Terjemahan harafiah dari Ngono Yo Ngono Ning Ngono, begitu ya begitu, namun jangan yang begitu. Nilai ini menggambarkan bahwa dalam konflik hendak melakukan pemilahan secara seksama, mana yang mungkin untuk dilakukan mana yang tidak elok untuk dilakukan. Nilai ini juga mengandung unsure untuk memoderasi konflik, sehingga pilihan berkonflik jangan sampai membuat kedua belah fihak yang berkonflik dalam posisi diametral, hitam putih.
Nilai Ngono Yo Ngono Ning Ojo Ngono, seringkali tergambarkan dalam dunia wayang, dalam figur Janoko (Arjuna). Jannako merupakan anak nomor 3 dari putra Pandu Dewanata, yang memili watak yang sangat moderat. Bahkan karena kemampuan melakukan komunikasi yang persuasif dengan siapa saja membuat Jannako memiliki hubungan yang sangat erat dengan siapa saja, termasuk di dalamnya adalah perempuan. Dalam konteks wayang, Jannako adalah seorang kesatria yang diidolakan oleh para wanita. Bukan hanya itu, Jannoko juga mendapatkan berbagai pengetahuan maupun ilmu kekuatan dari berbagai guru, sehingga Jannoko dikenal sebagai seorang kesatria yang rupawan dalam segala hal.
Gambaran sikap untuk melihat konflik secara moderat, merupakan salah satu nilai yang substantif dari resolusi konflik. Kondisi ini memungkinkan dinamika konflik tidak mengarah kepada penggunaan instrument kekerasan dalam konflik, sekaligus memungkinkan peluang penyelesaian konflik dengan menggunakan cara-cara damai seperti negosiasi. Dalam banyak studi konflik, jika dalam masyarakat terdapat sekelompok orang yang memiliki cara pandang yang moderat terhadap konflik, maka proses resolusi konflik akan mampu berjalan dengan baik. Kelompok inilah yang sering dikenal dengan kelompok Merpati (Doves), yakni kelompok yang memberikan apresiasi yang positif terhadap proses penyelesaian konflik secara damai.