Dalam sub bab ini akan dianalisis seputar pengetahuan para aktivis partai politik terhadap 10 nilai yang telah dipilih peneliti dari beberapa kitab Jawa, maupun yang disarankan peserta FGD. Analisis ini dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan aktivis partai politik terhadap nilai Jawa yang bisa dikembangkan sebagai nilai resolusi konflik, dan bagaimana para aktivis partai politik dalam mengartikulasikan nilai tersebut apakah secara sadar ataupun tidak. Hal ini terungkap dalam FGD bahwa banyak aktivis partai politik mengartikulasikan nilai-nilai resolusi konflik yang berbasis nilai Jawa, meskipun sebenarnya ia tidak tahu persis akan makna nilai tersebut. Atau bahkan terdapat aktivis partai politik yang kebetulan tidak memiliki latar belakang darah Jawa, namun karena memiliki pengalaman pendidikan di Yogyakarta, sehingga mengartikulasikan gaya politik dengan aksentuasi Jawa.
1. Pengetahuan terhadap Kitab-kitab Jawa
Yang dimaksud dengan mengetahui kitab-kitab Jawa adalah bisa menyebutkan minimal 5 kitab Jawa secara acak. Dalam penelitian ini terdpat kurang lebih 20 kitab yang membahas tentang nilai Jawa, baik dalam konteks Kitab Klasik ataupun ulasan tentang kitab klasik dari para penulis maupun budayawan di Yogyakarta.
Diagram

Sumber: Data Primer

Ada temuan menarik dari survai ini bahwa hanya ada sekitar 24% responden yang mengetahui keberadaan kitab-kitab Jawa yang adiluhung. Yang sangat tahu hanya sekitar 4%. Fenomena ini semakin membenarkan pandangan dari Nasrudin Anshory yang menyatakan banyak orang Jawa semakin tidak “Jawani”, semakin tercerabut identitas kulturalnya. Partai politik sebagai salah satu pilar masyarakat dalam bangunan kekuasaan, tampaknya lebih akrab dengan buku-buku politik kontemporer, yang seringkali bersumberkan dari nilai-nilai asing, semisal Yunani, Barat, Cina maupun Arab. Ada sekitar 48% dari responden menyatakan tidak tahu secara persis keberadaan kitab-kitab Jawa, dan sekitar 28% menyatakan antara tahu dan tidak tahu.
Alasan ketidaktahuan ataupun ketidakpekaan terhadap kitab Jawa, terutama yang klasik, sangat bisa difahami karena lebih pada persoalan ketersediaan kita tersebut dalam jumlah yang memadai dan mudah diakses. Meskipun di Yogyakarta merupakan salah satu representasi kota budaya, bukanlah jaminan bahwa kitab-kitab klasik Jawa bisa diakses dengan mudah. Dalam FGD terungkap bahwa pengetahuan tentang nilai Jawa bukanlah diperoleh dengan membaca secara langsung terhadap kitab-kitab tersebut. Nama-nama kitab justru hanya diperoleh dari pelajaran sejarah tatkala di sekolah, dan tidak pernah memegang kitab Jawa yang dimaksud. Bahkan salah seorang peserta FGD mengatakan bahwa ada fakta dalam sejarah kelahiran kabupaten tertentu, perlu dikaji ulang apakah sudah benar-benar betul atau hanya dugaan.
28% responden yang menyatakan mengetahui keberadaan kitab Jawa secara biasa-biasa saja, dimaknai sebagai kondisi responden tidak begitu menyakini keberadaan kitab-kitab tersebut. Apakah kitab tersebut memang sebagai kitab yang berurat-berakar dari pengalaman para pujangga Jawa, ataukah hanya saduran dari kitab di Negara lain, atau bahkan hanya fiksi semata yang sulit dilacak kebenaraannya. Apakah memang kitab tersebut memang Kitab Jawa atau yang hanya di Jawa-Jawakan.