Wani ngalah dhuwur wekasane dimaknai sebagai sikap untuk mencoba mengalah guna memberikan kesempatan bagi fihak lain untuk mendapatkan sesuatu, dan memungkinkan di waktu berikutnya kita mendapatkan sesuatu yang lebih banyak. Nilai ini dalam konteks politik seringkali dianggap absurd. Dalam kompetisi tak ada kata “mengalah”, bahkan dalam konteks kompetisi olah raga, niat baik sebuah tim untuk mengalah karena sudah menduduki posisi aman dengan memberikan kesempatan pada fihak lawan untuk memenangkan pertandingan untuk mendapatkan kesempatan maju dalam pertandingan berikutnya justru dianggap permainan culas. Politik adalah arena pertarungan yang sangat ketat, mengalah berarti akan kalah. Sehingga bukanlah kemusykilan jika kemudian seorang actor politik yang mencoba mengalah justru akan mendapatkan kemalangan secara beruntun, seperti ungkapan antisepsis dari nilai ini, wani ngalah dhuwur rekasane.
Bagaimana pandangan responden menyikapi nilai ini dalam konteks resolusi konflik. Diagram di bawah akan memberikan informasi bagaimana para aktivis partai politik di Yogyakarta memaknainya.
Diagram

Sumber: Data Primer
Dalam diagram tersebut tergambar bahwa aktivis partai politik di Jawa menyakini bahwa nilai Javanesse wisdom, wani ngalah dhuwur wekasane, memiliki relevansi yang tinggi sebagai nilai resolusi konflik sebesar 56%. Nilai ini dianggap efektif dalam menyelesaikan konflik yang terkait dengan issue-issue yang tidak bersifat transaksional. Namun ada sekitar 27% responden yang menyatakan bahwa relevansi nilai wani ngalah dhuwur wekasane memiliki derajat relevansi yang biasa saja, bahkan ada sekitar 17% menganggap nilai ini tidak relevan.
Dalam FGD ditemukan bahwa relevansi nilai Wani Ngalah Dhuwur Wekasane terletak pada kemampuan untuk mengendalikan diri dalam konfliik, sehingga konflik tidak akan berekskalasi secara tidak beraturan. Namun kelompok yang memandang relevansi nilai ini rendah, lebih didasarkan argumentasi bahwa “mengalah” dalam politik adalah sebuah tindakan yang naif sehingga kemungkinan kompetitor politiknya akan “glunjak” (meminta lebih dari yang seharusnya diperoleh). Sehingga muncul pemeo yang menyatakan bahwa “wani ngalah dhuwur rekasane” (jika berani mengalah maka justru akan mendapatkan kerugian yang lebih banyak).
Aktivis dari partai-partai besar berkecenderungan tidak menerapkan nilai ini, karena dianggap justru akan berpotensi mengurangi perolehan politik. Namun nilai ini sering dipakai oleh partai politik menengah, untuk memperoleh ruang bisa berkomunikasi dengan partai-partai besar. Dalam konteks studi negosiasi, pilihan partai-partai menengah menggunakan nilai ini merupakan cerminan strategi “Yielding”, sedangkan pilihan untuk tidak menggunakan nilai ini sebagai cerminan strategi “Contending”.