Sebagaimana yang sudah dipaparkan di awal bab ini, nilai Ngluruk tanpa bolo, dimaknai sebagai upaya melakukan konflik dengan fihak dengan tidak melakukan mobilisasi kekuatan secara tidak terukur. Segala sesuatu harus diperoleh secara kesatria. Dalam pandangan responden tercermin bahwa nilai ngluruk tanpo bolo diyakini memiliki relevansi yang tinggi. Terdapat sekitar 62% responden menyatakan bahwa nilai ini memang layak untuk difahami dan dipraktekan dalam ragam kehidupan, tidak terkecuali dalam konflik politik. Argumentasi dasar dari pandangan ini adalah nilai sebagai bagian dari upaya mengurangi intensitas konflik maupun perluasan konflik. Konflik yang lebih focus dan tidak tersebar akan memungkinkan proses mencari solusi alternative bagi penyelesaian konflik menjadi lebih terbuka. Dalam Nilai ini terkandung pesan, bahwa dalam konflikpun juga harus taat asas atau aturan. Segala sesuatu termasuk di dalamnya konflik, jika dilakukan dengan prinsip kesatria akan menghasilkan hasil yang baik.
Diagram

Sumber: Data Primer

Pada sisi yang lain, terdapat sekitar 23% yang menyatakan bahwa relevansi nilai ini dalam kategori biasa-biasa saja. Derajat relevansinya sangat tergantung oleh kebutuhan aktor yang berkonflik ataupun derajat konflik itu sendiri. Dalam konteks politik di Yogyakarta akhir-akhir ini, para elit politik Jogjapun dalam berkonflik dengan pemerintah Pusat juga melakukan politik mobilisasi dalam bentuk deklarasi atau pasewakan agung. Forum-forum pengerahan masa, justru banyak dilakukan para elit politik untuk melakukan show of force. Show of force ini diharapkan dapat merubah opini dan kebijakan pemerintah pusat terhadap status keistimewaa di Jogja dan kraton pada umumnya, dan elit politik pada khususnya.