Terjemahan harafiah dari Ing Ngarso Sung Tulodho, adalah orang yang berada di depan (menjadi pemimpin), hendaknya memberikan contoh yang baik, karena dalam masyarakat agraris, pemimpin merupakan sumber ketauladan. Pemimpin merupakan perwakilan Tuhan di muka bumi. Nilai ini diperkenalkan ulang oleh Ki Hajar Dewantoro, salah seorang pendiri organisasi Taman Siswa di Yogyakarta, dari khasanah nilai-nilai Jawa.
Dalam tradisi Jawa, pemimpin diasumsikan sebagai representasi kehadiran Tuhan di muka bumi. Pemimpin akan menjalankan tata laku yang penuh dengan kebijaksanaan, bahkan setiap perkataan pemimpin akan menjadi hokum bagi masyarakat sebagaimana ungkapan Sabdo Pandhitaning Ratu. Setiap kebijakan pemimpin difahami sebagai amanat dari Sang Maha Pencipta. Pemimpin tidak pernah melakukan perbuatan yang sia-sia, bahkan mensengsarakan rakyat. Jikapun kebijakan pemimpin tersebut sepertinya menyengsarakan masyarakat, maka rakyat harus bersabar, karena dibalik kesengsaraan dan penderitaan tersebut terdapat kebahagiaan.
Untuk menjadi pemimpin yang baik, para pemimpin telah mengalami dan mendalami berbagai ujian hidup, sehingga setiap langkah dan kebijakannya senantiasa penuh dengan hikmah dan kebijaksanaan. Dalam konteks pewayangan, pemimpin yang bijaksana ini tergambar dalam tokoh Kresna, seorang yang cerdas dan mampu membaca tanda-tanda zaman. Kresna memiliki senjata yang sangat mashur yang dikenal dengan sejata Cakra, sebuah senjata yang bisa mendinamir perputaran waktu. Ketokohan Kresna ini, menjadi Kresna menjadi seorang penasehat utama Pandawa dalam perang Barata Yudha dengan Kurawa.
Dalam studi konflik terdapat kecenderungan besar bahwa sejatinya konflik lebih sering disebabkan oleh manipulasi dan perilaku elit untuk memperluas kekuasaannya di masyarakat. Konflik justru sebagai instrument bagi elit untuk menunjukkan pada fihak lain bahwa elit tersebut layak mendapatkan kekuasaan lebih dibandingkan dengan elit-elit yang lain. Elit justru menjadi agen konflik, bahkan provocator konflik dibandingkan sebagai agen resolusi konflik. Pendekatan yang menggunakan analisis bahwa konflik lebih disebabkan oleh tarik-menarik kekuatan elit untuk mendapatkan kekuasaan dikenal sebagai pendekatan instrumentalis.
Dalam studi kitab Negara Kertagama sudah tergambarkan dengan jelas bahwa konflik dalam kekuasaan Tumapel, Singasari, dan Majapahit, lebih disebabkan oleh perilaku elit untuk memperluas kekuasaan. Elit sedemikian rupa mendesaian sesuatu untuk melegalkan terjadinya konflik, yang dari konflik tersebut seorang elit akan mendapatkan kesempatan untuk berkuasa. Gambaran cerita Negara Kertagama juga sangat tercermin dalam konteks konflik politik kekinian, terdapat dugaan besar bahwa konflik etnis di Indonesia semenjak era reformasi justru disebabkan oleh manipulasi dari elit politik local untuk mendapatkan kekuasaan lebih tatkala terjadi kekosongan kekuasaan di daerah semenjak dirilis kebijakan desentralisasi.
Makna terpenting dari nilai Ing Ngarso Sung Tulodho menjadi sangat relevan dalam konteks partai politik, di era demokratisasi. Konflik dalam partai politik, berupa perpecahan partai, tidak terlepas dari kompetisi dan intrik dari elit politik partai untuk mendapatkan kekuasaan lebih. Ketidakberadaan keteladanan pemimpin, membuat ruang konflik dalam partai politik sedemikian besar. Adalah sangat penting bagi actor resolusi konflik, untuk membangun keteladanan sebagai modal utama untuk melakukan proses resolusi konflik.