Analisis ini dikembangkan dari temuan hasil survai yang kemudian dieksplorasi dalam forum FGD, dan ditambah dengan melakukan wawancara kepada pakar yang memiliki kajian studi tentang studi Jawa.
Secara umum, responden melihat bahwa 10 nilai Jawa dalam penelitian ini memiliki relevansi untuk diterapkan dalam konteks penyelesaian beragam konflik politik, baik di tingkat local maupun nasional. Hal ini tercermin pandangan responden yang menyatakan bahwa 66% responden sepakat bahwa nilai Javanesse Wisdom memiliki relevansi yang tinggi. Alasan utama dari pandangan ini adalah Desa Mowo Toto Mowo Coro (masyarakat itu diatur dengan aturan tertentu dan cara tertentu). Berpolitik dengan menggunakan nilai tradisional, akan mudah difahami oleh para konstituen dan dapat menghindari kemungkinan distorsi pemahaman atau makna.
Sedangkan ada sekitar 31% responden yang menyatakan bahwa relevansi nilai Javanesse Wisdom sebagai nilai Jawa hanya biasa-biasa saja. Argumentasi dasar pandangan ini adalah bahwa setting masyarakat di Jawa atau di Jogja pada khususnya, tidak bisa digeneralisir sebagai masyarakat agraris yang mengedepankan prinsip harmoni. Masyarakat di Jogja telah tumbuh menjadi masyarakat yang plural, sehingga terlalu mengagungkan nilai Jawa tanpa reserve justru akan menimbulkan penyakit chauvinism yang bisa menimbulkan ketidaknyamanan dari konstituen politik yang mungkin tidak memiliki geneologis Jawa, namun sudah menjadi penduduk Jawa atau Jogja secara permanen. Diperlukan adaptasi ulang nilai Javanesse Wisdom tersebut untuk kemudian bisa diaktual secara baik.

Diagram

Sumber: Data Primer

Hanya sekitar 3% responden yang menyatakan bahwa nilai Javanesse Wisdom tidak relevan untuk digunakan sebagai nilai-nilai resolusi konflik dalam politik. Alasan utama tidak relevannya nilai Jawa sebagai nilai resolusi konflik adalah pemaknaan terhadap nilai Jawa yang cenderung bersifat fatalistik. Semisal nilai, Alon-alon waton klakon, banyak difahami sebagai nilai yang tidak progresif, dan bahkan fatalis. Ataupun nilai mangan ora mangan waton kumpul, juga sering disalah mengerti oleh orang Jawa yang sudah tidak Jawani atau orang luar Jawa yang tidak kenal Jawa.