Terjemahan bahasa Indonesia dari Ngluruk Tanpo Bolo, bermakna ketika melakukan konflik harus dilakukan secara kesatria, yakni dengan tidak memperlebar dan merumit konflik yang ada hanya untuk mencapai kemenangan. Tradisi ini banyak tercermin dalam cerita wayang bahwa konflik memang sesuatu yang hadir, atau dalam bahasa wayang adalah “Goro-Goro”, yang biasanya dilakonkan tatkala pertunjukan wayang sudah mulai berjalan setengah cerita. Dalam konteks Goro, para kesatria Pandawa, sebagai symbol kesatria yang baik, tatkala melakukan konflik, terutama dengan kalangan kejahatan (biasanya disimbolkan dengan raksasa yang tamak) atau sering disederhanakan dengan figure satria Kurawa, seringkali memilih perang tanding satu lawan satu dengan cara-cara kesatria.
Perang tanding satu lawan satu bisa dimaknai sebagai cara agar konflik tidak terekskalasi menjadi konflik yang lebih luas. Semisal konflik karena memperebutkan senjata sakti, ataupun kesatria perempuan, maka fihak-fihak yang berkonflik akan dibatasi sebagai konflik pribadi dan bukan konflik public. Cara-cara kesatria dimaknai bahwa proses mengalahkan lawan dilakukan secara fairness, dengan merujuk kepada aturan main yang telah disepakati bersama. Jika proses memperoleh kemenangan dilakukan secara tidak kesatria, maka kemenangan tersebut dianggap tidak sah dan akan menjatuhkan harkat dan martabat pribadi, keluarga, masyarakat dan kelompoknya.
Makna ngluruk tanpo bolo juga bisa difahami sebagai cara konflik yang tidak melakukan politik mobilisasi kekuatan secara penuh dan dengan proses politisasi. Yakni proses konflik dilakukan apa adanya, dengan tidak melakukan upaya menggeser issue konflik, strategi berkonflik, hanya untuk mendapatkan keuntungan yang maksimal. Masyarakat Jawa yang harmonis mengasumsikan bahwa konflik yang berlarut-larut dan melibatkan banyak fihak justru akan berdampak buruk bagi fihak-fihak yang berkonflik pada khususunya dan masyarakat pada umumnya.
Proses konflik yang dilakukan dengan cara mempolitisasi sesuatu, yakni mencoba mengkait-kaitkan sesuatu yang sebelumnya tak berhubungan langsung, dan didesain sedemikian rupa seakan-akan berhubungan langsung. Atau konflik yang sebelumnya adalah konflik politik yang berkait erat dengan persoalan ekonomi dan kekuasaan kemudian dijadikan issue konflik moral, agama, sebagai cara untuk mendapatkan legitimasi untuk menjadikan konflik menjadi issue public yang substantive. Cara berkonflik dengan model mobilisasi dan politisasi sangat ditolak dalam nilai Ngluruk Tanpo Bolo.
Signifikansi nilai Ngluruk Tanpo Bolo sebagai nilai resolusi konflik adalah tidak terjadinya perluasan (ekstensifikasi) maupun kerumitan (intensifikasi) dari konflik. Jika fihak-fihak yang berkonflik menganut nilai ini, maka konflik akan berjalan secara alamiah, dalam arti akan berjalan sesuai dengan aturan main yang disepakati bersama, sehingga konflik akan memicu tradisi berkompetisi secara sehat, tidak destruktif, bahkan menjadi media bagi pembangunan nilai produktivitas.