Terjemahan harafiah dari sepi ing pamrih, rame ing gawe adalah ketika menjalankan sesuatu terbebas dari keinginan-keinginan individual yang tersembunyi, dan beriktiar bekerja sebaik-baiknya dan seprofesional mungkin. Nilai ini sejatinya menunjukkan bahwa masyarakat Jawa adalah masyarakat agraris yang kosmopolit, masyarakat yang sangat menghargai kerja keras, pantang menyerah, dan tidak menunjukkan kepentingan pribadi yang malah akan merusak karya tersebut.
Dalam konsep pewayangan, nalar ini dilakonkan dalam pribadi-pribadi para Punokawan, yang mau berkarya dengan sebaik-baiknya demi harapan kehidupan yang lebih baik di masa depan. Para Punokawan, yakni Semar, Gareng, Petruk, Bagong. Tokoh Punokawan ini, sering terepresentasi sebagai para abdi (pembantu) Bahkan dalam kalangan Kejawen, memandang bahwa figur Ponokowan sesungguhnya seorang “Kesatria Sejati”, yang merelakan dirinya untuk menjadi “Batur” atau Pembantu demi kebaikan masyarakat.
Dalam konteks negosiasi, nilai sepi ing pamrih, rame ing gawe, memiliki relevansi yang tinggi dengan peran seorang mediator, ataupun fihak ketiga. Keterlibatan fihak ketiga tanpa didukung oleh kapasitas dan netralitas, justru menimbulkan beban dan masalah yang malah memperpelik konflik. Problem yang paling serius terkait dengan kehadiran fihak ketiga adalah issue intervensi dan provokasi . Issue intervensi terkait dengan kecenderungan campur tangan fihak lain, yang kemudian akan menganggu ruang kedaulatan (souvereignity) masyarakat yang sedang berkonflik. Banyak kalangan yang berkonflik bahkan memandang lebih baik konflik terus berlangsung tetapi tidak terjadi intervensi terhadap kedaulatan. Problem provokasi terkait dengan peran mediator yang justru menggail di air keruh, otoritas yang dimiliki untuk mendamaikan justru dipergunakan untuk kepentingan transaksional, sehingga konsesi yang harus dibagi antara fihak yang berkonflik, harus juga dibagi dengan fihak mediator. Kehadiran fihak ketika dalam konteks provocator justru akan memperparah dan menyebabkan pola ekskalasi konflik menjadi tidak terarah bahkan absurd.
Dalam konteks mediasi, nilai sepi ing pamrih, rame ing gawe, sedemikian rupa substantive bagi penyelesaian konflik. Mediator yang mampu menunjukkan kerja professional dan mengedepankan prinsip netralitas, akan sangat dihormati oleh fihak-fihak yang berkonflik, sehingga saran-nasehat dari mediator tidak diprasangkai secara berlebihan oleh fihak yang bertikai. Road map perdamaian yang dibuat oleh fihak ketigapun biasanya akan diterima dan diimplementasikan. juga