Terjemahan harafiah dari nilai-nilai Alon-alon waton klakon, adalah pelan-pelan asalkan bisa berjalan dan tercapai tujuannya. Nilai ini sering disalah mengerti oleh banyak kalangan dengan menjudge bahwa masyarakat Jawa adalah masyarakat pasif dan tidak memiliki need for achievement (n’ach) yang tinggi. Masyarakat Jawa bukanlah masyarakat yang progresif, tetapi masyarakat yang fatalis. Namun sejatinya nilai ini mengandung nilai principal yang unik, bahwa segala sesuatu tidak akan berhasil dengan baik jika dilakukan dengan instan, proses adalah sebuah keniscayaan, sesuatu tanpa proses sesungguhnya adalah fatamorgana belaka.
Dalam konteks pewayangan, seorang kesatria mendapatkan kapasitas, ilmu dan kesaktian tidak diperoleh secara serta merta, namun harus dilalui melalui proses kerja keras, ikhtiar, dan doa. Bagaimana seorang Werkudoro sedemikian rupa melakukan kerja keras untuk mendapatkan “air suci”, bagaimana seorang Jannako mendapatkan panah Pasopati juga dengan ikhtiar yang sangat kuat. Sedemikian rupa tergambar dalam pentas wayang, bahwa untuk mendapatkan “happy ending” dari sebuah laku kehidupan, seseorang harus mengalami berbagai macam halangan, rintangan cobaan, fitnah, karena dari sinilah berbagai pelajaran berharga seperti kedewasaan, kecerdasan, kearifan akan diperoleh. “Happy ending”hanya akan diperoleh setelah terdapat peristiwa “Goro-Goro” .
Dalam konteks seni negosiasi, proses membangun perdamaian merupakan sesuatu yang niscaya. Perdamaian bukanlah sesuatu yang bersifat “given” belaka, namun harus dilalui dengan serangkaian aktivitas yang terstruktur, rapi, terencana, dan sistematis. Konflik sejatinya adalah politik untuk saling melukai satu sama lain, konflik adalah politik untuk tidak saling mempercayai legitimasi fihak lain, sedangkan perdamaian adalah politik untuk saling menjaga satu sama lain, politik untuk saling mempercayai fihak lain. Transformasi dari saling melukai dan tidak mempercayai menjadi saling menjaga dan mempercayai adalah sesuatu yang sangat sulit, dan tidak bisa dilakukan dengan prinsip ketergesa-gesaan. Membangun perdamaian memerlukan tradisi menyemai, merawat dan baru memanen tatkala memang sudah benar-benar masak.
Aktivis perdamaian harus memiliki prinsip-prinsip kesabaran dan ketelitiaan. Kapan harus bertindak, kapan harus diam, kapan harus keras, kapan harus lembut. Masyarakat agraris Jawa sangat faham betul bahwa sebelum memanen sesuatu pasti harus diawali dengan menyemai, menanam dan merawat, maka jika ada orang yang memanen tetapi tidak diawali dengan proses menyemai, menanam dan merawat maka orang tersebut pasti sebagai seorang “pencuri”.
Negosiasi sebagai sebuah proses perdamaian, sangat mempertimbangkan aspek “ripeness” (kematangan) . Dalam pandangan Zartman, kematangan dari konflik yang akan ditreatmen dengan penyelesaian damai, berperan penting terhadap kesuksesan negosiasi dan implementasi hasil negosiasi. Fihak ketiga tidak bisa memaksakan kehendak untuk mempercepat proses pematangan konflik, sehingga proses negosiasi bisa berjalan dengan cepat. Pemaksaan terhadap derajat kematangan konflik, justru menyebabkan iritasi-iritasi yang berlebihan. Sebagaimana analog dalam dunia bisul, bahwa bisul memang bisa dimatangkan melalui perlakuan obat, namun proses peresapan obat ke dalam bisul sendiri juga memerlukan proses. Jika bisul kemudian diberi obat, lalu bisul kemudian dipencet, maka bisul juga tidak akan pecah bahkan akan timbul sakit yang amat sangat.
Apalagi dalam konflik yang bersifat primordialis, konflik yang disebabkan oleh persoalan ikatan nilai, agama, etnis, yang berkecenderungan bersifat hitam putih, memerlukan nilai kesabaran dan kehati-hatian. Kemauan untuk mendengar dan menunggu merupakan dua komponen penting yang harus diperhatikan oleh aktivis perdamaian.