Model penyelesaian konflik politik melalui media dialog dalam pandangan responden sedemikian rupa penting yang tercermin dari lebih dari 95% responden persetujuaannya. Dalam konteks ini bisa dimaknai bahwa politik di Yogyakarta lebih difahami sebagai politik harmoni dibandingkan konflik. Hal ini juga terdukung dalam pelaksanaan FGD, semua peserta FGD menyatakan model penyelesaian konflik melalui dialog adalah model yang paling idial, sebagaimana nilai Nek Ono Rembug Yo dirembug, lan ojo Sak Geleme Dhewe.
Bahkan seorang politisi Golkar Yogyakarta yang berasal dari Flores menyatakan bahwa tatkala ia perpolitik dengan menggunakan nilai Jawa, maka ia merasa senantiasa kompetitif dalam bersaing dengan partai politik selain Golkar, maupun kader muda Golkar lainnya. Nilai Nek Ono Rembug Yo Dirembug, Lan Ojo Sak Geleme Dhewe, dalam pandangan John Kaban sangat tercermin dalam dialektika perundangan-undangan keistimewaan Jogja yang membuat banyak fihak ingin menggunakan jalur non dialog, namun akhirnya banyak politisi di Jogja dalam merespon UU Keistimewaan lebih memilih cara dialog daripada kekerasan.