Sama halnya dengan pengetahuan tentang Kitab Jawa, sebagian besar responden 42% menyatakan tidak tahu. Sedang yang menyatakan tahu dan sangat tahu hanya sekitar 37%, dan 21% menyatakan hanya sekedar mengetahui di permukaan. Gaya konflik yang dimaksud dalam kitab Jawa, sebenarnya tercerminkan dalam konteks huruf-huruf Jawa, Ha Na Ca Ra Ka, Da Ta Sa Wa La, Po Dho Jo Yo Yo, Mo Go Bo Tho Ngo. Ataupun beberapa gaya konflik yang ditampilkan dalam beberapa setting wayang, apakah gaya Yudistira, Werkudoro, Jannoko, Nakula Sadewa, Resi Bisma, Resi Durna, Kresna, Wibisana, Anoman, Rama, Satrio Pingit ataupun para kesatria dari negeri Barata lainnya.
Diagram

Sumber: Data Primer
Memang tidak banyak buku yang langsung membahas gaya konflik orang Jawa, namun terdapat beberapa idiom-idiom yang beraroma konfrontasi terkait dengan konflik seperti “Uncali Sikil”, sebuah gaya konflik dari Werkudoro, Ajur Sewalang-Walang, Rawe-Rawe rantas, malang-malang putung, tumpes kelor, ojo takon doso ataupun idiom yang beraroma akomodatif wani nglah dhuwur wekasane, Ngono Yo Ngono Ning Ojo Ngono. Nek Ono rembug yo dirembug lan ojo sak karepe dhewe. Idiom-idiom tersebut seringkali ditemukan dalam pilihan kalimat yang dipilih oleh para dhalang atau pelaku dari pentas ketoprak.