Nilai menang tanpo Ngasore dimaknai sebagai mengalahkan fihak lain tanpa membuat fihak yang dikalahkan dipermalukan di depan public. Proses kemenangan dilakukan melalui kompetisi yang fair, sesuai dengan kesepakatan yang disepakati bersama. Dalam survai ditemukan bahwa nilai ini memiliki relevansi yang tinggi sebagai nilai resolusi konflik, bahkan lebih besar dibandingkan dengan nilai Ngluruk Tanpo Bolo. Dalam konteks studi resolusi, prinsip ini memiliki keterdekatan dengan prinsip non zero sum game, di mana fihak-fihak yang berkonflik tidak memperoleh kemenangan secara mutlak ataupun kalah secara mutlak, atau kemenangan diperoleh secara fairness, sehingga yang kalah dan menang tidak saling mengeksploatasi.

Diagram

Sumber: Data Primer
Dalam diagram di atas tercermin bahwa sebagian besar responden menyatakan bahwa nilai Menang Tanpo Ngasore sedemikian relevan, bahkan lebih tinggi relevansinya (74%) dibandingkan dengan nilai Ngluruk Tanpo Bolo (72%). Tingginya relevansi nilai ini berangkat dari pandangan bahwa memenangkan sesuatu dengan cara mengiritasi fihak yang kalah justru akan membuat kemenangan tersebut menjadi minor. Menempatkan kompetitor politik sebagai “musuh” secara absolut justru malah menjebak langkah-langkah politik. Adagium politik yang menyatakan bahwa tidak ada musuh dan kawan yang sejati, yang ada hanyalah kepentingan yang abadi.
Sedangkan terdapat sekitar 18% yang menyatakan derajat relevansi nilai ini biasa-biasa saja. Pandangan ini didasarkan pada kenyataan bahwa nilai ini bukanlah nilai yang spesial, karena sesungguhnya dalam politik terutama dalam konteks persaingan dalam internal partai politik, justru nilai ini jarang sekali dipergunakan. Lebih-lebih dalam konteks penentuan daftar urutan caleg yang berbasis suara terbanyak, justru masing-masih caleg saling menjatuhkan satu sama lain. Kecenderungan ini dalam pandangan Suharwanto terjadi karena terjadi pergeseran kompetisi dari lintas partai ke dalam internal partai dengan memperebutkan konstituen yang sama. Konteks menang tanpo ngasore justru akan sangat relevan untuk membangun dinamika konflik dalam demokrasi, di luar ruang kompetisi untuk rekruitmen.