Secara harafiah, ing madyo mangun karso, adalah orang yang berada di tengah harus senantiasa mengembangkan kreativitas dan kekaryaan. Dalam konteks masyarakat Jawa, masyarakat yang berada di tengah sering dilekatkan dengan komunitas birokrasi, maupun para priyayi. Kelompok ini menjadi penghubung yang efektif antara pemimpin dan rakyat, karena kemampuan mengartikulasikan kepentingan dari masyarakat, sekaligus kemampuan mensosialisasikan kebijakan para pemimpin. Kalangan ini memiliki keunikan dalam berbahasa, yang dikenal dengan tata Kromo Madya atau bahasa halus untuk kalangan menengah.
Tradisi ini banyak dieksplorasi oleh Ki Hajar Dewantara, dalam dunia pendidikan membangun kapasitas pendidikan yang lebih baik dari masyarakat Jawa. Dalam konteks trilogi pendidikan, nilai ing madyo mangun karso, banyak dijalankan oleh para guru yang berfungsi mentransformasikan ilmu kepada para siswa.
Dalam konteks resolusi konflik, kelompok tengah merupakan dari kelompok moderat. Kelompok yang bisa berfikir secara jernih untuk melihat persoalan konflik yang terjadi. Dalam kelompok inilah inisiasi perdamaian biasanya disemaikan dan ditawarkan, sehingga dalam studi resolusi konflik kelompok ini disebut sebagai kelompok merpati (doves).
Peran penting dari kelompok doves adalah mentransformasikan ide-ide perdamaian ke berbagai fihak, baik dalam kelompoknya sendiri ataupun kepada fihak lain. Ide dasar yang ditawarkan adalah perdamaian merupakan proses keseimbangan dari fihak-fihak yang berkonflik dan saling membangun kepercayaan satu sama lain. Dengan berkembangnya nilai-nilai moderat dalam masyarakat, maka proses membangun perdamaian sudah dimulai. Semakin besar pengaruh kelompok doves dalam masyarakat yang sedang berkonflik akan berkorelasi positif terhadap terbukanya jalan perdamaian. Dengan demikian nilai ing madyo mangun karso memiliki peran dalam mentransformasi perdamaian di masyarakat, sehingga tidak berlebihan jika peran transformasi yang sering dinisbahkan pada guru. Pepatah mengatakan, Guru Kencing Berdiri, Murid Kencing Berlari, atau Guru memiliki kirotobosobisa (perpanjangan makna) sebagai Yang Digugu (ditaati) lan Ditiru (ditauladani).