah banyak sekali. Tidak kurang dari 20 buku yang membahas tentang seluk beluk Jawa beliau tulis. Salah satu buku fiksi yang mengkaji tentang sejarah Jawa adalah buku yang diberinya judul “Sejarah Jawa”.
Buku ini menguraikan Panji Asmara Bangun, tokoh dalam Serat Panji Asmara Bangun, menggelar kepandaian menggubah tembang, strategi berperang dan berpetualang mencari titisan istri tercintanya. Dalam Serat kuno lain di sebutkan banyaknya cara memutuskan satu perkara hukum yang sangat sukar dirasionalkan, namun sang tokoh secara teliti dan cerdas berhasil menggali dan mengumpulkan bukti lantas memutuskan perkara demi keadilan semua pihak.
Buku ini merupakan kumpulan 14 kitab kuno sastra klasik Jawa yang terdiri dari Serat Purwakandha, Serat pulo Kencana, Serat Panji Asmara Bangun, Serat Nagri Ngurawan, Serat Tawang Gantungan, Serat Niti Praja, Serat Waskithaning Nala, Serat Paniti Sastra, Serat Pamrayoga Utama, Serat Nirata Praketa, Serat Kridhamaya, Serat Niti Sruti, Serat Arjuna Wihaha, dan Serat Tripama.
Kitab Jawa ini memuat pitutur yang bijaksana, tidak saja “tentang” kehidupan melainkan juga “dengan” kehidupan kita. Kita seakan di ajak untuk menggeluti khasanah peradaban yang toleran antar sesama, sekaligus mengarungi laut kearifan lokal yang maha penting untuk diserap.
Terjemah dan tafsir dari keempatbelas kitab kuno yang termuat ditujukan bagi kita untuk tetap memandang hidup sebagai mana mestinya. Lumampah anut wirama dan nuting jaman kelakone, tidak bertindak grusa-grusu melainkan secara rasional dan ksatria dalam menjalani kehidupan dunia.
Di samping itu terdapat penulis Nasrudin Anshory, seorang budayawan yang sekarang ini mengasuh sebuah pesantren unik di Imogiri, Pesantren Giri. Tidak kurang dari 20 buku yang beliau tulis, dengan gaya tutur yang mengalir sebagaimana tulisan seorang sufi, yang membahas berbagai issue dengan alat teropong kebudayaan. Salah satu buku yang mengurai tentang nilai Jawa adalah Berguru Pada Jogja. Buku ini merupakan antologi artikel yang ditulis untuk merespon berbagai dinamika social, politik, ekonomi yang dilihat dengan perspektif Jawa atau lebih khususnya Jogja.
Otto Sukanto Cr, seorang penulis yang mencoba membedah berbagai tulisan pujangga Ronggowarsito dalam bukunya “Ramalan Ramalan Edan Ronggo Warsito”, dibahas secara komprehensif tentang latar belakang Ronggowarsito dan perjalanan spiritual maupun budaya. Di akhir bukunya, Otto Sukanto melampirkan beberapa serat Ronggo Warsito seperti Serat Jako Lodhang, Kalatidha, Sabdotomo dan Sabda Jati, yang sudah disertai dengan terjemahannya. Buku ini cukup membantu memahami nilai Jawa yang diyakini memiliki nilai adiluhung.
Tentang nalar harmoni dalam tradisi, seorang peneliti Moh. Roqib melakukan penelitian tentang dinamika interaksi antara tradisi Jawa dengan tradisi luar. Dalam penelitiannya, simpul-simpul harmoni dalam budaya Jawa tercermin dalam bahasa Jawa, teologi manunggaling kawulo lan gusti, Unggah-ungguh, Kuwalat, Mangan ora Mangan Waton kumpul, Mawa Diri, Pasrah, kerja keras, maupun dalam seni music dan nyanyian Jawa.