Terjemahan sederhana dari Menang Tanpo Ngasorake adalah memenangkan proses konflik ataupun kompetisi tidak melalui upaya menghinakan fihak yang berhasil dikalahkan. Menang tidak untuk kemenangan diri sendiri, namun justru kemenangan untuk bersama. Fihak yang kalah tidak akan mengalami kerugian massif, demikian pula fihak pemenang tidak mendapatkan keuntungan mutlak.
Dalam seni pewayangan, jika seorang kestria mengalahkan fihak lain, maka ada kecenderungan tidak melahirkan tradisi “kebencian” atau dalam bahasa Jawa diungkapkan dengan istilah “musuh bebuyutan” (musuh selama-lamanya), namun justru akan menjadi kawan karib dan mitra. Fihak yang menang tidak akan mengeksploatasi terhadap fihak yang kalah.
Dalam khasanah konflik, nilai Menang Tanpo Ngasorake memiliki kedekatan makna dengan konsep non Zero Sum Game, yakni tidak ada pemenang (winner) ataupun Pecundang (losser) secara mutlak dalam konflik. Kondisi ini akan menyebabkan fihak-fihak yang berkonflik sejatinya mendapatkan mekanisme baru dalam proses memperebutkan sesuatu secara terlembaga dan jauh dari penggunaan instrument kekerasan, atau yang sering dikenal dengan konsep win-win solution.
Nilai menang tanpo ngasorake adalah sebagai antitesi dari nilai “tumpes kelor”, yakni mengalahkan musuh sekalah-kalahnya, sampai ke akar-akarnya, dengan asumsi fihak lawan adalah representasi orang jahat yang harus dibuang jauh-jauh dari masyarakat. Memang banyak sekali naskah Jawa yang menggambarkan bahwa tradisi konflik ala Ken Arok, yakni konflik yang dilakukan secara berdarah-darah, dan mengalahkan fihak lawan sekalah-kalahnya, dinyatakan sebagai nilai majoritas. Namun karya Ronggowarsito menunjukkan bahwa nilai itu hanya nilai majoritas pada era “Kolobendu”, era di mana huru-hara dan kejahatan mendominasi, namun di era “Kolosobo”, di mana ditandai dengan proses pelembagaan nilai-nilai moral menguat, kesejahteraan semakin membaik, maka nilai majoritas bukanlah tradisi kekerasan namun tradisi dialog.
Konflik dalam konteks “menang tanpo ngasorake”, menjadi sebuah nilai pendulum bagi upaya penyelesaian konflik melalui mekanisme non kekerasan. Konflik yang menggunakan instrument kekerasan fisik dan tidak dilandasi oleh aturan main yang mapan, biasanya menghasilkan pola konflik Zero Sum Game. Prinsip Menang Tanpo Ngasore, akan menyebabkan proses penyelesaian konflik tidak semata menggunakan instrument kekerasan, namun juga menggunakan instrument yang lain semisal negosiasi. Pilihan penyelesaian melalui negosiasi menjadikan kemungkinan fihak yang lemah akan cenderung memilih jalur penyelesaian konflik melalui negosiasi, karena diharapkan akan memberikan hasil yang menguntungkan daripada proses penyelesaian melalui kekerasan. Demikian juga bagi fihak yang memiliki kekuatan lebih, pilihan negosiasi juga memungkinkan proses mendapatkan sesuatu dari konflik menjadi lebih cepat dan tidak menimbulkan iritasi bagi fihak yang dikalahkan di kemudian hari. Dalam konteks negosiasi, nilai menang tanpo ngasoreke merupakan penjelasan operasional untuk Mutual Hurting Stalamate, di mana fihak yang berkonflik lebih memilih jalur negosiasi untuk bisa meminimalisir efek kerugian dari konflik.