Nilai sepi ing pamrih rame ing gawe dimaknai sebagai sikap untuk tidak menunjukan intensi (niat atau pamrih) politik dalam melakukan sesuatu, namun lebih mengedepankan prinsip-prinsip kerja. Nilai ini dalam konteks tata kepemimpinan organisasi sebagai cerminan sikap kedewasaan kepribadian, sebuah sikap untuk tidak sombong, angkuh maupun riya. Karena justru dengan sikap sombong, atau adigang adigung adiguna justru akan membuat prestasi kerja seseorang justru semakin tak berarti.
Diagram

Sumber: Data Primer
Dalam diagram di atas tercermin bahwa responden menganggap bahwa nilai ini memiliki relevansi yang tinggi (59%) dibandingkan dengan nilai wani ngalah dhuwur wekasane. Nilai ini juga dianggap responden lebih realistis dibandingkan dengan nilai wani ngalah dhuwur wekasane yang seringkali mengalami makna yang tidak tepat atau pejoratif. Nilai untuk bekerja keras sebaik-baiknya, difahami oleh responden akan sangat berarti bagi terselesaikannya konflik politik. Konflik harus diurai satu per satu, sehingga akan terkonfigurasi secara jelas peta konflik sesungguhnya. Dalam konteks politik di Yogyakarta, terkait dengan masalah posisi keistimewaan , akan bisa terselesaikan secara baik dan elegan manakala fihak-fihak yang berkonflik maupun aktor yang memediasinya secara serius melakukan ikhtiar untuk mencari jalan yang terbaik, bukan mencari keuntungannya sendiri-sendiri.
Dari diagram ini tercermin bahwa relevansi nilai Sepi Ing Pamrih Rame Ing Gawe mencapai hampir 59%. Relevansi nilai ini dibandingkan dengan nilai Wani Ngalah Dhuwur Wekasane relative lebih rendah. Argumentasi besar dari pandangan bahwa Sepi Ing Pamrih Rame Ing Gawe relevan adalah bahwa nilai ini akan membuat politik semata-mata tidak difahami sebagai gejala transaksional atau dagang sapi kekuasaan. Jika fenomena politik lebih difahami sebagai fenomena ini, maka moralitas politik akan tergerus. Politik bukanlah semata-mata untuk mendapatkan kekuasaan, namun juga untuk mendapatkan kemuliaan di mata konstituen. Dalam FGD terungkap bahwa banyak partai politik seringkali menunjukan ketulusan dalam memperjuangkan kepentingan rakyat, tatkala partai politik tersebut tidak mengalami dilemma-dilema kekuasaan. Kata-kata manis biasanya mengalir pada waktu kampanye, namun tatkala harus mengeksekusi kebijakan, kata-kata manis dalam kampanye sering terlupakan.
Terdapat sekitar 20% responden menyatakan bahwa nilai Sepi Ing pamrih Rame Ing Gawe sebagai nilai yang tidak relevan dalam diskursus konflik partai politik. Politik sebagai fenomena kekuasaan yang selama ini didefinisikan oleh partai politik sebagai sesuatu yang “penuh dengan pamrih” maupun kepentingan. Sehingga tidak ada yang gratis dalam politik, “no free for lunch”. Politik justru menunjukkan dinamika, jika actor-aktor politik dapat mengartikulasikan politik kepentingan secara terbuka dan dipertukarkan