Terjemahan harafiah dari Wani Ngalah Dhuwur Wekasane adalah Berani Mengalah, justru Akan Mendapatkan Sesuatu Yang Lebih Sesudahnya. Nilai ini menunjukkan bahwa mengalah bukan berarti kalah, namun justru dengan mengalah menunjukkan bahwa seseorang tersebut memiliki kebesaran hati, sebagai sifat dan watak seorang pemenang.
Gambaran nilai ini tercermin dalam tokoh pewayangan dari kesatria Pandawa, Yudistira. Yudistira adalah anak pertama dari Puntadewa yang memiliki watak yang sangat halus. Dari penampakan luar, Yudistira adalah seorang kesatria yang sangat lugu, serta memiliki sikap untuk mengalah terhadap musuh sekalipun. Yudistira juga terkesan tidak memiliki kekuatan ataupun kesaktian, sebagaimana halnya tercermin dalam tokoh Werkudoro, Arjuna, maupun Nakula dan Sadewa.
Namun, dari sisi inilah seorang Yudistira menjadi seorang kesatria pilih tanding dalam konteks perang Baratayudha, antara Pandawa dan Kurawa. Suatu ketika, di penghujung akhir perang Baratayudha, setelah hampir semua kesatria Kurawa meninggal dunia dalam perang, maka ada kesatria sepuh dari Kurawa yang sebelumnya tak mau berperang dengan para Pandawa, namun karena alasan patriotic, maka tampillah Prabu Salya. Seorang kesatria yang memiliki kesaktian sangat luar biasa. Setiap darah prabu Salya keluar, maka akan menjelma prabu-prabu Salya baru dengan kekuatan yang sama. Hampir semua kesatria Pandawa dibuat putus ada, sehingga Kresna membujuk Yudistira untuk maju berperang untuk menghadapi Prabu Salya. Tatkala bertemu dengan Prabu Salya, Yudistira tidak tega melepaskan anak panah ke tubuh Prabu Salya dan justru malah melepaskan anak panah ke arah tanah. Namun justru dengan anak panah yang menyentuh tanah inilah kemudian Yudistira mampu mengalahkan Prabu Salya.
Dalam konteks resolusi konflik, proses penyelesaian masalah justru akan bisa digali manakala ada fihak yang berkonflik mau menurunkan derajat tuntutan atau bahkan mengalah dengan memberikan konsesi bagi pihak lain untuk mendapat mendapatkan konsesi yang lebih. Konsep yang demikian dikenal dengan strategi Yielding, di mana fihak yang berkonflik membuka proses negosiasi dengan memberikan kesempatan fihak lain mendapatkan konsesi terlebih dahulu, sehingga pada akhirnya pembicaraan tentang konflik yang sebelum direpresentasikan dengan penggunaan kekerasan berubah dengan instrument dialog.
Strategi Yielding dalam proses negosiasi sedemikian substantif untuk membuka kebuntuan konflik. Strategi yielding memang membutuhkan kedewasaan politik dan budaya, sebab ada kecenderungan yang menafsirkan mengalah sebagai bentuk negosiasi yang lembek, yang memungkinkan fihak lawan justru semakin menekan dan meminta konsesi yang tidak proporsional. Seperti halnya pepatah Jawa mengatakan, “dikhei ati ngrogoh rempelo” (diberi hati namun malah minta lebih, yakni meminta jantung). Tanpa kedewasaan dan kemampuan berkomunikasi yang baik dengan fihak internal maupun eksternal, strategi Yielding sering dianggap kontraproduktif.