Proses penyelesaian konflik melalui media kekerasan didefinisikan sebagai bentuk penyelesaian dengan menggunakan kekerasan fisik maupun ancaman-ancaman verbal terhadap fihak-fihak yang bersengketa. Politik sejatinya sebagai mekanisme pengaturan sumberdaya dan kepentingan dengan menggunakan cara-cara damai. Namun, dalam konteks tertentu politik juga sering difahami sebagai fenomena politicking, yakni bagaimana mendapatkan sesuatu dengan cara memarginalkan fihak lain.
Bagaimana pandangan aktivis partai politik di Yogyakarta? Dalam diagram berikut bisa dibaca beberapa hal terkait dengan penggunaan instrument kekerasan sebagai media penyelesaian konflik.
Diagram

Sumber: Data Primer
Dari diagram di atas tercermin bahwa adalah sekitar lebih dari 90% responden menyatakan bahwa penggunaan kekerasan sebagai media penyelesaian konflik ada sesuatu yang tidak berguna. Konflik Politik merupakan sesuatu yang lumrah dalam partai politik, namun penggunaan kekerasan adalah sesuatu yang tidak lumrah, bahkan harus dijauhi bersama. Argumen dasar yang dikembangkan oleh kelompok ini adalah kekerasan justru akan menambah masalah. Kekerasan justru akan melahirkan kekerasan baru, sebagaimana efek spiral kekerasan.
Namun ada sekitar 10% responden yang menyatakan bahwa kekerasan sebagai media penyelesaian konflik adalah biasa, bahkan sangat penting. Dalam FGD terungkap bahwa penggunaan kekerasan dalam penyelesaian konflik politik sekarang ini termasuk pandangan yang minor, namun dalam batas tertentu pandangan ini masih eksis. Argumen dasar yang dikembangkan adalah kekerasan bisa difahami sebagai bentuk terapi kejut dan punishment sehingga tidak menggunakan instrument kekerasan untuk memperjuangkan politik. Cara ini juga digunakan sebagai sarana mendisiplinkan partai politik